My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 64. Berjiwa Besar



Selang seminggu setelah konferensi pers dadakan Andra yang dibantu oleh Adit, suasana media sosial masih saja ramai. Tapi sudah tidak seperti sebelumnya.


" Baaaang,"


" Tahan sayang. Sedikit lagi."


Keduanya sama-sama mencapai nikmat dunia selepas ibadah dua rakaat itu. Terlihat peluh keduanya bercucuran padahal suhu AC nya sudah diturunkan.


" Olahraga begini nih yang bikin ketagihan. Diulang pun oke-oke aja."


" Abaaaang!!!"


Zanita berteriak kesal kepada sang sang suami karena Andra sudah kembali mencium bibirnya kembali. Dan Andra hanya terkekeh. Ia sangat senang mengerjai sang istri. Terlebih jika bibir Zanita sudah monyong 5 senti, sudah lah pasti langsung di sambar oleh Andra.


Tapi sesuai perjanjian sebelumnya bahwa selepas subuh mereka hanya akan melakukannya satu kali. Tapi tidak menutup kemungkinan akan nambah. Seperti tidak tahu saja ulah si suami seperti apa. Zanita terkadang hanya pasrah dengan apa yang suaminya inginkan.


" Abang dulu atau aku yang mandi."


" Bareng aja biar cepet, janji nggak akan ngapa-ngapain kok."


Zanita akhirnya setuju dengan usul Andra. Dan benar saja mereka hanya mandi tanpa melakukan hal yang lain. Andra dan Zanita pun menuju ke dapur bersama. Sudah pukul 06.00 dan Zanita belum membuat sarapan.


" Bang, mau sarapan apa?"


" Apa aja, yang simple. Itu ada roti, ya udah itu aja cukup kok."


Zanita tersenyum, 2 bulan lebih menikah dengan Andra ia tahu bahwa suaminya itu tidak ribet dalam hal makan. Pun Andra juga tidak pemilih apa saja pasti dimakan. Bersyukur? Pasti, suaminya itu benar-benar nggak neko-neko.


Zanita mengambil roti dan mengoleskan selai stroberi di sana. Satu untuk Andra dan satu lagi untuknya. Keduanya sarapan dengan sangat hikmad.


" Abang mau bikin susu."


" Nggak, tadi udah cukup kenyang nyusu nya. Air putih aja."


Zanita membulatkan matanya sambil mulutnya menganga mendengar ucapan Andra yang kadang-kadang tidak terfilter itu. Sedangkan si tersangka hanya tersenyum simpul sambil menaikturunkan alisnya. Zanita menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengambil air putih untuk sang suami.


Ting tong


Bel apartemen berbunyi, mereka berdua saling pandang. Siapa gerangan pagi-pagi seperti ini bertamu. Satu nama yang ada di benak keduanya, Juned. Paling dia, siapa lagi kalau bukan Juned yang datang di jam pagi begini.


Ceklek


Zanita membukakan pintu. Ia sangat terkejut melihat dua orang yang amat sangat dikenalnya itu berdiri di depan pintu. Zanita mematung dan ia sejenak kehilangan dirinya untuk sesaat. Hingga suara sang suami kembai menyadarkannya.


" Sayang, siapa tamunya. Bukan Juned?"


" Anu bang."


" Za, boleh kami bicara sebentar?"


Zanita hanya mengangguk dan meminta kedua tamu nya itu untuk duduk. Andra yang tidak mendengar jawaban sang istri pun menyusul istrinya tersebut. Rupanya Andra juga ikut terkejut dengan siapa tamu mereka.


" Bagiamana kabar kalian? Raf, Van?"


" Kami baik Tuan Andra. Kedatangan kami kesini untuk~"


" Maaf Za, maafin aku. Aku jahat banget sama kamu. Aku benar-benar minta maaf Za. Kamu selalu baik ke aku, tapi aku malah selalu jahatin kamu. Aku sungguh-sungguh minta maaf."


Wajah Vanka yang pucat itu semakin sendu saat air matanya mulai bercucuran. Isakan tersebut sungguh terdengar begitu sesak di dada. Zanita langsung meraih tubuh Vanka, memeluk dan mengusap punggung sahabat lama nya itu dengan lembut.


" Apa kamu sudah mendapat pelajarannya?"


