My Girl Is Mafia

My Girl Is Mafia
Episode 44



Tanpa sadar David juga ikut tersenyum saat mendengar apa yang di katakan oleh Guan pada Lestari


_________________


Di markas 'Black klan'


Terlihat Rocky yang saat ini tengah mengobati Dion dengan penuh kesabaran serta melakukan nya dengan pelan dan lembut


meski luka yang di alami oleh Dion tidak terlalu parah secara fisik namun luka dalam nya telah cukup membuat Dion kehilangan banyak tenaga dan energi nya, hingga mampu membuatnya tak berdaya dan hampir tak sadarkan diri


beruntung ia masih memiliki tenaga dalam yang cukup kuat sehingga mampu membuatnya bertahan dan tetap terjaga meski saat ini ia hanya berbaring di tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih lemah


"Dion bagai mana perasaan mu sekarang, apa sudah lebih baik?" tanya Zhen yang baru saja datang dan menghampiri Dion yang sedang di obati oleh Rocky


"Kalau bertanya setidaknya gunakan juga matamu, kau tidak lihat sekarang bos masih sekarat" sahut Rocky yang merasa sebal dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Zhen


"Pletakkk..." sentilan yang cukup keras oleh Zhen tepat mengenai jidad Rocky sehingga mampu membuat nya sedikit meringis


"Aww, Sssttttt..." Zhen apa yang kau lakukan, kau menyakiti ku" kata Rocky dengan suara yang sedikit meninggi sambil sesekali mengusap jidad nya yang terasa sakit akibat sentilan dari Zhen


"sejak kapan berandal seperti mu akan merasa kesakitan hanya karna sebuah sentilan saja, jika ada cewek yang mengetahuinya kau akan di tertawakan, dasar BANCI!" kata Zhen yang sengaja menekankan kata banci di akhir kalimat nya


"Apa kau bilang, siapa yang banci, katakan sekali lagi akan ku patahkan lidah mu" kata Rocky dengan suara yang meninggi karna sudah mulai tersulut emosi


"BAN..."


"Stop,! berhenti berdebat atau kalian akan membuat ku mati mendadak di sini...!!!" teriak Dion yang marah saat mendengar suara ribut dari kedua temannya itu


kedua manusia itu sontak terdiam setelah mendapat teguran keras dari Dion, Rocky pun kembali melanjutkan tugasnya dengan pelan dan tanpa suara sedikitpun pun, meski dalam hatinya merasa sangat kesal karna tak. Isa menyelesaikan perdebatan nya dengan Zhen


Dion yang kembali terdiam dan mencoba mengendalikan emosinya saat ini, karna ia sadar bahwa ia juga butuh istirahat dan tenang untuk memulihkan kondisi tubuh nya


di sisi lain terlihat seorang wanita muda yang berparas cantik di atas rata-rata dengan tubuh yang seksi senada dengan pakaian yang ia kenakan sehingga memperlihatkan lekuk tubuh nya dengan sangat jelas,


Dia bernama Jesika, saat ini Jesika baru saja tiba di markas tempat perkumpulan rahasia Dion dan anggota nya 'Black klan'


Semua anggota 'Black klan' telah sangat mengenal nya sehingga tak ada lagi yang merasa heran dengan kedatangan nya ke markas tersebut


ia berjalan dengan santai memasuki markas itu tanpa mempedulikan siapapun yang ada di sekitar nya dan ia juga bertindak seolah ia adalah pemilik tempat itu


"Nona, kau datang.?" sapa Zhen saat melihat Jesika yang menghampiri nya


"Dimana Dion, mengapa ponsel nya tidak bisa di hubungi...?" tanya Jesika langsung to the poin, karna memang hanya itu pertanyaan satu-satu nya yang ada di benak nya saat ini


Zhen yang langsung mengerti saat melihat gurat kekhawatiran di mata Wanita itu


"Sebaiknya kau masuk dan lihat sendiri" kata Zhen sambil membukakan pintu kamar Dion dan mempersilahkan Jesika untuk masuk


Jesika yang tanpa basa-basi langsung masuk kedalam kamar, ia terpaku untuk sesaat ketika tatapan matanya tertuju pada seseorang yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur dengan keadaan yang masih lemah serta beberapa bagian tubuh yang dibalut dengan perban


"Apa yang terjadi...?" ucap Jesika yang menatap Zhen dengan penuh tanya dan suara yang lirih


Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekat kearah Dion, meskipun dalam hati ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi, namun Jesika juga tak merasa heran mengapa dan ada apa yang terjadi dengan Dion saat ini, karna ia tau itu sudah biasa terjadi pada seseorang yang memiliki profesi seperti Dion yang merupakan seorang pemimpin dari sebuah gangster (Mafia)


Di sisi lain Zhen memberikan kode (isyarat) pada Rocky agar meninggalkan kamar dan membiarkan Jesika untuk lebih leluasa berbicara dengan Dion dan mengatakan apa yang ingin ia katakan,


Rocky pun mengerti dan setuju untuk ikut bersama Zhen dan meninggalkan kamar dan membiarkan Sepasang pria dan wanita itu tinggal


Jesika menyentuh lembut tangan Dion yang saat ini masih dalam keadaan terlelap, ia menatap nanar wajah sendu seorang pria yang ada di hadapan nya itu, perlahan tatapan mata Jesika mulai mengendur dan berkaca-kaca


"Dion, aku tidak tau entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini, di kuasai oleh Emosi dan dendam yang tak pernah berujung, yang kau musuhi adalah adik mu sendiri yang dulu nya sangat kau cintai dan bahkan kau rela mengorbankan nyawa mu untuk melindungi nya, tapi kali ini justru kau rela menggunakan nyawa mu untuk melawannya demi bisa membalaskan dendam mu, Dion aku tau aku tidak bisa menghentikan mu dan menasehati mu hanya dengan beberapa patah kata saja, namun sebagai seorang yang mencintai mu aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu dan akan selalu mendukung mu, apapun yang menjadi keputusan mu dan apapun yang terjadi aku akan siap menghadapi nya asal kau selalu bersama ku, maaf karna aku tak bisa menghentikan mu yang telah menjadi budak oleh paman ku sendiri, aku tau ia yang hanya meminjam namamu untuk menakuti lawan nya, aku mengaku salah dan mengakui kebodohan ku yang tidak memberitahu mu tentang ini sehingga kau hanya di manfaatkan oleh nya" batin jesika


Tanpa ia sadari kini cairan bening telah mengalir di pipi nya setelah beberapa saat memandang wajah teduh yang tak berdaya yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur


_____________


di kediaman keluarga 'Shin' saat ini terlihat Medina tengah duduk bersantai di halaman rumah bersama dengan sang suami yang selalu setia menemaninya


"Pa, kau yakin Guan bisa menangani nya, apa dia bisa mendapatkan suntikan dana untuk perusahaan secepat itu, waktu ya hanya tinggal beberapa hari lagi sampai batas yang di berikan oleh bank, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Putra ku" kata Medina yang merasa khawatir dengan keadaan sang putra yang saat ini tengah bertempur dalam kerasnya kehidupan berbisnis


.


.


.


BERSAMBUNG