My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Putus Dengan Ryan



Genap sudah tiga bulan aku berpacaran dengan Ryan. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai membuka pintu hati ku untuk Ryan. Aku berpikir Ryan sungguh perhatian dengan ku. Aku harus bisa menerima dia dengan sepenuh hati ku.


Hari ini hari minggu, sekali - kali aku ingin menelepon Ryan terlebih dahulu. Biasanya Ryan yang selalu menghubungi ku. Ku ambil gagang telpon rumah ku, lalu ku putar nomer Handphone Ryan.


Terdengar nada sambung, "Ah terhubung, Ryan pasti kaget aku menghubunginya terlebih dahulu." aku senyum - senyum sendiri sambil terus menunggu Ryan mengangkat telponnya.


"Hallo Ica, dimana kamu? aku udah nunggu di tempat biasa." terdengar suara Ryan di ujung telp sana.


Degh.. hampir gagang telpon yang masih menempel di telinga sebelah kanan ku terlepas dari genggaman ku. Ryan menyebut nama ku dengan Ica. Setau ku Ica adalah rekan kerjanya di pulau Dewata. Aku pernah dikenalkannya via telpon saat Ryan menelpon ku.


Saat itu Ryan sedang asik bersenda gurau denganku via telpon. Dan ada suara manja seorang gadis memanggil sayang ke Ryan. Aku tanya itu siapa? dengan gugup Ryan berkata itu adalah rekan kerja nya yang bernama Ica.


Lalu Ica mengambil Handphone yang dipegang Ryan dan berkata, "Hai, kamu Bee ya pacar Ryan. Salam kenal aku Ica, boleh gak berbagi Ryan denganku?" kata Ica kala itu.


"Bee, hallo sayang.. jangan dengerin ya..Ica memang suka bercanda" kata Ryan sambil tertawa.


Saat itu aku menganggap ucapan Ica hanya bercanda, toh dia pun tau kalau aku pacar Ryan.


Dan sekarang Ryan menyebutku dengan nama Ica. Dan sedang menunggu Ica di tempat biasa. Oh Tuhan itu berarti mereka sering janjian di tempat itu.


"Hallo Ica..kok diem aja sii..kamu dimana? aku udah nunggu dari tadi nih..hallo sayang, sakit gigi ya gak mau jawab?" kata Ryan yang masih menganggap Ica yang menelpon nya.


"Sayang ?.. Ica..? Iyan.. ini Bee." kata ku menahan marah.


"Bee. ?? iiiitu kaaamu? maaffff..maaf, tumben Bee telp aku duluan." kata Ryan dengan suara yang sedikit gugup.


"Kenapa? gak boleh? kecewa aku yang telp. Bukan Ica sayang?? haaaa." kata ku marah.


"Bukan begitu Bee." Ryan berkata..


Sebelum Ryan melanjutkan kata - kata nya segera ku tutup telp itu.


"Dasar Playboy akut, gue kira dah sembuh. Susah sembuhnya ternyata." lalu ku ambil topi dan tas yang berisi peralatan latian ku.


"Mending latian, daripada buang - buang waktu mikirin playboy akut." gerutu ku.


Seharian aku matikan Handphone ku. Ku habiskan waktu di dojang bersama teman - teman yang sejak berpacaran dengan Ryan aku sudah jarang berkomunikasi dengan teman - teman ku ini.


Ryan selalu melarang ku bergaul dengan teman - teman cowok.


Dan bodohnya aku selalu menuruti permintaan Ryan yang sangat mengekang.


Dan setelah aku menuruti permintaan nya, dengan enak nya dia menduakan ku disana.


Sungguh gemas rasanya dia memanggilku dengan nama Ica sayang.


"Arghhhhh... rese lo Yan.." ku tendang target sambil membayangkan wajah Ryan.


Senyum Ryan semula manis kini aku sangat membenci senyum itu.


Larut malam aku baru kembali ke rumah, tadi selesai latian aku sengaja ikut nongkrong di depan dojang ku. Aku mengikuti alunan gitar teman - teman ku. Sudah lama juga aku tidak ikut nongkrong bersama mereka.