Zanita selalu mengatakan apa adanya, termasuk saat ini. Ia menanyakan apa yang Vanka rasakan. Bukan hanya itu, Zanita juga menanyakan aoa yang terjadi, kenapa tiba-tiba bisa berubah begini.


" Jika sudah menyadari semua kesalahanmu, maka bertaubatlah. Tidak perlu bersimpuh di depanku. Aku ini manusia bukan Tuhan, hanya kepada tuhan kamu boleh bersimpuh. Insyaallah aku sudah memaafkan mu. Setelah ini kembalilah ke jalan-Nya Van. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya."


" Terimakasih Za, terimakasih banyak."


Zanita mengangguk, tidak ada yang tidak bisa dimaafkan. Sakit hati kah Zanita? tentu, bahkan Andra tahu tentang itu. Tapi Zanita benar-benar terlihat berjiwa besar. Dikhianati sahabatnya bahkan hingga calon suaminya direbut saat hari pernikahannya tentu bukan perkara yang mudah, tapi istri dari Andra tersebut bisa iklhas untuk memaafkan.


" Apa kau sakit Van? Lalu bagaimana sekarang."


" Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Aku akan berhenti dari dunia entertainment Za, Dunia itu ternyata tidak cocok buat ku. Aku akan berada di rumah, belajar untuk menjadi istri yang baik untuk mas Raffan."


Zanita tersenyum, ia melihat sorot kesungguhan di mata Vanka. Bukan lagi kepura-puraan seperti dulu.


*


*


*


" Eh, kok jadi barengan gini sih. Wait Hun, Premiere nya jam berapa dah."


" Habis magrib, kita ambil slot malam aja. Kenapa emang."


" Bagus, untung saja. Bini gue hari itu wisuda juga Hun. Masa iya gue nggak hadir di wisuda bini gue. Suami macam apa saya."


Tawa Hunang meledak saat itu juga. Hunang meminta Andra untuk datang ke studio nya melihat editing hasil syuting miliknya. Yang tadinya Andra ingin meminta Hunang untuk memotong adegan Vanka akhirnya urung karena kejadian tadi pagi. Istrinya sudah memaafkan wanita itu, jadi Andra juga tidak perlu melakukan apapun. Terlepas dari apa yang dilakukan Vanka, wanita itu kemarin bekerja dengan profesional.


" Eh, anak ini aktingnya bagus juga."


" Oh ini, Riana namanya. Iya dia bagus, kemarin gue tawarin buat next project, tapi dia nggak mau. Katanya mau fokus kuliah setelah film ini."


Obrolan mereka pun berlanjut. Andra juga mengatakan kepada Hunang dia akan berhenti di entertainment. Meskipun hanya sebagai model dan BA NO tapi hal tersebut cukup membuat dirinya jadi incaran media dan Andra ingin stop terhadap itu semua. Walaupun tidak bisa dipungkiri ia tidak akan pernah bisa lepas sepenuhnya dari media sosial.


" Jadi lo bakalan milih mana. bergabung dengan kakak pertama lo atau kakak kedua lo. kak Radi dan Mas Dika sama-sama punya power di bidangnya masing-masing bukan."


" Yoi dan gue nggak masuk di dalam keduanya sih. Lo tahu kan Mas Dika itu spesialis beberapa bidang dan kak Radi udah jadi profesor muda. Lha gue, nyet gue cuma lulusan S1 Psikologi. Jujurly gue bingung nyet kudu milik ke RS apa ke kampus."


Hunang menepuk keningnya pelan, baru kali ini dia lihat orang kaya bingung milih mau diposisi apa. Jika kebanyakan orang akan berebut posisi, ini malah bingung.


"Menurut gue lo di kampus aja deh An. Bukannya bini lo lulusan kampus milik bokap lo juga? Nah siapa tahu kalian berdua bisa mengelola kampus sama-sama. Gue yakin sebagai mahasiswa yang baru lulus dia pasti punya banyak banget hal-hal yang dia keluhkan atau harus ditambahi dari pihak kampus."


Andra mendengarkan dengan seksama sadan dari Hunang. sepertinya saran temannya itu perlu dipertimbangkan. Sama-sama masuk di bagian manajemen tentu universitas lebih masuk ke dalam pola pikirnya ketimbang rumah sakit.


TBC