My Girl Is Mafia

My Girl Is Mafia
Episode 46



Via hanya bisa pasrah dan membiarkan guan melakukan apa saja yang ingin dia lakukan saat ini,


dalam hatinya ia juga sangat menyesali apa yang dia lakuan sebelumnya karna memang ia yang terlalu fokus dalam bekerja sehingga ia tak menyadari kedatangan guan


''mas sudah lah, lebih baik sekarang kita pergi untuk makan'' kata via yang mencoba menghentikan aksi guan yang semakin liar


guan tak menggubris s ucapan via, ia telah terbawa suasana yang semakin memanas hingga saat ini guan telah berhasil menemukan bibir mungil milik via dan ******* nya dengan begitu lembut hingga untuk beberapa saat via yang semula tak memberi respon kini telah memberikan balasan untuk ciuman itu


waktu terus berjalan dan ciuman yang semakin memanas namun tiba tiba...!


''tok, tok, tok''


suara ketukan pintu telah berhasil menghentikan aksi keduanya yang hampir saja melewati batas


sebelum menjawab, Via dan guan berusaha merapikan kembali penampilan mereka yang sudah acak acakan sebelumnya


"Eekhmm, Mmm...!!!" (Via yang sengaja berdehem untuk mengetes suaranya agar tidak terasa kaku)


"Masuk!" ucap via yang akhirnya menjawab ketukan itu


"KLEK" pintu pun terbuka dan muncullah sebuah kepala yang menyembul dari balik pintu yang itu ternyata Robi


"Ketua, mengapa lama sekali membuka pintu, aku hamp...!!!" kata Robi yang tiba-tiba terhenti saat menyadari ada nyawa lain di ruangan itu selain ia dan Via


"Aaa, eem ternyata ada tuan muda Shin di sini" ucap nya seraya tersenyum dan menyapa Guan yang kini tengah duduk di sofa seraya berpura-pura membaca sebuah artikel (Buku)


Guan hanya tersenyum menanggapi robi yang menyapanya dan kembali melanjutkan sandiwaranya yang seolah tengah membaca


robi hanya tersenyum melihat sikap guan yang terlihat acuh tak acuh terhadapnya dan ia pun melanjutkan tujuan awalnya untuk menemui via


''ketua, aku melihat mu sangat sibuk hari ini, aku tau kau belum makan siang jadi aku berinisiatif untuk membelikan makan siang untuk mu, tapi....''


''kenapa...?'' tanya via yang penasaran dengan kelanjutan kata-kata robi


sebelum menjawab, robi terlebih dahulu melirik sekilas kearah guan yang tengah duduk di sofa dan ia pun kembali menatap via dengan tatapan rasa tak enak


''Uumm... aku tidak tau sebelumnya kalau tuan muda Shin juga ada di ini jadi aku hanya membelikan untuk mu saja'' kata robi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karna merasa tak enak dengan guan


sementara guan yang mendengar itu merasa kesal, namun tak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya diam dan memendam kekesalan nya dalam hati


''Eemm... ga papa rob, lagian mas guan baru aja nyampe sini, sebelum nya makasih karna kau udah beliin makan siang buat ku tapi aku dan mas guan bentar lagi mau keluar buat makan siang kok'' ujar via yang berusaha menolak robi denan cara yang halus


Robi yang melihat arti tatapan mata via pun kemudian mengerti


''Uumm... baiklah kalau begitu makanan nya aku makan sendiri saja, ketua dan tuan muda Shin kalau gitu aku keluar dulu'' kata Robi yang langsung pamit meninggalkan ruangan CEO


setelah memastikan Robi sudah pergi kini Via berdiri dan menghampiri Guan yuang sedang duduk dan menatapnya dengan mengintimidasi


Via tau kekasih nya itu sedang merasa kesal kemudian ia pun berinisiatif untuk membujuk nya dengan senjata pamungkas yang mungkin akan membuat guan tak tahan


Via tak berbicara atau pun mengeluarkan rayuan maut nya melainkan ia membuktikan nya dengan tindakan dan perbuatan


''Sayang ayolah, aku tau kau sedang marah, lebih baik sekarang kita makan siang, sekalian temani aku pulang ke mansion untuk mengambil sesuatu, mungkin aku akan membuatkan makan siang spesial untuk mu saat sampai mansion nanti'' kata via yang berkata dengan suara yang sangat lembut


''ya ya ya... aku tau kekasihku ini sedang inisiatif untuk membujukku, baiklah aku kan temani kau pulang ke mansion tapi kau benar-benar harus memasak untukku'' kata Guan dengan ekspresi wajah yang datar


Via tersenyum dan mengangguk dengan penuh keyakinan


...----------------...


Di perjalanan menuju mansion keluarga Maharani


''sayang, apa kau tinggal sendirian di mansion'' tanya guan yang memecah keheningan


''aku tinggal bersama beberapa pelayan di mansion, kadang kalau ada kesempatan aku sering mengajak mira dan yeyen untuk menginap, kadang Robi Yudha dan Alan juga sering menginap di Mansion untuk beberapa hari'' jawab via dengan santai


''Hah,,, maksudmu ketiga teman pria mu itu juga sering menginap, sayang kamu yang benar saja'' tanya Guan yang merasa sulit untuk menerima perkataan Via


Via menatap bingung pada Guan, ia tak mengerti apa yang di maksud oleh Guan tersebut


"Itu memang benar, mereka memang sering menginap, Maksudmu kenapa...?" tanya Via


"Sayang, kau itu seorang wanita dan harusnya kau tau bahwa tidak pantas bagi seorang wanita tinggal satu atap dengan Pria, apalagi pria itu lebih dari satu" ujar Guan yang memprotes


"Lalu kenapa jika mereka lebih jadi satu, aku rasa itu tidak masalah, justru yang paling menakutkan itu adalah ketika seorang wanita dan pria tinggal satu atap di apartemen dan memiliki hubungan spesial, bukankah semua itu akan lebih menakutkan" sahut Via yang seolah tanpa beban


Guan terdiam sejenak, ia merasa tersentuh dengan ucapan Via yang secara tidak langsung mengungkit saat via dan dirinya tinggal di satu apartemen


"Sayang tapi masalahnya kali ini berbeda,, aduh bagai mana aku mengatakan nya" ucap Guan yang tiba-tiba bingung bagai mana harus mengambil sikap


Via yang sudah mengerti pun tiba-tiba tersenyum saat melihat raut wajah Guan yang tak bersahabat


"Mas kamu tenang saja, mereka tidak akan berani macam-macam dengan ku, kau tau betul kalau aku adalah seorang pemimpin Mafia dan ketiga lelaki itu merupakan bawahan ku, mereka akan berfikir berkali-kali lipat jika ingin membuat masalah dengan ku" kata Via dengan santai dan berusaha meyakinkan Guan agar tidak perlu khawatir dan curiga pada teman-teman nya


Setelah berbagai macam penjelasan yang di katakan oleh Via hingga akhirnya Guan pun hanya bisa pasrah dan terima saja meski dalam hati nya bukan masalah melukai yang paling ia khawatir melainkan Via yang sama sekali tak peka terhadap kecemburuan nya


Beberapa saat kemudian,


Mobil Guan pun tiba di depan pintu gerbang yang sangat besar dan luas, dengan tergesa-gesa satpam membukakan Pintu gerbang dan membiarkan mobil itu masuk


Saat mobil memasuki pekarangan, Guan terpana melihat keindahan dan kemegahan mansion milik kekasihnya itu


.


.


.


BERSAMBUNG