
Setelah puas seharian merayakan ultah ku di pantai, akhirnya Yoseph mengantarku pulang.
"Terima kasih ya Jo, ini ultah yang sangat berkesan buat gue." kata ku tulus pada Yoseph.
"Maaf cuma ini yang bisa gue kasih sama lo Bee, tahun depan gue janji akan kasih yang lebih spesial untuk lo." Yoseph mengacak - acak rambut ku.
"Bee... Jo.. ya ampun dari mana aja kalian ?? telp gak ada yang diangkat, bikin panik orang aja kamu, ayo cepet masuk.. mama udah bikin bihun goreng tuh." kata Papa sedikit marah.
"Maaf om tadi Bee nya saya culik ke pantai.. maaf ya om belum ijin." Yoseph berkata sambil senyum - senyum ke papa.
Ya Tuhan..masih bisa dia senyum - senyum gitu, padahal papa Bee sudah memasanga muka marah nya. Bee hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap Yoseph yang santai ini. Lalu Bee dan Yoseph mengikuti Papa masuk ke dalam rumah.
"Bee kamu dari mana??? masih pake baju tidur gitu ? ya ampun anak gadis... !!! cepat mandi !!! setelah itu kita makan bihun goreng ya.. hari ini kamu ulang tahun kan." mama masih sibuk menata makanan di meja makan.
"Hihihi iya maap ma, Jo tuh yang nyulik Bee." kata Bee sambil menunjuk ke arah Yoseph, lalu berlalu pergi membersihkan diri.
Tidak berapa lama Bee keluar dengan rambut yang masih basah. Kali ini dia sudah tidak mengenakan baju tidur . Bee mengenakan kaos dan celana pendek kesukaannya.
"Ayoo Jo.. ikut makan." ajak mama pada Yoseph yang masih asik menemani papa mengobrol, entah apa yang di obrolkan nya.
"Dengan senang hati tante, Jo lapar.." kata nya bergegas ke meja makan.
Yoseph memang biasa makan bareng bersama keluarga ku. Yoseph sangat suka masakan mama ku. Yoseph sering bercerita dia jarang sekali makan bersama keluarga nya. Mami papinya sibuk bekerja, Yoseph adalah anak tunggal. Yoseph betah main berlama - lama di rumah ku.
"Keluarga lo hangat Bee, gue mau jadi bagian dari keluarga lo .. Setelah Wisuda gue mau lamar lo ya.. udah gak usah pake pacar - pacaran lah." kata Yoseph suatu hari.
Aku hanya tertawa mendengar perkataan Yoseph. Tapi terselip rasa bahagia saat itu, Yoseph serius tidak main - main dengan ku.
Senang nya ada seorang laki - laki yang begitu menyayangi dan melindungi ku. Semakin hari aku semakin yakin kalau aku menyukai Yoseph karena dia Yoseph bukan karena wajahnya yang mirip cimon cinta pertama ku.
Aku bahagia bila bersama Yoseph, sedikit demi sedikit aku mulai bisa melupakan dan merelakan cinta pertama ku. Yoseph mengisi hari - hari ku dengan tawa. Aku mulai jarang menangis karena merindukan Sea cimon ku.
"Boleh nambah ya tan ?" kata Yoseph pada mama ku.
"Makan semau kamu Jo, tante bikin banyak. Mau bawa pulang juga gak apa - apa." kata Mama tersenyum.
"Asikkk, masakan tante the best deh pokoknya." Yoseph mengacungkan jempolnya ke mama.
Kami semua tertawa melihat tingkah Yoseph yang memuji mama.
"Om tante, nanti Yoseph kalau sudah wisuda boleh gak mau lamar Bee." Yoseph dengan santai nya berkata itu.
"Hukk hukk.." Bee terbatuk kaget mendengar Yoseph berkata itu pada mama dan papa.