Tertawa bersama teman - teman ku membuat ku melupakan kekesalan ku dengan Ryan.


Penatku sedikit berkurang, emosi ku mulai stabil.


"Bee, kok tumben pulang nya malam? emang mau ada kejuaraan lagi?" kata mama padaku.


Biasanya kalau aku pulang latian malam, akan ada kejuaraan taekwondo yang akan aku ikuti.


"Gak ada mah, tadi Bee nongkrong dulu sama teman - teman, udah lama gak gabung sama mereka." kata ku menjelaskan.


"Bee mandi dulu ya mah, terus mau langsung tidur. Besok mau jalan ke kantor pagian." kata ku pada mamahku.


Ku bergegas ke kamarku, membersihkan diri lalu aku mencoba memejamkan mata.


"Ternyata pacaran ku cuma bertahan tiga bulan." aku pun tersenyum.


Pagi - pagi aku sudah rapi dan bergegas menuju kantor. Hari ini ada meeting dengan big bos, dan harus datang 30 menit sebelum meeting di mulai.


Handphone masih aku matikan, karena aku tau pasti Ryan sedang berusaha menghubungi handphone ku. Karena dia berkali - kali menelpon ke telp rumah ku dan aku tidak mau menerima telp dari nya.


Aku ingin menjernihkan pikiran ku dulu. Ada meeting penting hari ini, dan aku tidak ingin masalah pribadi ku mengganggu pekerjaanku, aku harus profesional. Harus bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan.


Sudah tiga hari handphone aku matikan, dan ini adalah hari ke tiga. Rasanya sudah cukup aku melarikan diri dari Ryan. Masalah harus segera diselesaikan.


Ku aktifkan handphone ku, dan banyak pesan dari Ryan. Kebanyakan adalah permintaan maaf. "Ah Iyan, lo gak berubah ya. Banyak permintaan maaf dari lo itu menandakan lo mengakui hubungan lo sama Ica. Sifat lo masih sama seperti dulu Yan." aku tersenyum kecut.


Tiba - tiba handphone ku berdering, ku lihat itu dari Ryan. Segera ku angkat handphone ku, "Hallo, iya Yan, aku udah maafin kok. Santai aja Yan. hmmmm kita temenan lagi aja ya." kata ku tanpa memberi waktu untuk Ryan berbicara.


"Bee, kok gitu ngomongnya, aku masih sayang kamu Bee. Maaf masalah Ica, aku gak pacaran sama dia, tapi memang aku akui kita sering jalan." kata Ryan menjelaskan.


"Udah lupain masalah Ica, bukan itu masalah utama nya Yan. Aku lebih nyaman jadi temen kamu daripada jadi pacar kamu. Gak apa - apa ya kita temenan lagi. Biar gak saling nyakitin. Maaf ya Yan, aku gak bisa lanjutin hubungan ini." entah mengapa aku mengucapkan kata - kata putus tapi tidak ada rasa sedih malah sebaliknya aku merasa beban ku telah lepas.


Tidak ada suara dari ujung sana, sepi.. "Yan.. hallo Yan..kamu masih disana?" kata ku lagi.


"Iya Bee, aku masih disini, jadi beneran kamu gak bisa maafin aku Bee. Aku gak mau putus Bee." suara Ryan terdengar lirih.


"Aku udah maafin kamu Yan, tapi maaf aku lebih nyaman menjadi sahabatmu aja. Kita temenan aja ya Yan, please..aku gak mau kita musuhan. Aku mau kita seperti dulu lagi. Kamu asik sebagai sahabat aku, bukan sebagai pacar aku." kata ku tanpa ragu.


"Baik lah kalau itu keputusan kamu Bee, bye Bee." Ryan menutup telepon nya.


Tak ada air mata yang menetes di pipiku, perasaan ku sungguh damai. Aku yakin ini adalah keputusan yang tepat. Kini aku resmi menjadi jomblo lagi.


........