My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 50. Bertemu Mertua



" Awas, nanti akan ku balas kamu."


" laah abang yang mulai duluan."


Keduanya terlihat sedang menikmati makan siang yang terlambat. Masih sambil membahas kejadian yang mereka alami beberapa saat tadi.


Andra tampaknya masih sedikit tidak terima dikerjai oleh istrinya. Meskipun ia cukup tahu bahwa dia yang sebenarnya memulai lebih dulu. Tapi tetap saja Andra merasa penasaran, mengapa Zanita bisa seberani itu.


Baiklah, kali ini gue lepasin. Awas saja nanti gua makan hingga kenyang.


Seringai terbit dari bibir Andra. Zanita yang melihat pun sedikit bergidik ngeri.


" Abang jangan mikir yang macem-macem lho."


" Nggak ada ya, cuma satu macem aja kok."


Andra menanggapi ucapan Zanita dengan menaik turunkan alisnya membuat Zanita curiga dnegan tingkah absurd aang suami. Tampaknya hubungan keduanya mulai mencair dan tidak kaku. Sebenarnya Zanita lah yang merasa begitu. Karena baik Andra sendiri sangat fleksibel dengan hubungan ini.


" Terimakasih bang sudah memasak. Kenapa nggak bangunin aku."


Zanita merasa tidak enak membiarkan Andra melakukan pekerjaan dapur sendiri tadi. Ia meminta maaf karena dia bangun terlambat sehingga membuat Andra harus melakukannya sendiri


" Tidak apa-apa Za. Lagi pula aku udah biasa melakukannya sendiri juga sebelum kamu datang ke sini. Oh iya Za, mau berkunjung ke rumah bapak ibu? Setelah kita menikah kita belum sempat mengunjungi mereka."


" Ehmm, boleh deh bang. Setelah membereskan ini kita langsung aja ke rumah bapak dan ibu."


Andra mengangguk. 2 minggu menikah, mereka belum berkunjung ke rumah orang tua. Rasanya ada sesuatu yang kurang.


Setelah 15 menit mereka berdua membereskan meja makan. Baik Andra dan Zanita kembali masuk ke kamar untuk bersiap. Tidak membawa apa-apa hanya mengambil ponsel dan dompet yang biasa dibawa orang kalau ingin pergi.


" Za, apa mau beli sesuatu buat bapak dan ibu."


" Apa ya bang, nggak usah lah."


Andra mengangguk mengerti. Ia sebenarnya tidak nyaman jika mengunjungi mertuanya dengan tangan kosong. Tapi Za mengatakan tidak perlu. Kata Za mereka berkunjung saja sudah membuat kedua orang tuanya senang.


Selama perjalanan Andra banyak bertanya mengenai keluarga sang istri. Bagaimanapun juga dia belum tahu banyak mengenai keluarga istrinya. Andra sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Zanita memiliki seorang kakak namun sudah meninggal. Ia juga baru tahu rupanya Zanita phobia dnegan rumah sakit.


" Apakah setakut itu?"


" Sebenarnya jika melihat dari luar aku nggak takut bang. Tapi saat mulai masuk ke dalam. Melihat orang berlalu lalang dna mencium bau khas rumah sakit, disitulah aku ngerasa dadaku sesak dan tangan berkeringat dingin.


" Kenapa bisa begitu?"


Andra tentu heran mendengar cerita Zanita mengenai ketakutannya terhadap rumah sakit. Istrinya itu lalu menjelaskan. Saat dia kecil dulu dia sering ke rumah sakiy untuk ikut bapak dan ibu karena sang kakak bolak balik ke tempat tersebut. Kakaknya memiliki penyakit jantung bawaan. Tadinya Zanita tidak takut, dia enjoy saja di sana. Hingga sebuah kejadian membuatnya takut yakni kakaknya meninggal.


Saat itu ia melihat sang kakak tiba-tiba kejang. Banyak dokter yang menerobos masuk berlarian. Saat itulah suasana rumah sakit seperti kacau di pandangan Zanita. Rasa takut itu mulai menggelayut menjalar melalui mata dan hingga ke tubuh.


Andra mendengarkan cerita Zanita dengan seksama. Hingga ia mengambil kesimpulan bahwa mengalami sebuah trauma. Dimana trauma itu mengakibatkan ia menjadikan takut akan sebuah hal dan disini adalah rumah sakit.


" Tidak apa-apa. Setiap orang memiliki ketakutannya tersendiri terhadap suatu hal. Tapi kamu harus melawannya. Kamu tidak bisa larut terus dalma ketakutan."


