My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Beni, Kantin dan Cimon



Acara ultah pun usai, senang, gugup grogi menjadi satu. Kami pun kembali ke rumah masing - masing.


"Terima kasih cimon untuk malam ini. Selamat malam, mimpi indah." ucapku dalam hati.


Hari ini aku akan datang lebih awal , sambil senyum-senyum gak jelas. Aku memakai badana pemberian dari Emi. Entah mengapa hari ini aku mau berdandan seperti gadis - gadis lain.


Sesampainya di kelas, "Apa ini? siapa yang nulis dipapan tulis." jeritku marah melihat ke arah papan tulis.


Di papan tulis Ada tulisan besar "Bee love Beni .... Arggg pasti ulah si Beni." kata ku geram.


Kulihat si Beni cengengesan disana. Tanpa pikir panjang lagi, langsung ku kejar dia. Amarahku memuncak aku takut cimon ku membaca tulisan dipapan tulis itu. Aku pukul Si Beni, ku ambil tempat pensil kugetok ke kepalanya (sadis ya).


"Aduh.. aduh sakit Bee, sadis banget si lo." kata Beni pada ku, Aku tetap tak perduli. Ku lampiaskan amarahku ke Beni.


Ku lihat cimon ku berjalan keluar bersama sahabatnya.


"Aduh apakah dia melihat tulisan itu." dalam hati ku bertanya - tanya.


Lalu ku lihat ke arah papan tulis,


"Ah sudah tidak ada tulisan Bee love Beni.. Lega.." kata ku pada diri sendiri. Entah siapa yang menghapusnya. Aku tak perduli siapapun yang menghapusnya tapi aku sungguh berterima kasih.


Beni masih memegang kesakitan, kepalanya yang habis aku pukul menggunakan tempat pensil.


"Rasain lo..." kata ku sambil melotot kearahnya.


"Galak banget lo Bee." kata Beni masih cengengesan.


Aku sungguh heran dengan Beni, sudah sering dia aku pukul, aku lempar tempat pensil ke arahnya, aku cubit sekeras - kerasnya, Beni gak ada kapok - kapoknya terus menggangguku.


Emi akhirnya mengajak ku ke kantin. "Bee, jajan aja yuk." ajak nya padaku.


"Yuk...gue haus juga." kata ku pada Emi.


Lalu aku dan Emi bergandengan tangan menuju kantin.


Ku lihat Cimon ku sedang ngobrol dengan kakak kelas cewek. Di sampingnya ada teman sebangkunya juga.


"Ngapain dia ngobrol ma tuh cewek, senyum - senyum lagi. Ngeselin banget.. reseee." aku marah - marah sendiri, menyaksikan Cimon ku bersenda gurau dengan kakak kelas .


Kalau saja Emi tidak menggandeng tangan ku dengan erat, aku tak akan melanjutkan langkahku menuju kantin. Aku akan kembali ke dalam kelas daripada menyaksikan si Cimon asik ngobrol dengan cewek itu.


Di kelas dia bercanda dengan Raya, sekarang di kantin dia bercanda dengan kakak kelas .


" ...Oohhh gue benar - benar tak ada harapan." aku berjalan lemas menuju kantin.


Ku lewati si Cimon yang masih asik bercanda dengan cewek itu .. sang kakak kelas.


"Pasti dia gak ngeliat gue melewati nya, iya lah lagi asik ma cewek lain." batin ku geram.


Ingin rasa nya aku tarik rambut kakak kelas itu, agar menjauh dari Cimon ku. Tapi apalah daya..itu jelas tak mungkin.


"Hiks siapa sayaaaaa." batin ku menangis.


Aku cemburu melihat keakraban Cimon dan perempuan itu.


Aku gak rela melihat Cimon tertawa - tawa dengan perempuan itu.


"Ya pasti gak bakal ngerti, Cimon aja gak tau kalau gue suka dia." aku berkata sendiri.


"Bee yuhuuu... nih es lo,liatin apa sii?" Emi mengagetkan ku dan cepat ku palingkan wajahku yang sedang asik memperhatikan Cimon ku dengan perempuan itu.


