
Yeyen berlutut di samping Yudha dan memeluk nya dengan perasaan yang di penuhi kekhawatiran, buliran cairan bening yang mulai turun secara perlahan membasahi pipi bening wanita muda itu,
Yeyen adalah seorang wanita yang mencintai Yudha, meski pada kenyataan nya cinta nya tidak terbalas oh bukan, lebih tepatnya belum mendapat balasan dari yudha
walau sebenarnya Yeyen sendiri pun tidak mengerti dengan sifat lelaki yang ia kagumi itu, bukan hanya sekali melainkan sudah berkali-kali Yeyen menyatakan cintanya pada Yudha namun berkali-kali pula ia mendapatkan penolakan dari nya dan Setiap kali Yeyen menanyakan alasan nya, Yudha hanya memberikan jawaban yang singkat, ia hanya menganggap Yeyen sebagai adik nya karna usia Yeyen yang memang terlalu muda (19 tahun)
Yudha mengulurkan tangan nya dengan perlahan mengusap air mata yang telah membasahi pipi seorang wanita cantik yang ada di hadapan nya yang kini tengah menangis
"Yeyen jangan menangis, Kaka baik-baik saja" ujar Yudha yang berkata dengan Suara yang lirih di sertai senyuman yang terukir di wajahnya meski dalam keadaan menahan rasa sakit namun ia berusaha agar tetap terlihat baik-baik saja di hadapan Yeyen dan semua teman-teman nya
"Ka yud, mungkin aku tidak bisa merasakan sakit yang kau rasakan tapi kau tidak akan bisa membohongi ku, dengan senyuman mu itu, biarkan aku mengobati mu" ujar Yeyen dengan suara yang bergetar menahan Isak tangis nya
Yudha tersenyum menanggapi Perkataan Yeyen yang sangat mengkhawatirkan dirinya, ia pun setuju dan membiarkan wanita itu mengobati nya
sementara Via dan yang lain nya hanya tersenyum haru melihat sikap Yeyen yang sangat perhatian pada Yudha
setelah beberapa saat Yeyen pun sudah selesai mengobati Yudha dan merapikan kembali peralatan obatnya
Via mendekat dan berdiri tepat di belakang Yeyen
"Yud, bagai mana keadaan mu sekarang?" tanya via
"Sekarang sudah Lebih baik" jawab Yudha dengan suara yang masih lemah
"Syukur lah, kalau begitu kau istirahat saja dulu, biarkan Yeyen menemani mu di sini"
"Ketua, aku baik-baik saja sendirian, biarkan Yeyen beristirahat saja, lagi pula dia baru saja kembali setelah beberapa lama, sekarang aku juga sudah bisa mengurus diriku sendiri" kata Yudha yang menolak secara halus untuk di temani oleh Yeyen
Sementara setelah yeyen mendengar Yudha yang menolaknya meski dengan cara yang halus, kini ia telah berubah menjadi murung, jujur dalam hatinya bukan itu jawaban yang ia harap kan dari yudha
Via merasakan adanya perubahan di wajah polos gadis itu, ia tau saat ini Yeyen pasti kecewa mendengar jawaban Yudha yang menolak untuk di temani oleh nya namun apa boleh buat, via sendiri pun tidak berdaya dengan semua itu, jika Yudha sudah berkata bahwa ia tak ingin di temani oleh siapapun, maka ucapan nya itu tidak bisa di ubah sama sekali meski harus di bujuk dan di rayu dengan apapun dan bagai manapun
"Eemm, kalau begitu aku dan yang lain pergi dulu, kamu istirahat saja di sini" ucap via yang akhirnya menjadi Serba salah
"Uumm" jawab singkat Yudha yang di sertai anggukan kecil
Via berbalik menatap Yeyen yang saat ini menundukkan kepalanya dengan wajah yang sendu
"Yeyen, sebaiknya kau istirahat juga, nanti malam aku akan mengajak mu ke kota dan kita akan makan malam bersama" ujar via pada yeyen
"Baik ka Vi" ucap Yeyen dengan patuh
________
"Mira, apa yang kalian dapatkan dari markas 'Black klan' hari ini?" tanya via pada Mira
"Ketua sebaik nya kita bicara di sana saja" Kata Mira sambil menunjuk ke arah Ruang kerja Via
"Baiklah"
----------------
Waktu telah berlalu begitu saja, saat Malam Harinya
Suasana malam yang begitu indah dan sejuk, langit malam yang terlihat cerah dan di penuhi dengan bintang-bintang yang bertaburan juga cahaya redup dari sang rembulan
Di sebuah kota metropolitan yang begitu luas, Jalan raya yang di penuhi dengan lampu kelap kelip yang berasal dari berbagai macam jenis kendaraan dan juga gedung-gedung yang menjulang tinggi
Sesuai dengan janji Via sebelum nya pada Yeyen, kini mereka telah berada di kota bersama dengan Mira yang juga ikut serta
Via tak langsung mengajak kedua nya pulang ke Mansion melainkan mereka akan makan malam terlebih dahulu
Alih-alih mencari restoran atau cafe mewah untuk makan malam, Via justru mengajak kedua teman nya itu untuk makan malam di sebuah kedai yang terletak di pinggir jalan
"Ka Vi, kita akan makan di sini?!" tanya Yeyen yang merasa heran saat pertama kali datang ke kedai itu
"Tidak! di dalam ada restoran mewah dan kita akan makan malam di sana" sahut via Asal seraya melangkah masuk kedalam kedai itu
Tanpa sadar ucapan via barusan telah membuat Mira terkikik menertawakan ekspresi wajah yeyen yang terlihat kebingungan saat mendengar Jawaban dari ketua nya
"Ka mir kenapa ketawa gitu, emang apa sih yang lucu?" tanya Yeyen
"Bukan apa-apa, sebaiknya cepat masuk, aku sudah tidak sabar ingin makan karna sejak tadi aku sudah menahan kelaparan ini" ujar Mira sambil mendorong kecil Tubuh Yeyen agar melangkah masuk ke dalam kedai itu
Saat tiba di sebuah meja yang sudah di pesan oleh Via, Yeyen celingak-celinguk melihat ke sekeliling nya seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang
Mira menyadari kalau Yeyen telah percaya dengan perkataan Via beberapa saat yang lalu
"Ketua!" panggil Mira pada via
"Mir, ku tanya pada mu sudah berapa lama kita bersama, aku juga sudah mengatakan ribuan kali jangan memanggilku dengan sebutan itu saat berada di tempat umum seperti ini" ucap Via yang merasa kesal dengan Mira
"Hehe, maaf Ket eh maksudku Vi, abis nya udah kebiasaan jadi agak canggung aja nyebut nama kamu"
"Ya udah sekarang mending buruan pesan gih, aku udah lapar nih" ujar Via
"Ka, tapi tadi Kaka bilang kita akan makan di restoran mewah, kok sekarang Kaka malah mesan makanan di sini" tanya Yeyen yang masih belum faham
Mendengar pertanyaan itu sontak membuat Via menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasalnya, Yeyen yang berprofesi sebagai seorang mata-mata dan berjiwa kesatria, ia juga seorang kepercayaan Via untuk mengawasi setiap gerak-geriknya lawan nya, namun entah mengapa terkadang gadis itu sangat lah konyol dan polos bahkan sangat terlalu polos sehingga tidak jarang ia sering di tertawakan karna tingkah nya itu
.
.
.
BERSAMBUNG