My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Aku Terpuruk



Hari ini tepat satu minggu setelah hari ulang tahun ku, Yoseph meninggalkan ku untuk selama - lamanya.


Minggu lalu kami masih tertawa - tawa, bersenda gurau. Minggu lalu Yoseph menculik ku pergi ke pantai. Kami merayakan ultah ku dengan kue tart dari pasir. Hari yang paling membahagiakan untuk ku.


Yoseph berjanji tahun depan akan membelikan aku kue tart. Dia berjanji setelah wisuda akan melamar ku menjadi istrinya.


Kini semua telah sirna, semua tidak akan pernah terjadi. My Jo tidak akan pernah kembali.


Ku tatap laut itu, laut dimana abu Yoseph di arungkan. Yoseph pernah meminta kepada mami nya, kalau dia meninggal ingin di kremasi dan abunya disebar di laut. Yoseph ingin aku tidak takut laut lagi. Yoseph akan menjagaku dari laut.


"Bee, jangan takut lagi sama laut ya. Gue akan menjaga lo dari laut." katanya minggu lalu padaku.


Tidak ku sangka ini benar terjadi, sekarang Yoseph benar - benar mengarungi lautan.


Dadaku sesak... sesak sekali, aku terduduk lemas memandangi lautan.


"Jo.. gue sayang lo, tetaplah tersenyum disana." air mata ku tak mau berhenti mengalir.


"Bee, ayo kita pulang !" Eva berusaha membantu ku berdiri.


"Va, gue masih mau tetap disini. Lo pulang duluan aja, gak apa - apa kok." aku berbicara tanpa melihat wajah Eva. Aku masih tak sanggup meninggalkan Yoseph sendiri di lautan.


Ingin rasanya saat itu aku ikut bersama Yoseph. Aku ingin menemaninya, aku tak ingin meninggalkan nya.


"Bee, Jo udah tenang disana. Ayo kita pulang, udah sore. Angin nya kenceng banget, lo masih belum sehat Bee." Eva masih terus membujuk ku.


Dengan sangat terpaksa akhirnya aku menuruti Eva. Dengan langkah gontai aku melangkahkan kaki ke arah mobil keluarga Yoseph.


Supir pribadi keluarga Yoseph sudah menungguku. Mami Yoseph memang menyiapkan supir untuk menjemput dan mengantarku pulang dari acara kremasi Yoseph.


Didalam mobil aku tak berbicara sepatah kata pun. Aku coba memejamkan mata, tapi air mata malah semakin mengalir deras. Aku masih tak percaya, aku menyaksikan tubuh orang yang ku sayang menjadi abu. Aku mengantar nya ketempat peristirahatan terakhirnya.


Yoseph benar - benar menepati janjinya untuk menjaga ku dari lautan.


"Jo, gue kangen. Sekarang harus bagaimana gue Jo ?!" aku hanya bisa berbicara dalam hati.


Sesampai dirumah, aku mengurung diri di dalam kamar. Keadaanku sungguh kacau, saat itu aku benar - benar hanya mau sendiri.


Berhari - hari aku mengurung diri ke kamar, berhari - hari pula aku bolos kuliah. Aku hanya menangis, menangis dan menangis. Aku sungguh kehilangan sosok Yoseph.


Tubuhku mulai drop, aku depresi berat. Tak ada kata - kata yang keluar dari mulut ku. Aku hanya menangis mengingat semua tentang Yoseph. Aku sungguh kehilangan sosok jahil itu.


Orang tua ku berkali - kali menghibur dan menasehati ku. Tapi aku benar - benar tidak bisa berpikir jernih. Sungguh kacau keadaanku saat itu, aku sungguh terpuruk.


Hampir dua minggu aku bolos kuliah, akhirnya aku mendapat surat peringatan dari kampus ku. Dengan wajah yang pucat aku memaksakan diri pergi kuliah.


"Pagi tante, Bee nya ada?" suara yang aku kenal sudah ada didepan pintu ku.