"Makasih Mi." ku ambil es dari tangan Emi lalu aku mengajak Emi kembali ke kelas.


.…...........….....


Hari - hari berlalu dengan cepat, sejak cimon ku sering bercanda dengan Raya. Aku jadi sering bolos sekolah. Entah mengapa aku merasa marah tiap mendengar candaan mereka. Apalagi setiap melihat Raya mencubit cimon.. Arghh jengkel.. aku hanya bisa menahan semua itu. Toh tidak ada yang tau kalau aku suka dia.


Aku lebih sering menghabiskan waktu dikantin dari pada di dalam kelas ku. Di Kantin aku sering melihat cimonku. Cimon dan ganknya sering jajan gorengan mereka ambil lima bayar cuma dua.


"Ah kenapa cimon jadi nakal gitu, dimana cimon gue yang dulu kalem.a" kata ku ketika melihat kenakalan Cimon ku.


Aku memperhatikan mereka dengan tatapan kesel. Setelah mereka berlalu dari kantin, Aku pun menghampiri ibu kantin.


"Bu, nih uangnya..tadi temen saya yang putih, tinggi ambil gorengan lupa bayar." kata ku pada ibu kantin.


"Akhir nya gue yang bayarin juga." batin ku kesal.


"Dasar cimon..gue gak mau lo dosa.. !!" seru ku dalam hati.


Dan kejadian itu bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sering. Lama- lama aku jadi terbiasa membayar gorengan yang cimon ambil, aku membayarnya secara diam - diam.


Tanpa sepengetahuan teman-teman ku. Aku sering melihat Cimon di kantin. Aku sering nonton TV dikantin dan entah ngapain Cimon sering ke kantin juga padahal itu masih jam pelajaran sekolah.


Dikantin aku puas melihat cimon (walau masih tetap sembunyi - sembunyi) . Di kantin gak ada Raya yang bikin aku kesel (mungkin aku cemburu tapi saat itu aku gak menyadari).


Tahun pertama di sekolah aku lalui dengan diam-diam memperhatikan segala gerak gerik Cimon. Percaya tidak percaya aku gak tau nama asli cimon ku. (Aneh ya tapi itu benar).


Tiba tahun ajaran ke Dua, Aku naik ke kelas dua. Kali ini aku gak dianter mama. Aku melarang mama mengantarku.


Emi sudah mulai menjaga jarak denganku, dia memilih duduk dengan teman yang lain.


Sedih rasanya, Dia teman pertama ku. Tapi itu keputusannya. Itu bermula ketika aku mulai akrab dengan Yeni. Yeni rumahnya tidak jauh dari rumahku. Kami suka pulang bareng, jalam kaki sampai rumah.


Beni masih terus mengganggu dan menggoda ku. Kadang dia menulis dengan tipe ex 'Beni Love Bee' di Meja, di dinding, aku yang rajin menghapusnya.


Aku sudah lelah dengan Beni jadi aku biarkan saja. Aku juga udah cape getokin Beni terus, tapi itu anak malah semakin menggoda ku. Pikirku nanti Beni juga akan lelah sendiri.


Hal yang bikin aku senang, karena aku sekelas lagi dengan Cimon cakep ku.


"Yess akhirnya masih bisa liat senyumnya." batinku bersorak.


Walau cimon sekarang sedikit nakal, mungkin karena dia berteman dengan anak - anak rusuh dikelas jadi ya ikut-ikutan nakal.


Yeni berpacaran dengan sahabat Cimon, kami sering pulang jalan bareng - bareng tapi tetap saja aku gak bisa ngobrol dengan si cimon. Setiap Cimon nyapa otomatis lidah gue kelu hhahahaa aneh kan???


Beberapa kali Cimon berusaha membuka percakapan dengan ku, tapi aku masih tidak bisa membuka mulut ku didepan Cimon.


Cimon baru mendekati ku saja aku udah deg deg an gak karuan. Bagaimana bisa aku menjawab ajakan obrolan Cimon, suara ku seperti tidak mau keluar.


....