Zanita sesaat terdiam. Apa yang dikatakan Andra ada benarnya juga. Ia tidak boleh terus-menerus takut. Sudah belasan tahun dia mengalami itu. Satu hal yang ia kembali ingat, karena ketakutannya itu saat ibu nya dirawat di rumah sakit, Zanita sama sekali tidak menemui ibunya. Bukan tidak berbakti tapi rasa takut itu benar-benar mengalahkan segalanya.


" Jangan dipikirkan, nanti kita belajar pelan-pelan. Kamu tahu nggak, aku juga punya rasa takut."


" Apa itu?"


Bluss


Wajah Zanita bersemu merah mendengar gombalan Andra. Gadis itu seketika mengalihkan pandangannya ke luar agar Andra tidak melihat wajahnya yang merona.


Alamaaak, kenapa gue bisa segombal ini sih.


Andra sendiri heran kepada dirinya. Seumur-umur mana pernah dia mengucapkan kata-kata seperti itu. Mungkin itu adalah sesuatu yang alamiah terjadi saat ia berhadapan dengan orang yang ia sayang. Dan apa yang terlontar itu bukan hanya sekedar gombalan tapi rasa yang ada dalam hatinya.


Perjalanan satu jam ke rumah Zanita tanpanya tidak terasa karena obrolan keduanya. Saat memasuki pekarangan rumah, Zanita sedikit herna karena ada mobil yang mungkin bisa dikatakan mewah berada di sana. Raut wajah gadis itu menunjukkan tanya. Namun tidak dengan Andra, ia tentu kenal dengan mobil mercedes benz keluaran terbaru tersebut.


" Haish, ini mak-mak sepertinya udah nggak sabar banget ketemu mantu. Tapi dimana mereka tahu alamatnya Za. Astaga, ayah. Apa ayah tanya ke pihak kampus. Buset deh dua orang tua ini."


Andra bergumam pelan yang masih bisa di dnegan Zanita meskipun tidka jelas apa yang dibicarakan oleh Andra.


" Abang kenal?"


" Ayah sama bunda."


Glek


Zanita menelan saliva nya dengan susah payah. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidka punya persiapan untuk menemui sang mertua. Bahkan pakaian yang saat ini ia pakai sungguh tidak pantas untuk bertemu dengan kedua orang tua suaminya itu.


Dia tentu tahu siapa ayah Andra. Aryo Dwilaga Suseno, wajah ayah Andra tersebut tentu sangat dikenal oleh mahasiswa Universitas Nusantara. Setiap event beliau selalu ada walau hanya sebentar. Beberapa kali Zanita pun sempat berhadapan langsung dengan Aryo.


Akan tetapi bunda nya Andra tentu dia belum tahu. Ia hanya melihat di portal berita. Wanita paruh baya yang masih cantik dan segar diusianya yang sudah tidak muda.


" Bang, balik dulu yuk. Ganti baju."


" Tck, nggak perlu. Kamu nggak akan menghadiri sidang skripsi kok yang harus pakai pakaian formal. Dah ayuk masuk. Panas nih di luar."


Zanita benar-benar belum siap bertemu kedua orang tua Andra. Tapi tidka mungkin baginya untuk lari. Lihatlah, tangannya sudah digenggam erat oleh Andra dengan sedikit di tarik untuk masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam."


Semua odang di rumah tersebut kompak menjawab salam yang Andra ucapkan. Tatapan tajam mata Sekar langsung tertuju ke arah sang putra namun langsung berubah lembut saat menatap sang menantu.


" Ini menantu bunda yang baru."


Sekar berdiri lalu mengambil Zanita dari tangan Andra. Zanita hanya pasrah mengikuti Sekar. Tapi kemudian ia meraih tangan Sekar dan menciumnya pun dengan Aryo.


" Kita ketemu di sini Za. Sungguh nggak nyangka, kamu bakalan jadi menantuku. Haish si kupret ini beruntung sekali," ucap Aryo.


" I-ya pak," jawab Zanita gugup.


Andra memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang ayah. Ia lalu ikut duduk di sebelah Zanita tapi dihalau oleh sekar.


" Bunda ih."


" Jauh-jauh. Siapa suruh tidak mempertemukan bunda dengan menantu bunda lebih awal. Malah dibawa kabur dulu ke luar kota. Dasar bocah gemblung."


Wawan, Milah, dan Zanita tentu terkejut melihat interaksi ibu dan anak itu. Mereka pikir keluarga kaya itu akan terlihat kaku tapi rupanya tidak. Keluarga suami Zanita itu sama saja seperti mereka malah terkesan hangat tidak seperti yang mereka bayangkan.


TBC