
Juned saat ini tengah duduk di sebuah sofa ruang tamu sebuah rumah besar dan megah. Kaki nya tidak berhenti bergerak, telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin. Juned benar-benar seperti mau melakukan sidah skripsi. Bukan, ini vibes lebih dari itu.
" Bang, minum dulu."
Riana memberikan segelas orange jus yang langsung ditenggak habis oleh Juned. Gadis itu heran, Juned seperti baru saja melakukan lari 5 km. Tapi Riana mengerti Juned mungkin sedang gugup.
" Daddy sama mommy mu dimana?"
" Sedang ganti baju, katanya harus rapi kalau mau menyambut tamu."
Glek
Juned kesusahan menelan saliva nya. Menyambut tamu, hei aku ini bukanlah siapa-siapa yang harus disambut. Begitulah pikiran Juned saat ini. Ia benar-benar merasa begitu gelisah dan deg-degan.
" Waah udah lama nih bang datangnya. Maaf ya dady sama mommy kelamaan ganti bajunya."
" Tidak kok om, tante, saya juga baru saja sampai."
Juned sedikit terkejut. Fusena Adhicandra sungguh terlihat berbeda dari apa yang ia lihat di layar kaca maupun portal berita online. Di sana Fusena terlibat begitu garang, tapi yang ia lihat kali ini Fusena sungguh sangat hangat. Pun dengan Mutia Handayani, wanita paruh baya itu terlihat anggun dan sorot matanya begitu lembut.
" Om dan tante, kedatangan saya kemari ingin menyatakan keseriusan saya kepada Riana."
Hening
Juned menunduk dengan begitu dalam. Tidak berani dia menatap kedua orang tua Riana setelah mengatakan hal tersebut. Hati dan otaknya berkecamuk. Ia merasa begitu bodoh karena sangat berani menemui keluarga Hutomo saat ini.
" Lalu kapan kau akan menikahi Riana?"
" Setelah Riana lulus kuliah. Eh apakah anda?"
" Daddy setuju?"
Juned dan Riana tentu terkejut. Semuanya tidak seperti yang ada dipikiran mereka. Mereka berdua tadinya sedikit khawatir mengenai apa yang mereka sampaikan. Terlebih Juned, ia sudah underestimate tadi. Juned pikir ini akan ada drama dulu seperti di drama-drama atau novel online, dimana sang ayah protagonis wanita akan menentang hubungannya dengan protagonis pria karena status sosial yang mereka miliki.
" Iya, daddy dan mommy setuju-setuju aja. Daddy akui keberanianmu nak. Sangat jarang anak muda jaman sekarang berani mengambil keputusan untuk serius berhubungan dengan ikatan pernikahan. Baiklah daddy senang kamu mau menunggu Riana untuk selesai kuliah dulu. Jadi apakah kalian akan bertunangan dulu?"
" Tidak,"
" Iya!"
Dua jawaban berbeda disampaikan oleh Juned dan Riana. Riana mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban Juned.
" Kenapa tidak mau bertunangan," protes Riana terhadap pria yang duduk disebelahnya.
" Aku tidak mau, kalau kita tunangan nanti hubungan kita malah semakin bebas saja. Aku tidak mau setan membujukku dengan label kita sudah tunangan. Jika kamu yakin terhadapku ayo kita langsung menikah setelah lulus."
Jika Riana memberengut, berbeda dengan Fusena dan Mutia. kedua orang tuan Riana itu tersenyum lebar. Sepertinya putrinya sungguh tidak salah dalam memilih pria. Dari sesaat melihat, Fusena sangat yakin Juned adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.
*
*
*
Hari demi hari dilalui dengan begitu baik dan lancar. Restu semaki hebat dalam pekerjaannya. Gibson tentu sungguh bangga. Ada sedikit rasa tidak enak karena dulu pernah berpikiran buruk terhadap Restu. Beberapa hari yang lalu, Restu datang menemui Andra untuk mengembalikan uang dan mengucapkan selamat atas pernikahan Andra danZanita. Restu sendiri tidak menyangka Andra akan menikah dengan wanita yang sebelumnya adalah rekan kerjanya tersebut.
