
''mama tenang saja, aku yakin putra kita bisa menanganinya dengan biak, percayalah guan bisa menghadapi dan menyelesaikan nya, dia adalah anak yang kuat dan tangguh, dan tidak akan mudah menyerah begitu saja demi perusahaan, guan sudah terbiasa dengan masalah seperti ini, dalam dunia berbisnis memang selalu ada pertempuran antar perusahaan''
''aku harap juga begitu, aku hanya khawatir dengan keadaan nya, dia adalah putra kita satu satu nya, aku tidak bisa melihat dia menderita seperti ini''
Waktu terus berjalan kini jam makan siang pun telah tiba, sementara via masih sibuk dengan pekerjaan nya dan melupakan janji nya untuk makan siang bersama dengan sang kekasih,
di halaman gedung perkantoran 'maharani group'
terlihat saat ini guan telah tiba dan baru saja turun dari mobilnya
''tuan, anda sudah datang'' ucap seorang penjaga keamanan yang bertugas yang memang sudah mengenali Guan sebelum nya
''di mana bos mu, apa dia sudah keluar'' tanya guan
''belum tuan, sepertinya ketua masih di lantai 17'' kata penjaga keamanan itu seraya menunjuk kearah lantai atas tempat terletak nya ruangan CEO
''bisakah kau antar saya ke ruangan nya, saya belum pernah masuk sebelumnya jadi saya tidak tahu seluk beluk perusahaan ini''
''silahkan tuan, biar saya antar keruangan ketua'' kata penjaga keamanan itu seraya mempersilahkan guan untuk masuk
dengan senang hati guan mengikuti langkah penjaga itu, sementara keadaan perusahaan masih sepi karna memang tepat saat jam makan siang jadi tidak ada yang mengetahui kedatangan guan kecuali penjaga keamanan dan beberapa pegawai cleaning servis yang masih bertugas atau sudah selesai dengan makan siang nya
sesampai nya di pintu lift khusus yang hanya di gunakan oleh CEO dan dan asisten nya
''tuan silahkan anda melewati lift ini, kita akan bertemu di lantai 17'' kata penjaga keamanan itu
guan langsung mengerti dengan apa yang di maksud oleh penjaga keamanan itu, ia pun masuk lebih dulu, namun...
''pak sebaiknya kau masuk juga'' kata guan yang tiba tiba menghentikan langkah penjaga keamanan itu saat ia ingin beranjak menuju lift khusus pegawai
''tapi tuan, lift ini hanya boleh di gunakan khusus untuk CEO'' kata penjaga keamanan itu
''saya tau itu, tapi saya tidak punya waktu banyak jika harus menunggu anda maka saya akan terlambat'' kata guan
penjaga keamanan itu terlihat ragu dengan apa yang di katakan oleh guan, ia mengerti dengan maksud guan namun ia juga tak berani menurutinya begitu saja karna bagaimana pun guan bukan atasan nya dan. utuh pertimbangan yang matang untuk melakukan sebuah tindakan
guan merasa jengah melihat penjaga keamanan itu yang ia anggap hanya menunda waktu nya, guan pun dengan gesit menarik penjaga itu hingga masuk ke dalam lift bersama nya
penjaga itu sontak merasa terkejut dengan perlakuan guan, ia merasa takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya namun guan meyakinkan nya sehingga ia pun akhirnya diam dan menurut dengan patuh
Tiba di lantai 17, penjaga keamanan itu pun menuntun guan hingga tiba di ruangan CEO tempat via berada
'tok, tok, tok'
''masuk'' ujar via yang berteriak dari dalam
''klek'' pintu pun terbuka dan guan pun masuk kedalam sementara via masih sibuk dengan pekerjaan nya dan tatapan nya masih fokus dengan layar komputer yang ada di hadapan nya sehingga ia tak menyadari siapa yang baru saja masuk keruangan nya
penjaga keamanan itu berniat ingin bicara namun dengan cepat guan menghentikan nya dan memberi isyarat pada penjaga keamanan itu untuk meninggalkan ia dan via di ruangan itu
''katakan ada masalah apa, aku masih sibuk dan buru buru'' kata via yang bicara tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar komputer
guan hanya tersenyum tanpa suara, ia sengaja ingin manikmati kesempatan langka di mana ia bia menyaksikan secara langsung ketika sang kekasih dengan mode serius pada pekerjaan nya
''ku bilang cepat katakan ada masalah apa, jangan membuat ku kesal karna kau sudah menunda waktu ku'' ucap via yang lagi lagi membuat guan tersenyum
entah apa yang di pikir kan lelaki itu sehingga muncul dalam benak nya ingin mengerjai sang kekasih
''ketua, maaf mengganggu kesibukan anda, saya datang kesini hanya ingin mengingatkan bahwa sekarang sudah jam makan siang dan anda harus segera istirahat dan mengisi perut anda juga''
''sebaiknya kau duluan saja, karna pekerjaan ku masih belum selesai'' kata via yang masih belum menyadari
''tapi ketua...'' Guan yang mencoba protes dengan masih berpura-pura menjadi karyawan
''tidak ada tapi-tapian, ini adalah perintah dan tidak perlu mengaturku, aku bisa melakukan nya sendiri tanpa harus kau ingatkan'' ujar via yang berkata dengan nada bicara yang ketus
guan sempat kaget untuk beberapa saat ketika mendengar nada bicara via yang sangar, dalam hati ia berkata '(ya ampun, pantas saja dia sangat di takuti oleh bawahan nya, wong ngomong nya aja udah kayak kenalpot blong, astagfirullah ngomong apa sih aku, bisa bisa nya pacar sendiri di bilang kenalpot blong)
kata guan lagi yang merutuki kebodohan nya yang sudah mengatai sang kekasih
guan berjalan mendekat kearah via tanpa via sadari, guan mengambil poisi duduk tepat di hadapan via lebih tepat nya atas meja di samping komputer via,
via yang menyadari dan menganggap bahwa bawahan nya itu sudah bersikap tidak sopan padanya, ia berniat ingin memarahinya namun ketika via mulai mengangkat kepalanya dengan perlahan, sontak membuat ia terkejut dan sulit mengontrol ekspresi wajah nya
kala mendapati seseorang yang saat ini duduk di hadapan nya ternyata adalah sang kekasih
''ma mas, sejak kapan kamu di sini?'' tanya via dengan tergagap dan masih dalam ekspresi wajah yang terkejut
guan langsung berpindah dari tempat duduk nya dan memeluk via dari belakang serta mengendus-endus bagian leher kanan kiri kekasih nya itu sehingga berhasil membuat via memejamkan mata dan merasakan merinding dengan sensasi yang berbeda
''mas'' ucap via dengan suara yang lirih
''ini adalah hukuman karna sudah berani bicara ketus dengan ku'' gumam Guan tepat di telinga via
"Kau membuat ku terkejut dengan kedatangan mu, kau bahkan tidak mengatakan bahwa itu adalah kau sehingga aku tidak sengaja berbicara ketua seperti tadi" ujar via yang mencoba membela diri nya di hadapan sang kekasih
"Kau yang salah masih mencoba untuk mengelak, kau tau itu semua karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaan mu itu sehingga kau melupakan ku dan bahkan melupakan suara ku"
.
.
.
BERSAMBUNG