
"Mas, kamu tunggu di sini ya, aku akan membuat hidangan spesial untuk mu" kata Via Yang hendak beranjak dari pangkuan Guan
"Tunggu...!!" ucap Guan dengan cepat menghentikan dengan mempererat pelukannya di pinggang ramping Via
"Ada apa?" tanya Via yang menatap dengan tatapan bingung
"Perintahkan saja pada pelayan mu untuk memasak, kau hanya perlu temani aku disini, jika kau meninggalkan aku sendiri disini maka aku akan bosan"
"Loh, bukan nya kamu sendiri yang ingin mencoba masakan ku?" tanya Via lagi
"Benar! tapi Tidak harus sekarang, pokok nya lakukan saja apa yang ku suruh" kata Guan dengan Nada yang bersikukuh
Via menatap Jengah pada sang kekasih yang ia sendiri tak tau apa sebenarnya mau nya Guan
"Baiklah, kalau begitu kau tunggu sebentar, aku akan ke dapur untuk menyuruh pelayan membuatkan makan siang untuk kita, jika setengah jam lagi kau menahan ku di sini, itu tidak akan menjamin bahwa aku masih bisa bertahan karna kelaparan" ujar Via
"Baiklah" Sahut Guan dengan cepat seraya tersenyum dan membiarkan Via beranjak pergi ke dapur
Di kediaman keluarga 'Shin'
Setelah beberapa saat yang lalu Nyonya Medina dan tuan Heru baru saja menyelesaikan makan siang nya dan saat ini mereka tengah mengobrol santai di taman kecil yang terletak di belakang rumah
"Pa, mama punya rencana supaya bisa ketemu sama pacar nya Guan" kata Nyonya Medina secara Tiba-tiba telah menemukan sebuah ide agar bisa mengundang Via untuk datang ke rumah nya
"Apa itu.?" tanya Tuan Heru
"Sebentar lagi kan Anniversary pernikahan kita, gimana kalo kita bikin syukuran kecil-kecilan dan kita suruh Guan ngajak pacar nya buat datang dan makan malam bareng, dengan begitu kita kan bisa kenalan dan saling ngobrol lebih dekat sama dia (Via)''
"Ide bagus tuh ma, papa juga setuju dengan rencana mama" ujar Tuan Heru yang berkata dengan penuh semangat
''Kalau gitu kita telpon guan dan suruh dia pulang ke rumah nanti sore buat ngasih tau rencana kita'' ujar nyonya medina sembari mengeluarkan ponsel nya
"Oke, papa akan telpon Guan sekarang"
Beberapa saat kemudian...
Tut... Tut.... Tut...
"Hallo, iya pa ada apa?" Ucap Guan yang langsung mengajukan sebuah pertanyaan tepat saat panggilan sudah terhubung
"Guan, apa kau ada acara Nanti sore?" tanya Tuan Heru
"Biar ku lihat nanti pa, memang nya ada apa?"
"Bukan hal penting, papa dan mama hanya ingin mendiskusikan sesuatu dengan mu, jika kau tidak sibuk nanti sore pulang lah ke rumah, sekalian kita makan malam bersama, mama bilang dia akan membuatkan makanan kesukaanmu"
"Eemm, oke nanti aku akan pulang setelah beberapa pekerjaan selesai, sekarang aku sedang di luar kantor pa"
"Oh baiklah, Lanjutkan saja pekerjaan mu, papa akan tunggu kamu di rumah nanti sore"
"Oke pa, kalau begitu Aku tutup telpon nya dulu ya"
"oke"
"Bagai mana pa, apa Guan setuju untuk pulang ke rumah nanti sore?" tanya Medina dengan tatapan mata penuh harap
Tuan Heru tak berkata apa-apa untuk beberapa saat sehingga membuat Medina semakin penasaran dan menantikan jawaban tentang apa yang di bicarakan sang suami dan anak nya melalui Panggilan telpon beberapa saat yang lalu
"Pa...?"
sesaat kemudian Tuan Heru pun tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri, seketika Medina pun langsung tersenyum dengan tatapan mata yang berbinar bahagia
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di mansion Milik Via
Saat ini Guan tengah duduk santai di ruang tamu setelah menyelesaikan makan siang nya, sementara Via membantu para pelayan nya untuk membereskan sisa makanan dan mencuci piring
"Nona anda tidak perlu melakukan nya, biar aku saja" kata Rara yang mencoba menghentikan sang majikan untuk melakukan pekerjaan rumah itu (mencuci piring)
"Rara, kau bertindak seolah kita baru saling kenal, bukan kah aku sudah terbiasa melakukan nya" sahut Via dengan santai
"Bukan begitu Nona, saya tau nona memang sudah biasa melakukan nya hanya saja kali ini kan situasi nya berbeda, kan di luar ada pacar nya Nona, sebaiknya nona temani saja dia, untuk pekerjaan dapur biar kami para pelayan yang melakukan nya" kata Rara yang bersikap kekeuh
"Nona, benar yang di katakan Rara, sebaik nya nona cukup temani tuan muda Shin saja, lagi pula masih banyak pelayan yang bisa melakukan tugas rumah, jika nona masih bersikeras lalu apa guna nya nona mempekerjakan kami sebagai pelayan disini" timpal Mela
Via Pun langsung mengerti dengan apa yang di maksud oleh Mela dan Rara
"Baiklah kalau begitu aku akan menyusul mas Guan dulu, kalian kerjakan saja tugas kalian" kata Via yang akhirnya mengalah
dengan langkah lebar Via berlalu dari hadapan kedua pelayan nya itu, kemudian Rara pun dengan sigap mengambil alih Pekerjaan Dapur yang di kerjakan Via sebelum nya
Meski pada dasar nya Via merupakan seorang wanita yang terlahir dari keluarga yang berada dan bisa di bilang kehidupan nya sangat lah baik dengan setiap kali apa yang di lakukan selalu dalam pelayanan yang baik oleh para pelayan nya,
Namun Via sangat lah berbeda dari seorang Putri bangsawan pada umumnya, jika Seorang putri yang terlahir dari keluarga kaya cenderung lebih manja dan Apa-apa terbiasa selalu di layani, Berbeda dengan Via yang merupakan seorang Gadis mandiri dan tidak suka dengan kemewahan, ia juga tak suka di layani secara berlebihan oleh para pelayan nya, karna Via menganggap bahwa semua pelayan yang bekerja padanya adalah keluarga nya
Saat di ruang tamu, Via melihat sang kekasih yang saat ini tengah sibuk memainkan Ponsel di tangan nya dengan begitu serius, via pun menghampiri nya dengan rasa penasaran dan ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh Guan dengan ponsel nya itu
"Serius banget, ada apa mas?" tanya Via saat sudah berada di dekat Guan
Mendengar sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang kekasih, Guan seketika mendongak ke arah Via dengan tersenyum
"Bukan apa-apa, papa menelpon ku dan memintaku untuk pulang nanti sore, katanya ada hal yang ingin mereka diskusikan dengan ku"
"Apa itu penting?" tanya Via yang penasaran
"Entah lah, penting atau tidak nya akan di ketahui nanti setelah aku tiba di rumah, Eemm ngomong-ngomong apa kau mau ikut dengan ku?" ujar Guan sembari mengajukan sebuah pertanyaan di akhir kalimat
Via tak menjawab langsung, ia memasang wajah bingung seolah tengah berfikir keras untuk itu
.
.
.
BERSAMBUNG