
Guan dengan sabar menantikan jawaban sang kekasih, walau sejujurnya ia pun tak memaksa jika Via ingin ikut atau tidak itu keputusan via sendiri dan Guan tak ingin membuat Via merasa terbebani dengan ajakan nya tersebut
"Jika belum siap untuk sekarang gak papa, kan bisa lain kali" ucap Guan yang tiba-tiba
Via menatap dalam-dalam wajah sang kekasih, ia merasa lega jika Guan telah mengerti apa yang ia rasakan saat ini, dalam hati Via berkata
(Mas maafkan aku, bukan aku tidak mau bertemu dengan orang tua mu, hanya saja aku belum siap untuk saat ini, bahkan aku merasa hubungan yang kita jalin saat ini terlalu cepat, meski aku meyakini kau adalah cinta sejati ku dan kita saling mencintai namu n tak ada yang dapat menjamin bahwa kita akan bersama selamanya)
"Mas maafkan aku, setidak nya Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu" ujar Via yang berkata pada Guan dengan suara yang lirih
Guan tersenyum menanggapi ucapan sang kekasih, jauh di dalam hati ha ia sangat dengan posisi Via saat ini, karna dalam sebuah hubungan, jika sudah melibatkan pertemuan dengan orang tua, maka hal itu bukan lagi sebuah hal yang sepele, meski pada kenyataan Guan sangat berharap ia dan Via bisa membawa hubungan mereka hingga ke jenjang yang lebih serius namun Guan juga tak mau bersikap egois dengan memaksakan kehendak nya sendiri
...----------------...
malam hari
Suasana malam yang terlihat mendung dan Gerimis mulai turun, saat ini Guan masih berada di kantor nya, setelah dari mansion kekasih nya, Guan memutuskan untuk kembali ke kantor setelah mendapat telpon dari David karna ada sebuah urusan yang mendadak yang membutuhkan kehadiran nya
Suasana kantor sudah mulai sepi dan hanya ada Guan dan David serta beberapa staf yang tertinggal di kantor, sementara Hujan yang semula gerimis kini telah menjadi sebuah hujan yang sangat lebat di sertai kilat dan petir yang saling bersahutan serta badai yang begitu kencang, sehingga mengakibatkan adanya sebuah pohon tumbang yang menghalanginya di jalan raya dan terjadilah kemacetan parah
Guan yang masih sibuk dengan pekerjaan nya, tiba-tiba di kagetkan dengan listrik yang tiba-tiba padam dan seluruh kota berubah menjadi gelap gulita, dengan cepat Guan menyalakan Ponselnya untuk mencari sebuah senter yang bisa membantu menerangi ruangan untuk sementara
Setelah beberapa saat mencari, sayang nya Guan tak menemukan apapun yang ia cari dan di saat yang bersamaan ponsel nya pun kini Telah kehabisan daya sehingga mengakibatkan kegelapan seutuhnya
Guan hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apapun dalam kegelapan itu, hingga beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari seseorang
"Tok,,, tok,,, tok,,,"
"Tuan muda, apa anda masih di dalam" teriak suara itu di tengah-tengah derasnya suara air hujan
"David apa itu kau? Aku tidak bisa melihat apapun, disini sangat gelap" tanya Guan yang juga berteriak dari dalam
"Tuan ini saya David, apa tuan muda baik-baik saja, pintunya terkunci" ujar David dengan nada yang terdengar khawatir
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku tidak. bisa melihat apapun untuk menemukan pintu, aku tidak bisa menemukan senter ku" kata Guan yang mencoba meraba-raba untuk mencari letak pintu sehingga tanpa sengaja ia telah menabrak meja nya dan menjatuhkan sebuah gelas
"PRANGGGGHHH"
"Tuan, tuan muda apa yang terjadi, kau baik-baik saja kan, tuan muda?" teriak David yang semakin khawatir saat mendengar suara pecahan gelas itu
Di tambah Tak ada jawaban dari guan yang membuat David semakin tak karuan sehingga tak ada cara lain yang terlintas di fikiran nya saat ini kecuali mendobrak pintu dengan paksa
"Tuan muda, menjauhkan dari pintu, aku akan mendobrak nya" teriak David
satu
Tiga
"Brugh" dengan sekali dobrakan berhasil membuat pintu itu terbuka oleh David
"Tuan, tuan muda anda baik-baik saja kan" kata David yang buru-buru menghampiri Guan
"Aku baik-baik saja, seperti nya aku baru saja memecahkan gelas, ponsel ku kehabisan daya jadi aku tidak bisa menggunakan nya" kata Guan
"Syukur lah kalau tuan baik-baik saja, saya lega mendengarnya, tapi ngomong-ngomong tuan bilang ponsel anda kehabisan daya, apa tuan sudah mengabari tuan besar kalau tuan tidak bisa pulang malam ini" kata David yang mengingatkan Guan akan janji nya pada tuan Heru sebelumnya
"Astaga, aku melupakan nya, David aku pinjam ponselmu sebentar" kata Guan
Dengan cepat David pun memberikan ponsel nya pada Guan, Guan segera menelpon sang papa untuk mengabari kalau ia tidak bisa pulang malam ini
Tut... Tut... Tut...
Satu panggilan berlalu dan kini panggilan yang ke dua, setelah beberapa saat kemudian akhirnya Tuan Heru pun mengangkat panggilan itu
"Hallo David, apa Guan ada bersama mu?" tanya Tuan Heru dengan nada bicara yang terdengar khawatir sehingga ia langsung membuka suara tanpa membiarkan lawan bicara nya membuka suara terlebih dahulu
"Pa ini aku Guan, ponsel ku kehabisan daya jadi aku meminjam ponsel David untuk menelpon mu, pa maaf aku tidak bisa pulang malam ini, saat ini aku dan David sedang terjebak di kantor dan tidak bisa pulang"
"Guan tak apa nak, papa dan mama sangat khawatir padamu tapi setelah mendengar kau baik-baik saja sekarang kami lega, setidak kau sudah mengabari kami, papa hanya mau bilang menginaplah di kantor saja, cuaca di luar sangat buruk dan tidak memungkinkan untuk berkendara"
"Iya pa aku tau, pa tolong katakan pada mama aku minta maaf, aku janji besok aku pasti akan pulang ke rumah"
Mendengar apa yang di katakan Guan, Tuan Heru segera memberikan ponsel nya kepada sang istri agar Guan dapat berbicara langsung dengan mama nya
"Iya nak, mama juga mendengar mu sekarang, yang Penting kau baik-baik saja itu pun mama sudah sangat lega mendengar nya" ucap medina yang sudah mengambil alih ponsel nya
"Ma maaf ya, Guan udah bikin mama nunggu, mama pasti udah capek-capek masakin makanan kesukaan ku tapi aku malah gak bisa pulang" ucap Guan yang merasa tak enak dengan mama nya
"Sayang mama mengerti kok, kamu tidak perlu merasa tak enak dengan mama, lagi pula keselamatan mu lebih penting dan soal makanan kesukaan mu, nanti tunggu hujan reda mama akan meminta jasa kurir untuk mengantar nya kekantor, tapi itu jika tidak terlalu malam"
"Ma tidak perlu repot-repot mengirim nya untuk ku, Besok aku pasti akan usahakan untuk pulang, mama sebaiknya istirahat saja"
.
.
.
BERSAMBUNG