Iya dia Lintang teman sekampus ku, cowok yang dicemburui oleh Yoseph. Sudah berkali - kali dia datang ke rumahku. Tapi aku tidak pernah mau menemuinya.


"Hai Lintang, kenapa?ngapain lo kesini" kataku ketus padanya.


"Bee, ayo ke kampus bareng." Lintang berkata ramah. Dia tidak marah aku berkata ketus padanya.


"Gak usah, ntar gue naik ojek aja. Jo pasti marah kalau liat gue naik motor sama lo." kata ku setengah mengusir dia.


Degh aku tersadar, betul kata mama. Jo ku sudah berbeda alam denganku. Aku terduduk lemas di kursi.


"Bee, lo gak apa - apa?" kata Lintang panik melihatku terduduk lemas.


"Lintang, ayo kita ke kampus." aku berdiri seperti orang linglung. Aku pergi begitu saja tanpa pamit kepada mama.


Sampai di kampus aku melihat Eva bersama Rio. Lalu mereka menghampiriku.


"Bee, kangen. Lo baik - baik aja Bee? muka lo pucet gitu." Eva memelukku erat.


"Iya Va." aku berusaha tersenyum pada Eva, aku tak mau melihat sobat ku ini khawatir.


Eva menuntunku memasuki kelas. Aku duduk disebelah Eva. Aku hanya duduk, Dosen menerangkan apapun aku tak memperhatikannya.


Aku menoleh kesamping, "Jo, biasanya lo duduk disitu sambil memandangi gue, sepi Jo gak ada lo."


Sampai mata kuliah selesai aku hanya melamun. Eva yang memperhatikan ku berusaha menghibur. Aku hanya tersenyum pada Eva.


Ku berjalan ke Lab komputer. Di sana aku pertama kali bertemu Yoseph. Perkenalan yang konyol. Perkenalan yang diawali dengan pertengkaran.


"Jo, gue kangen." kata ku lirih.


Semua tempat dan sudut kampus, semua mengingatkan ku pada Yoseph. Hati ku sungguh hancur.


Hari - hari berlalu sangat lambat, hari ku tak berwarna lagi. Separuh jiwaku telah pergi untuk selama - lama nya.


Kampus sungguh membosankan tanpanya.


Nilai - nilai ku menurun drastis. Aku sering membolos kuliah.


Akhirnya bea siswa ku dicabut, karena nilai - nilai ku sungguh menurun drastis. Tak ada satu mata kuliah pun yang mendapatkan Nilai A. Semua mata kuliah ku mendapat Nilai C dan D.


Aku berhenti kuliah, di teruskan pun aku sudah tidak sanggup harus tiap hari melihat bayang - bayang Yoseph di semua sudut kampus.


Semua sudut kampus mengingatkan ku pada sosok Yoseph. Aku masih belum bisa menerima kalau Yoseph meninggalkan ku.


Lintang yang dengan sabar menemani ku tidak bisa meluluhkan hati ku.


Semakin Lintang mendekati ku, aku semakin membencinya.


Aku tak mau Lintang dekat - dekat dengan ku. Karena Yoseph pernah bilang "Bee, jangan dekat - dekat dengan Lintang. Gue gak suka, gue cemburu."


Setiap Lintang mendekatiku, kata - kata Yoseph terus terngiang-ngiang di telingaku.


Aku masih merasa Yoseph terus memperhatikan gerak - gerik ku di kampus.


"Bee, sadarlah.. Yoseph udah gak ada, lo harus bisa lupain Yoseph. Biar gue yang jagain lo sekarang Bee. Lo harus mencoba membuka hati lo untuk yang lain Bee." kata Lintang suatu hari.


Aku marah mendengar itu, dengan refleks aku menampar wajah Lintang keras sekali. Aku tidak suka dengan kata - kata Lintang. Memang siapa dia berani sekali meminta ku melupakan Yoseph.


Untuk saat ini tidak ada yang bisa menggantikan Yoseph. My Jo masih terukir indah di hati ku. Lagi pula memang aku tak pernah menganggap lebih Lintang. Dia hanya teman bagi ku, ya hanya teman tidak lebih.