
Tuan Heru terdiam untuk beberapa saat
ia menyadari telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan perusahaan dan juga putranya
"Kalau begitu terima kasih Matheo, kau sudah mau repot-repot mengantarkan surat ini serumah saya, Saya akan mencoba menghubungi Guan nanti"
"Baik tuan Presdir, kalau begitu saya pamit undur diri sekarang" ujar Matheo seraya menunduk dengan sopan
Setelah Memastikan Matheo sudah pergi, tuan Heru pun membawa Amplop itu masuk kedalam dan membukanya
Beberapa Saat kemudian setelah membaca isi dari surat itu
(Surat pemutusan kontrak kerja sama 'Group Shin' dan 'Group Chou' oleh Aditama)
"Apa yang terjadi dengan perusahaan, apakah masalah nya begitu parah sampai Tama harus memutuskan kontrak kerja sama nya" gumam tuan Heru seraya menggenggam Surat itu
tak lama kemudian Medina yang melihat sang suami dengan Reaksi yang terlihat seperti kebingungan namun entah mengapa ekor matanya menangkap selembar kertas dan amplop coklat yang berada di tangan suaminya
tanpa basa-basi Medina langsung mengambil alih selembar kertas itu dan membaca isi nya, tuan Heru yang tidak menyadari keberadaan sang istri seketika kaget saat menyadari kertas itu telah pindah ke tangan istri nya
"Ma, kamu ngapain di sini?"
"Pa apa ini maksud nya? mengapa tiba-tiba Tama memutuskan kontrak kerja sama nya dengan perusahaan kita" tanya medina dengan ekspresi wajah yang terlihat bingung
"papa juga tidak tau ma, papa akan coba tanyakan pada Guan nanti saat ia kembali"
"Tidak perlu menunggu dia kembali, sebaiknya papa telpon saja Guan dan tanyakan apa yang terjadi, papa tidak bisa diam saja begini, jika Tama sampai memutuskan kontrak kerja sama seperti ini berarti telah terjadi sesuatu yang serius dengan perusahaan kita"
"Papa pikir juga begitu ma tapi masalahnya Guan tidak bisa di hubungi bahkan dia juga tidak ada di kantor, dan kalau pun dia ada di kantor mungkin saat ini kita tidak akan tau apa yang sedang terjadi jika saja Matheo tidak mengantarkan surat ini pada papa"
"Guan gak ada di kantor, lalu dimana dia, papa jangan diam saja lakukan sesuatu" ujar Medina yang merasa khawatir dengan keadaan putra nya
Flashback off
Di Sebuah Ruangan pribadi milik Tuan Heru yang terdapat di salah satu sudut Rumah nya yang besar nan luas
Tuan Heru diam menatap tajam ke arah Guan dan menantikan jawaban (penjelasan) darinya tentang apa yang terjadi sebenarnya
"Guan, kau tau papa tidak suka jika kau bertindak semau mu terhadap perusahaan, papa tau kamu sangat bisa di andalkan untuk mengurus nya tapi kali ini setidak nya Beri tau papa secara detail apa masalah nya, dan apan yang menjadi penyebabnya mungkin papa bisa bantu mengatasi masalah mu" Ucap tuan Heru yang berkata dengan nada yang datar
(Proyek Airi Merupakan proyek besar yang telah menjadi rebutan para pebisnis dan juga investor asing sebelumnya yang kini telah berhasil di kuasai oleh Tuan Hendra yang merupakan pemilik salah satu perusahaan asing yang berkembang di kota J)
"Apa maksud mu, jelaskan pada ku mengapa bisa gagal ada apa penyebab nya" tanya tuan Heru yang mulai merasa geram
"Perusahaan asing telah berhasil mencuri dokumen presentasi (perancangan) kita dan merebut lahan luas yang di rencanakan untuk pembangunan Hotel Airi"
"Apa! Sssttttt bahkan masalah sebesar ini telah terjadi dan kau sama sekali tidak memberi tahuku bahkan bisa-bisanya kau juga malah menghilang tanpa kabar selama berhari-hari di saat perusahaan sedang menghadapi masa sulit dan membutuhkan mu, Guan dimana akal sehatmu dan kemana saja kamu hah, kau itu putra ku satu-satunya dan aku tidak pernah mengajarkan mu untuk lari dari tanggung jawab" Ucap Tuan Heru dengan nada bicara yang mulai meninggi
Guan merasa geram dalam hati saat sang papa mulai meninggikan suara saat berbicara dengan nya, di tambah tuan Heru yang menyebut bahwa ia telah melarikan diri dari tanggung jawab nya Sebagai seorang pemimpin dari perusahaan besar itu
"Asal papa tau, aku tidak pernah lari dari tanggung jawab ku sedikit pun, aku tau aku adalah seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan bagi bawahan ku, tapi pernahkah papa berfikir bahwa yang seharusnya kata-kata lari dari tanggung jawab itu hanya pantas untuk papa sendiri" kata Guan yang tak mau kalah dengan sang papa
"Apa maksud mu, beraninya kau berkata seperti itu dangan papa mu sendiri!" Marah Tuan Heru
"Apa yang perlu ku takutkan dengan papa, bahkan aku berada di rumah sakit selama berhari-hari pun kau tidak perduli dengan ku dan bahkan tak ada sedikitpun dalam pikiran mu tersirat ingin mencari ku dan mencari tau apa yang terjadi dengan ku selama menghilang"
Tuan Heru seketika terlonjak saat mendengar pernyataan dari Sang putra yang mengatakan bahwa ia telah di rawat selama berhari-hari tanpa sepengetahuan dari nya, Suasana hening untuk beberapa saat dan Yang semula memanas kini berubah menjadi semakin menegang
ekspresi Tuan Heru yang semula di kuasai amarah kini telah menjadi sedikit melemah, tatapan mata yang sayu menatap wajah sang putra dengan penuh tanda tanya, seketika ia tersadar dan rasa sesal kini telah menyeruak dalam hati saat menyadari kalau putranya tidak sepenuhnya melakukan kesalahan melainkan ia yang telah lalai dan tidak berfikir untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi
"Kau masuk rumah sakit? tapi kenapa, kenapa kau bisa sampai masuk rumah sakit, Guan katakan apa yang terjadi, mengapa kau membaut papa seolah tidak berguna"
Melihat reaksi sang papa, Guan tiba-tiba menyesali perbuatannya yang berbicara kasar pada tuan Heru beberapa saat yang lalu
"Pa maafkan aku, aku tidak bermaksud bicara kasar dengan papa, sebenarnya...
(Guan mulai menceritakan semua masalah dari awal hingga terjadinya perkelahian hebat yang mengakibatkan ia dan David masuk rumah sakit)
"Sampai separah itu, Guan kau telah melakukan hal yang besar, tapi mengapa kau tidak mengatakan pada papa sedikitpun mengenai masalah ini, papa merasa tidak berguna menjadi seorang papa untuk mu, bahkan kau putra ku satu-satunya hampir kehilangan nyawa demi mempertahankan perusahaan, Guan maafkan papa" ucap tuan Heru dengan suara yang Mulai bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menyesali sikap nya beberapa saat yang lalu yang telah kasar terhadap putranya
.
.
.
BERSAMBUNG