My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 35. Jangan Dipikirkan



Rasanya Andra pengen melempar Juned dengan vas bunga yang ada di meja depan tivi. Sedangkan Zanita yang berasa kepergok malu setengah mati. Ia langung masuk ke kamarnya dan memegang dadanya. Irama jantungnya berdetak tidak karuan. Ia juga menyentuh bibirnya, mengingat lagi ciuman tadi. Dimana itu adalah ciuman pertama baginya.


" Astaga, apa ini. Aku tadi ciuman sama Tuan Magicom. Ya ampun, bagaimana nanti kalau ketemu ma dia. Aaaaaa, mana ketahuan Juned lagi. Mau ditaruh dimana muka ku."


Zanita menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.


Di luar Andra menatap Juned dengan tatapan mematikan. Juned yang tahu bahwa dia salah pun hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lantas manager Andra itu meminta maaf kepada sang bos.


" Maaf bos, asli Juned nggak sengaja."


" Besok gue ganti tu password pintu biar lo nggak sembarangan masuk. Kampret. Ada apa? Kalau nggak penting, jangan harap lo dapat jatah libur bulan ini."


Glek


Juned menelan saliva nya dengan susah payah. Bisa jadi bukan hanya jatah libur yang hilang, bonus pun bisa melayang. Baru kali ini tampang si bos begitu seram, Juned sampai bergidik ngeri.


" Itu bang, Mas Restu datang. Dia ada di depan apartemen. Katanya mau ada perlu."


" Restu? Suruh masuk."


Juned mengangguk, ia langsung berdiri dan memberitahukan kepada Restu untuk masuk ke dalam. Andra tersenyum saat menyambut Restu. Ia pun langsung menyuruh Restu untuk duduk dna meminta Juned untuk membuat minuman.


" Nggak usah repot-repot Jun. Ndra, tujuanku ke sini mau minta tolong. Jujur aku malu banget. Tapi aku nggak punya pilihan lain."


Restu membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah map. Pria itu kemudian memberikannya kepada Andra. Andra sungguh tidak paham dnegan maksud Restu.


" Sertifikat tanah? Untuk apa Res?"


" Buat jaminan Ndra. Aku sekarang sedang butuh uang untuk operasi ibu ku. Aku butuh 75 juta Ndra. Dan aku hanya punya itu untuk jaminan."


Andra menghembuskan nafasnya pelan. Ia kemudian mengambil ponselnya di kamar dan mengetik sesuatu. Tak lama notifikasi pesan berbunyi di ponsel Restu. Mata Restu membulat sempurna membaca pesan tersebut. Sebuah transferan dari Andra dengan nominal yang jauh dari apa yang dia butuhkan.


" Ndra, ini kebanyakan. 100 juta, aku butuh nya 75 juta Ndra. Ini kelebihan."


" Tidak apa-apa. Pergunakanlah dengan baik. Tidak usah dipikirkan kapan mau mengembalikan. Yang penting ibu mu kembali sehat. Dan ini bawa kembali, aku tahu rumah itu bukan hanya rumah mu. Itu rumah tempat dimana anak-anak yatim piatu bernaung. Dah sana, segera ke rumah sakit biar ibu mu segera diambil tindakan."


Restu menangis di sana. Hati Andra begitu baik. Bagaimana bisa dengan mudahnya pria itu menolong dirinya yang bahkan sudah tidak punya hubungan apapun.


" Terimakasih Ndra, terimakasih. Aku akan berusaha mengembalikannya."


" Jangan pikirkan itu, segera pergilah. Ibu mu menunggu mu."


Restu seketika memeluk Andra. Dengan berkali-kali mengucapkan terimakasih dan akhirnya berlari pergi.


" Bang, gampang banget minjemin duit ke orang. Mas Restu kan udah nggak kerja ma abang lagi."


" Restu itu pada dasarnya baik. Dia pindah kerja karena mungkin merasa kurang. Tanggung jawab pria itu banyak Ned."


Juned hanya ber oh ria. Pasalnya Juned sendiri tidak tahu kehidupan pribadi restu. Selama 3 tahun bekerja bersama Restu, pria itu tidak pernah sekalipun bercerita mengenai kehidupan pribadinya.


🍀🍀🍀


Terlihat seorang gadis tengah membawa beberapa sayuran dalam keranjang belanjaannya. Gadis itu berhenti di depan kios sembako.


" Loh, nak Nia kok jam segini ke pasar. Memangnya tidak sekolah, Ibu Aisyah mana?"


