
"Alan aku benar-benar tidak habis pikir, sejak kapan kalian bisa bertindak ceroboh seperti ini" Ujar Via yang berkata dengan Suara yang terdengar menahan amarah
"Maafkan aku Ketua" ucap Alan yang makin menundukkan kepalanya
Guan memperhatikan interaksi antara Pria Dan wanita yang di hadapan nya saat itu, diam-diam ia memuji Pesona seorang Via dengan profesi nya yang sebagai seorang mafia
"sejujurnya aku masih merasa ini semua bagaikan mimpi, seorang wanita yang sejatinya sangat lembut dan baik hati yang ku kenal justru memiliki kepribadian ganda yang sisi lain nya adalah wanita yang memiliki hati yang kejam dan tegas, kau memang pantas di kagumi dari sisi manapun sampai kau memiliki julukan sebagai si Nyawa berantai, itu semua karna kau memang wanita yang sangat pemberani, aku bisa melihat nya sendiri dengan mata kepalaku kalau tak ada keraguan dan rasa takut sedikitpun dalam dirimu ketika menghadapi musuh mu dan bahkan kau tidak segan menghabisi nyama mereka dengan kebrutalan mu, aku tidak tau apa pendapat pria lain jika mereka berada di posisi ku, tapi bagiku justru aku malah semakin jatuh cinta padamu " Batin Guan seraya memperhatikan wajah Via
"Katakan pada Robi dan yang lain, 30 menit lagi aku akan tiba di markas, kau sebaiknya bisa pergi lebih dulu nanti aku akan menyusul" titah Via pada Alan
"Baik ketua" Dengan patuh akan menuruti apa yang di perintahkan oleh Via pada nya dan ia pun segera undur diri dan berpamitan pada Via dan juga Guan yang ada di sana
...----------------...
Setelah memastikan Alan sudah benar-benar pergi, Via berbalik kembali menghadap Guan yang kebetulan saat itu guan juga menatap nya sehingga kembali mata mereka saling bertautan untuk beberapa saat
"Eekhmmm, Eekhmmm" dehem Guan yang tiba-tiba menyadari dan mengakhiri tatapan mereka
"Ee Eemm, Ka Guan aku, Bob boleh kah aku minta ijin untuk..."
"Nona Rani, apakah kau masih perlu ijin dari ku untuk pergi?" tanya Guan seraya mengalihkan pandangan nya (Berbaring kembali di tempat tidur sambil membelakangi Via)
Sementara Via yang terkejut melihat Respon Guan yang tiba-tiba berubah terhadap nya
"Apa ka Guan marah saat tau aku akan pergi, tapi ...! " Batin Via yang tak bisa ia selesai kan
Sementara Guan hanya tetap diam dan tak merespon sedikit pun saat via mengajaknya bicara, ia bersikap seolah tidak perduli dengan apapun untuk saat ini karna hati nya yang masih di selimuti sara amarah dan masih tak bisa percaya dengan sepenuh tentang apa yang terjadi di hadapan nya saat ini
"Ka Guan maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa tinggal untuk saat ini, masalah besar telah terjadi dan ini semua menyangkut hidup dan mati ku juga Keluarga ku ('Black klan'), tapi ka Guan tenang saja, setelah semua nya beres aku akan segera menemui mu"
Masih tak ada respon dari Guan meski Via sudah berusaha keras untuk membujuk nya dengan berbagai cara namun Guan seperti nya masih tetap kekeuh pada pendirian nya
"Ka Guan, kalau begitu aku pamit dulu, Samapi ketemu lagi Nanti" ucap Via yang akhirnya memilih pergi karena memang ia sudah tak bisa tinggal lebih lama lagi
Guan membalikkan tubuh nya dan melihat sekilas bayangan punggung via yang akhirnya menghilang di balik pintu
...----------------...
Di sisi lain
Di kediaman Keluarga Shin saat ini Nyonya Medina yang tengah syok hingga tak sadarkan diri karna di kagetkan dengan sebuah berita yang baru saja ia dengar tentang perusahaan Keluarga Shin yang mendapat masalah dan dalam keadaan kritis besar
Setelah beberapa jam Berlalu akhirnya kini nyonya medina bisa membuka matanya dengan sempurna walau pun saat ini keadaan nya masih lemah
"Pa, di mana Guan?" Tanya Nyonya Medina dengan suara yang Lirih dan masih lemah
"Guan masih belum pulang ma, Ponselnya tidak aktif mungkin sekarang dia masih sibuk mengurusi masalah yang terjadi di kantor, mama tenang saja ya, kita yakin saja kalau putra kita itu bisa menangani Semua nya dan mengembalikan perusahaan seperti sedia kala"
"Mama harap juga begitu pa, tapi mama masih ingin bicara langsung dengan guan"
"Ma, Sebaiknya kita tidak usah mengganggu Guan dulu, biarkan dia untuk menenangkan pikiran nya dulu, aku yakin saat ini dia pasti sangat kelelahan karena aku tau persis mengurus sebuah perusahaan itu bukan lah hal yang mudah dan butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus di lakukan demi agar bisa tetap mempertahan kan nya agar tetap berdiri kokoh dan tegak"
Untuk beberapa saat Nyonya Medina terdiam dan mencoba mencerna setiap kata-kata yang di katakan oleh Tuan Heru, nyonya medina berfikir mungkin yang di katakan oleh Tuan Heru ada benarnya juga, saat ini Guan tengah berada di masa-masa yang sulit dan Ia tak boleh menambah beban fikiran Guan lagi
Tiba-tiba Nyonya Medina teringat akan seseorang yang mungkin bisa ia andalkan untuk membantu putranya
"Pa bisakah kau bantu aku untuk menelpon seseorang?" tanya nyonya Medina seraya memegang tangan tuan Heru
"Ma ada apa, katakan aku akan membelinya untuk mu" ujar tuan Heru
"Pa Bukan itu maksud ku, kau tak dengar aku bilang bantu aku menelpon seseorang" Ucap Medina yang merasa kesal dengan suaminya yang salah mendengar apa yang ia katakan
"Aa i iya ma maaf papa salah, tapi mama mau menelpon siapa?" tanya Tuan Heru
"Bantu aku menelpon Nona Rani, Aku ingin bertemu dengan nya"
"Nona Rani! siapa dia?" tanya Tuan Heru yang memang belum tau Dengan siapa nona Rani yang di maksud oleh istrinya
"Papa ini gimana sih, Nona Rani itu Pacar nya Guan" Ucap Medina seraya Tersenyum tipis pada suami nya
"Hah! Guan Punya pacar, tapi sejak kapan?"
Tuan Heru benar-benar merasa Terkejut dengan berita yang ia dengar tentang putra tunggal nya itu
"Sebenarnya mama juga baru tau sejak beberapa hari yang lalu, Mama mengajak lestari dan Guan untuk makan siang di sebuah restoran tapi tak di sangka ternyata Guan juga mengajak pacar nya dan memperkenalkan nya pada mama dan lestari" Ujar Medina yang menjelaskan kronologi pertemuan nya dengan Via
"Mama mengajak mereka makan siang tapi kenapa gak ngajak papa?" tanya Tuan Heru yang merasa tak terima karna ketinggalan sebuah berita tentang putra nya yang ternyata memiliki seorang kekasih
.
.
.
BERSAMBUNG