Bukan hanya aku saja yang kaget, tapi kedua orang tuaku pun tak kalah kagetnya dengan perkataan nekat dari Yoseph.
Ajaib, Papa tidak marah pada Yoseph. Papa malah merestui Yoseph. Benar - benar tak habis pikir dengan sikap papa. Papa yang selama ini aku kenal itu tegas, protektif , galak dengan teman - teman ku yang cowok, malah aku gak boleh pacaran sama papa. Dengan Yoseph papa begitu akrab.
"Papa... apaan sii.. main suruh dateng lamar aja, Bee mau ngejar cita - cita dulu lah." kata ku dengan muka yang sudah seperti kepiting rebus.
"Ha ha ha Bee muka lo merah, denger kan lo Bee om udah ngasih ijin, tunggu 2 tahun lagi ya." kata Yoseph tersenyum penuh kemenangan
"Ish... ngacoo." aku mencibir pada Yoseph.
"Om, tante titip Bee ya jangan sampe di ambil orang, Jo lulus kuliah nanti bawa orang tua Jo untuk lamar Bee. Serius lo ini om tante, Jo lagi gak bercanda." Yoseph menghentikan makan nya dan menatap mama papa dengan wajah serius.
"Ha ha ha iya iya, om akan jagain dan gak kasih Bee pacaran dengan siapa - siapa. Tapi kalau kamu tidak lamar Bee pada saat kamu lulus kuliah, Om akan ijinin Bee cari yang lain. Ingat baik - baik ya Jo." papa tersenyum pada Yoseph.
"Siap om.." Yoseph memberi mengangkat tangan nya memberi hormat pada papa.
"Jo, jadi gak bihun nya di bungkus ?" tanya mama, yang dari tadi hanya tersenyum mendengar percakapan Yoseph dan papa.
"Jadi dong tante, nanti buat mami pasti suka dapet bihun goreng dari calon besan nya hi hi hi." Yoseph tersenyum pada ku.
"Makin ngaco deh lo Jo." ku timpuk Yoseph dengan tissue makan.
"Pacaran aja gak, main lamar - lamar anak gadis orang." kata ku pelan.
"Loh ,papa lebih suka anak muda model Jo gini Bee. Gak usah pacar - pacaran kalau sudah cocok dan klik ya langsung minta sama orang tua nya. Jarang anak muda seperti ini !! itu tandanya beneran sayang dan serius ya Jo." papa membela dan memuji Yoseph.
"Sudah habisin dulu itu bihun goreng nya pah !! , Jo udah nambah tuh. Papa gak abis - abis." mama berkata pada papa.
"Ah tante Jo jadi malu, enak banget sii bihun goreng buatan tante." Yoseph terus memuji masakan mama.
"Lebay lo Jo, bilang aja laper ..huuu pake muji - muji masakan mama." aku menggoda Yoseph.
"Ihhh emang beneran enak siii.. sirik aja lo Bee." Yoseph mencibir pada ku.
Selesai makan Yoseph berpamitan pada mama dan papa. Yoseph sangat senang karena mama benar - benar membungkus kan bihun goreng untuk mami Yoseph.
Mama dan Papa belum pernah bertemu langsung dengan kedua orang tua Yoseph.Tapi Mami Yoseph sering menitip salam untuk kedua orang tua ku. Aku beberapa kali pernah diajak makan malam dengan mami Yoseph. Hanya bertiga, aku, mami Yoseph dan Yoseph. Aku belum pernah bertemu dengan Papi nya. Menurut cerita Yoseph, Papinya jarang di Indonesia. Papi nya bekerja sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan.
Aku sangat paham kalau Yoseph itu sangat kesepian, Mami nya sibuk kerja sedangkan Papi nya jarang pulang. Yoseph anak tunggal tidak heran kalau Yoseph betah berlama - lama main di rumah ku.
"Hangat dan ramah." itu yang selalu Yoseph bilang tentang keluarga ku.
....