" Innalillahi, Bu Aisyah sakit apa nak?"


Rupanya Nia, salah satu anak panti asuhan Mentari Senja itu yang berbelanja ke pasar. Dia bolos sekolah untuk mengurus panti. Dia tidak tega melihat abang nya melakukan semuanya sendiri. Tentu saja bolosnya Nia tidak diketahui oleh Restu.


Cerita Nia mengalir begitu saja kepada Wawan, Milah. Kios langganan Ibu Aisyah ternyata adalah kios milik kedua orang tua Zanita. Wawan dan Milah sudah mengenal Aisyah dari 10 tahun silam. Aisyah di mutasi di kota J, dan seringnya Aisyah berbelanja di Kios Wawan dan Milah membuat mereka menjadi berteman dekat.


" Terus yang jaga ibu sekarang siapa nduk."


" Bang Restu pak. Bang Restu yang jagain ibu sekarang. Bang Restu juga salah satu dari kami. Tapi memang Bang Restu tidak pernah mengantar ibu kemana-mana. Dia sibuk kerja."


Wawan dan Milah mengangguk mengerti. Keduanya lalu menyiapkan kebutuhan yang biasanya Aisyah perlukan.


" Pak, bu, ini Nia nggak beli sebanyak ini. Ini kebanyakan, lagi pula Nia nggak bawa uang banyak."


" Nggak apa-apa. Udah bawa aja. Itu buat Nia dan adik-adik. Semoga ibu cepat sembuh ya. Doakan ibu selalu nduk."


" Terimakasih Pak Wawan, Bu Milah."


Nia tersenyum senang. Ia kemudian berjalan pulang ke rumah. Wawan dan Milah hanya bsa menatap gadis itu yang berjalan semakin jauh. Rasa iba menggelayut di hati keduanya melihat Nia.


" Semoga Bu Aisyah segera sehat kembali. Beliau orang yang sangat baik. Hidupnya didedikasikan untuk merawat anak-anak yatim piatu."


" Iya pak, ibu sangat salut kepada beliau."


Wawan dan Milah kembali ke pekerjaannya yakni melayani pembeli yang datang ke kios mereka.


Nia yang sudah sampai di panti langsung menata belanjaannya. Ia sedikit khawatir jika bolosnya dari sekolah hari ini diketahui sang abang. Tapi Nia mengacuhkan hal tersebut untuk sesaat. Dia mulai sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Tidak lama lagi adik-adik nya akan pulang, dia harus bergegas melakukannya agar saat sudah pulang nanti mereka tidak lagi menunggu.


Selesai memasak Nia membereskan rumah. Mencuci semua pakaian kotor. Gadis itu terlihat duduk di sebuah kursi. Ia merasa lelah melakukan semuanya.


" Jadi ini yang ibu lakukan? Apa ibu sakit karena kecapekan?"


Rupanya Nia sedang mencoba menelaah kegiatan sehari-hari Ibu Aisyah. Selama ini Nia juga membantu Ibu Aisyah dalam pekerjaan rumah tapi rupanya saat semua anak-anak bersekolah, pekerjaan rumah yang dilakukan sangat banyak.


Meskipun anak-anak panti sudah dilatih untuk mandiri akan tetapi memang ada pekerjaan yang hanya membutuhkan ekstra tenaga.


" Nia, kenapa kamu di rumah?"


Glek


Nia menelan saliva nya dengan susah payah. Suara khas sang abang membuat gadis itu langsung berdiri dari duduk nya dan menunduk. Nia sama sekali tidak berani melihat wajah abangnya.


" Kamu bolos?"


" Maaf bang. Nia cuma nggak mau abang repot sendiri. Nia cuma mau bantu abang."


Restu membuang nafasnya kasar. Ia lalu mengusap kepala Nia dnegan lembut.


" Dengerin abang, Nia cukup belajar yang rajin itu sudah cukup membantu abang. Apa yang abang lakukan, semua ini untuk kalian."


Nia mengangguk mengerti, tapi ada satu hal yang tidak pernah disadari Restu tapi Nia malah memahaminya. Restu terkadang lupa akan dirinya sendiri. Dia selalu menomor satukan adik-adiknya tapi dia lupa dengan kebahagiaan dirinya sendiri. Hal itu lah yang membuat Nia selalu tidak tega dan sedih saat melihat bagaimana perjuangan Restu untuk panti ini.


TBC