
Robi dan Mira pun langsung dengan sigap memasang ekspresi yang lebih serius dan bersiap mendengarkan perintah (instruksi) dari sang pemimpin
"Ketua, katakan apa rencana mu kami akan selalu siap untuk melaksanakan tugas kapan saja dan di mana saja" kata Robi dengan tegas
"Robi Mira, Dion berulah lagi"
"Hah,?" Suara kaget Robi dan Mira secara bersamaan dan saling menatap satu sama lain saat mendengar apa yang di katakan oleh Via
"Lalu apa hubungan nya dengan kita" tanya Mira dengan tampang sok polos dan lagi-lagi mendapatkan upah (Cubitan) dari Robi tepat di pinggang nya yang berhasil membuat Mira meringis kesakitan
"Kalian tau salah satu perusahaan besar di kota ini yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan kita" tanya via
"Maksud mu, perusahaan milik Group Shin" jawab Robi dengan pertanyaan balik
"Benar, Perusahaan itu telah di pimpin oleh tuan muda dari keluarga Shin yaitu Park Guan Shin, dan Dion telah bekerja sama dengan perusahaan asing yang di pimpin oleh Pria yang bernama Hendra Gunawan, perusahaan asing itu telah mencuri dokumen presentasi Rancangan milik Tuan muda Guan untuk sebuah proyek besar dan mereka membuat tuan muda Guan tidak bisa berkutik dengan kekuatan yang di miliki oleh 'Black klan' "
"Maksud mu, perusahaan asing itu telah mengandalkan kekuatan 'Black klan' untuk membuat Lawan mereka tunduk dan takut" tebak Robi yang di benarkan oleh via
"aku tidak akan membiarkan Dion semakin meraja Lela, bagai mana pun aku sudah berjanji akan membalas kebaikan Tuan muda yang sudah menyelamatkan ku hari itu, jika bukan karna dia mungkin aku tidak akan ada di sini hari ini"
"Jadi yang tuan muda itu yang sudah menyelamatkan ketua hari itu" tanya Mira
"Benar, tuan muda Guan sudah banyak membantuku dari mulai menyelamatkan ku dan membayar kan biaya pengobatan ku hingga memberiku tempat tinggal, Dia tau aku adalah pemilik 'MahaRani Group' dan di saat asisten pribadi nya tidak mempercayai aku namun dia justru malah semakin baik pada ku, aku pikir setelah berita tentang kematian ku tersebar Dion akan berhenti berulah namun ternyata aku salah, dia malah semakin ingin berkuasa"
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan" tanya Mira
"Kita harus membuat rencana terlebih dahulu, Robi kau utus beberapa dari anggota kita orang untuk memata-matai Setiap situasi di perusahaan asing itu, dan juga perintahkan pada beberapa anggota yang lain untuk menyamar sebagai bagian dari 'Black klan' kita harus mencari informasi lebih dalam lagi mengenai perusahaan asing itu dan apa yang membuat Mereka terhubung dengan 'Black klan' juga cari tau apa yang menjadi kelemahan mereka"
"Baik ketua, saya mengerti" jawab Robi dengan Lugas
"Lalu tugas ku apa" tanya Mira yang menunjuk dirinya sendiri
"PLAKK" sekali lagi kepala Mira menjadi sasaran empuk tangan Robi yang sadis
"Aww, Robi ini sakit jika kepalaku sampai geger otak dan aku menjadi bodoh dan tak ada pria yang mau menikah dengan ku, lalu apa kau mau menikahi ku" Bentak Mira sambil sesekali mengusap kepalanya yang dijitak oleh Robi
Tak ada jawaban dari mulut Robi, Via Hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah kedua manusia lawan jenis itu, Via sudah terbiasa dengan Sikap keduanya yang sangat jarang Akur saat berkumpul namun meski begitu mereka tetap saling peduli terhadap satu sama lain
"Robi, untuk sementara ini aku akan serahkan padamu dan Mira, selanjutnya kalian hanya perlu menunggu instruksi dari ku"
"Baik ketua, kau tidak perlu khawatir kami akan melakukan semuanya sesuai dengan perintah mu" jawab Robi
"Baiklah sekarang aku tidak punya banyak waktu, aku harus segera kembali sebelum Tuan muda Guan menyadari kalau aku tidak ada di rumah"
"Tidak perlu, mengantar ku hanya akan menimbulkan kecurigaan, sebaiknya kau dan Mira segera pergi dari sini, aku akan kembali dengan aman dan kalian tidak perlu mengkhawatirkan ku"
Ucap Via yang setengah berteriak seraya berlari dengan gesit meninggalkan kedua teman nya hingga menghilang di kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak sedikit pun hingga membuat Robi dan Mira sempat tertegun menyaksikan semua itu
"Ku rasa kebiasaan ku jauh lebih baik dari kebiasaan ketua yang selalu pergi tanpa pamit" ujar Mira yang berkata tanpa berkedip saat melihat Sang ketua yang sudah menghilang bak di telan kegelapan malam
"Pulang sekarang" ujar Robi yang berkata dengan suara datar
Beberapa Saat kemudian
Malam sudah menunjukkan pukul 10:30 dan via baru saja tiba di apartemen, dengan langkah mengendap-endap via masuk ke apartemen sambil sesekali melirik kiri kanan untuk memastikan situasi tetap aman dan tak ada yang melihatnya, setelah berhasil masuk, perlahan-lahan via menutup pintu agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat orang lain curiga
Ketika pintu sudah tertutup dengan sempurna
"Dari mana kau"
Sebuah suara yang menggelegar yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu sontak membuat Via terlonjak kaget dan tertegun di tempat nya tanpa berani bergerak
"Aku tanya kau dari mana, apa kau mendengar ku" sebuah pertanyaan yang lagi-lagi membuat via bergidik ngeri dan tak bisa berkata apa-apa
"Nona Rani jangan menguji kesabaran ku, kau pergi tanpa pamit dan kau lihat ini sudah Jam berapa, dari mana saja kau keluyuran sampai pulang selarut ini" ujar Guan yang bertanya dengan penuh kesabaran
Perlahan via membalikkan tubuhnya hingga kini posisi wajah nya berada tepat di hadapan Guan dan hanya menyisakan jarak beberapa senti yang hampir membuat kedua Berada di posisi layak nya sepasang kekasih yang sedang berci*man
untuk sesaat hanya ada keheningan dalam malam yang mengelilingi Kedua nya, Guan merasakan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya, tanpa ia ketahui bahwa via juga merasakan hal yang sama
"Ya ampun, aku tidak tau kalau selama ini aku punya riwayat penyakit jantung, seperti aku harus segera memeriksakan kesehatan ku ke rumah sakit" batin Guan yang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi
"Ya tuhan, jika di lihat-lihat seperti ini, rupanya pria ini cukup tampan juga, apa aku sudah jatuh cinta pada pandangan nya " batin Via yang malah terbawa suasana
beberapa saat kemudian keduanya saling tersadar dan sontak membuat Via Memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari Guan hingga akhirnya ia tersentak tepat di pintu
Suasa canggung pun mulai menyelimuti, Seketika via lupa dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Guan terhadap nya beberapa saat yang lalu
.
.
.
BERSAMBUNG