My Girl Is Mafia

My Girl Is Mafia
Episode 29



Via bisa bernafas lega untuk sesaat ketika Guan memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua alasan nya


Dengan penuh kesabaran Guan mendengar kan setiap cerita dan yang di jelaskan oleh via secara detail tentang penyamaran/persembunyian nya, dari mulai saat ia di temukan di tengah jalan oleh Guan dan David yang saat itu kondisi tubuh via yang di penuhi dengan luka-luka dan darah yang menyelimuti Bagian wajah dan tubuh nya, hingga sampai Guan membawa nya pulang ke apartemen dan Via yang memutuskan untuk menyembunyikan identitas nya yang sebenarnya demi kebaikan bersama ('Tough brave'dan 'MahaRani Group')


"Ka Guan terima kasih banyak karna sudah mau mendengarkan penjelasan dari ku, aku tidak akan memaksamu untuk tetap bertahan dengan ku, aku akan terima jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini karna bagai mana pun Aku sadar akan siapa aku, aku tidak pantas untuk mendampingi mu, aku sudah di takdirkan untuk terlahir sebagai seorang wanita yang kejam dan tidak memiliki belas kasih, di usia ku yang ke 25 tahun ini aku tidak tau sudah berapa banyak nyawa yang aku renggut secara paksa dengan tangan ku ini


Jika kau menginginkan seorang wanita yang lembut dan baik hati maka aku benar-benar jauh dari kata-kata itu, karna sejatinya aku adalah wanita yang Kasar dan suka membunuh


Ka Guan jangan ragu untuk mengatakan nya, Jika kau hanya diam maka Diam mu itu akan mewakili jawaban mu untukku dan aku akan menganggap nya sebagai kata TIDAK, (Tidak melanjutkan hubungan lagi/ Berakhir)"


"Atas dasar apa kau berani mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Guan dengan nada bicara Datar dan dingin


"Aku, Eemm aku" (Via tak mampu menyelesaikan kata-katanya)


"Rani aku ingin menanyakan satu hal pada mu dan kau harus menjawabnya dengan jujur" Lanjut Guan yang kembali bertanya


"Apa itu?" tanya Via


"Berjanjilah terlebih dahulu untuk memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan ku, karna jika tidak maka anggap saja ini sebagai Percakapan yang terakhir yang pernah ada di antara kita"


Via merasakan perih dalam hatinya ketika mendengar Guan yang menekankan kata 'terakhir' dalam percakapan antara mereka dan itu semua akan di tentukan oleh Via sendiri, dimana semuanya tergantung pada jawaban yang akan di berikan nya apakah bisa membuat Guan merasa Puas atau sebaliknya


Lama Via terdiam dan berusaha untuk berfikir keras dalam meyakinkan hati dan dirinya hingga akhirnya dengan Berat hati dan mata yang terpejam menahan Buliran cairan bening yang akan turun, Via mengangguk tipis sebagai jawaban kalau ia setuju dengan pertanyaan yang akan di ajukan oleh Guan


"Katakan, aku akan mendengar nya dan aku akan memberikan jawaban jika aku memiliki nya" ucap Via Lirih dan penuh keberanian


"Kau mencintai ku?" tanya Guan


"Uumm" Via menjawab dengan anggukan tanpa ragu


"Lalu Siapa aku bagi mu?" tanya Guan lagi


"Kau adalah kekasih ku"


"Jelaskan padaku, kekasih seperti apa yang kau maksud dan mengapa kau mencintai ku?" tanya Guan dengan penuh selidik


"Bagiku kamu adalah Pahlawan yang menyelamatkan hidup ku dari ambang kematian, hingga pada saat aku sadar dari koma dan kau adalah pria pertama yang aku lihat, aku bisa merasakan sebuah ketulusan dan kebaikan yang ada dalam dirimu, Aku menganggap bahwa semua ini adalah takdir di mana Tuhan menjadikan aku sekarat dan mempertemukan aku dengan lelaki baik seperti mu"


"Bagai mana kau bisa yakin bahwa aku adalah pria yang baik?" tanya Guan lagi


"Mudah saja bagi ku untuk menilai mu, sebelumnya kita tidak saling mengenal dan kau sama sekali tidak tau siapa aku dan dari mana asal usul ku, tapi kau masih mau menolong ku dan bahkan kau sendiri sangat percaya mengajakku untuk tinggal di apartemen mu, sampai akhirnya kau diam-diam meminta David untuk mencari tau tentang identitas ku yang sebenarnya"


Guan terdiam sejenak dan mencoba mencerna setiap kata-kata yang di katakan oleh Via, kemudian ia pun kembali bertanya


"Lalu Sejak kapan Perasaan Cinta itu mulai ada?" Guan yang sengaja ingin mencari tau lebih dalam lagi mengenai perasaan sang kekasih terhadap nya


"Lalu apa karna itu alasan nya mengapa kamu mau ikut dengan ku dan tinggal di apartemen ku?"


"Eemm, bisa di bilang begitu, itu juga termasuk salah satu alasan mengapa aku setuju untuk tinggal bersama mu "


Saat mereka berdua begitu Serius (Dalam percakapan), tiba-tiba percakapan antara kedua nya terpotong begitu Saja ketika terdengar suara ketukan dari Arah pintu


"Tok tok tok!"


"Ketua, Bisakah saya masuk?" terdengar suara Alan yang bertanya dari balik pintu dengan suara yang Terdengar lebih keras


Via tak Langsung menjawab melainkan melihat ke arah Guan terlebih dahulu untuk meminta persetujuan dari nya, Saat melihat tatapan Via, Guan pun mengerti dan mengangguk mengijinkan nya


"Masuk lah" Teriak via dari dalam


'KLEK' pintu terbuka dan muncullah Alan dari balik pintu


Sekilas Alan melihat ke arah Guan yang masih duduk bersandar di ranjang pasien, namun sesaat kemudian ia pun kembali menghadap pada Via seraya menundukkan kepalanya (Tanda sopan dan hormat pada sang ketua)


"Ketua"


"Katakan ada apa?" tanya Via


Sebelum mengatakan apa yang menjadi tujuan nya saat masuk, Alan terlihat Ragu saat melihat ke arah Guan yang ada di samping Via


"Alan tak apa, ka Guan sudah tau semuanya" ujar via yang mencoba meyakinkan Alan


Alan pun bisa bernafas dengan lega saat mendengar apa yang di katakan oleh Via


"Ketua, Barusan Robi menghubungi ku, dia bilang kalau Dion lah yang sudah menyebabkan bocor nya informasi kita hingga ke tangan Polisi, dan saat ini barang kita yang ada di dermaga (pelabuhan) sedang di tahan oleh mereka ( Pihak kepolisian)"


"Apa? kenapa kau baru mengatakan nya sekarang, sejak kapan pengiriman kita mendapat masalah dan kalian tidak memberi tahuku sama sekali"


Via yang terkejut mendengar kabar tentang tersendat nya pengiriman barang yang akan mereka ekspor ke luar negri sehingga ia tak mampu menahan diri untuk tidak terbawa emosi


"Ketua maafkan aku, sebelumnya kami berpikir bahwa ini hanyalah siasat licik Dion yang ingin memancing agar kau keluar dari persembunyian mu, tapi kami benar-benar tidak menyangka bahwa masalah nya akan separah ini"


.


.


.


BERSAMBUNG