" Mungkin emang itu takdir jodoh gue Res. Dia dikirim buat gue melalui acara itu. Thanks Res, semua berkat lo juga."
" Maksudmu apa Ndra?"
" Awalnya gue males banget buat terima acara itu, bahkan hampir mau gue tolak. Tapi setelah inget lo sama Juned gue akhirnya mau terima tawaran tersebut. And see, dia jadi istri gue sekarang. Hahahaha."
Tak lama Restu pamit dari tempat Andra. Ia tentu merasa sangat berterimakasih atas apa yang sudah Andra lakukan terhadap dirinya. Uang yang dipinjam dari Andra tidak jadi dikembalikan karena Andra tidak mau.
" Lho bang tamunya udah pulang."
Andra mengangguk menjawab pertanyaan Zanita. Ia melihat dengan seksama wajah sang istri. Cantik, ya Andra melihat Zanita semakin hari semakin cantik saja. Pria itu menarik tangan Istrinya lalu mendudukkan Zanita di pangkuannya. Andra mulai mencium leher Zanita,
" Abaaang."
" Hmmm."
Zanita hanya bisa pasrah menikmati sentuhan tangan Andra yang sudah mulai menyentuh bagian-bagian sensitifnya hingga suara lenguhan keluar dari bibirnya.
" Baiklah mari kita lanjutlan di kamar."
Andra langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Si Jon udah siap soalnya mau berkasi. Dan pada akhirnya mereka kembai mereguk pahala berdua. Cucuran peluh tampak di wajah keduanya.
" Terimakasih sayang, terimakasih istriku."
" Terimakasih juga bang."
Andra memeluk Zanita dengan posesif. Ia mencium pucuk kepala Zanita yang berada di pelukannya. Mereka melakukan sesi obrolan santai setelah sesi panas tersebut.
" Setelah acara wisuda temani abang ya?"
" Kemana?"
" Ke acara premiere film nya Hunang, judulnya Mendadak Traveling."
Zanita sedikit terkejut, ia tentu tidak berpikir hingga jauh kesana. Ini tentu tidak ada dalam otak Zanita. menemani sang suami di acara premiere tentu saja dirinya akan dilihat oleh banyak ornag.
" Apa abang sengaja mengajakku?"
Andra mengangguk, ia memang sengaja ingin membawa Zanita saat premiere tersebut untuk mengenalkan Zanita kepada semua yang hadir bahwa dia adalah istri dari seorang Andra suma.
Zanita tampak berpikir, banyak hal yang menjadikan dirinya khawatir. Ia tentu sangat tidak siap jika ada omongan buruk yang akan ditujukan kepada dirinya maupun Andra.
" Jangan terlalu over thinking. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka kan sudah tahu kalau kamu istriku lewat prescon kemarin. Tidak akan ada yang berani macam-macam, aku jamin itu."
" Iya, baiklah. Suamiku Tuan Magicom memang bisa selalu diandalkan."
Andra tersenyum lebar. Ia sungguh tidak sabar menunggu saat itu. menuggu waktu dimana ia mengenalkan Zanita secara resmi kepada khayalak bahwa ini lho istrinya.
Zanita tersenyum lalu mencium bibir Andra. Bukan hanya sekedar mencium, Zanita bahkan melummat bibir sang suami. Tangan Zanita mulai bergerilya. Andra tentu saja langsung membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka istrinya akan memulai lebih dulu.
" Sayang."
" Aku mau lagi."
" He??"
Andra semakin terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zanita. keterkejutan Andra belum juga habis saat kini Zanita sudah berada diatasnya. Ia memang merasa Zanita beberapa hari ini terlihat lebih agresif saat mereka tengah berolah raga ranjang tersebut.
" Baiklah, jika sang istri meminta, bukannya tidak baik untuk menolak. karena aku adalah suami yang baik maka aku akan mengabulkan keinginan istriku."
Andra kemudian membalikkan tubuh Zanita yang tadinya berada di atas kini sudah berada di bawah. Istrinya itu tersenyum lebar saat sang sumi mulai melakukan aksinya.
Tampaknya aku sudah gila meminta itu duluan.
TBC