My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Maaf Rei Aku Belum Bisa Move On



Sabtu malam aku bersama beberapa temanku di undang untuk pelantikan Paskibra di Bumi Perkemahan Cibubur oleh salah satu SMPN. Aku adalah wakil PASKIBRA di Sekolahku. Jadi kalau ada undangan dari sekolah lain, aku dan Ketua PASKIBRA akan mewakili sekolahku untuk datang.


Di Cibubur banyak perwakilan dari sekolah - sekolah lain. Salah satunya STM T, kebetulan aku banyak mengenal anak PASKIBRA STM T.


Salah satu siswanya selalu mendekatiku, waktu itu aku kelas 1 SMEA dan dia Kelas 2 STM. Dia sempat melantik waktu aku mengambil lencana.


"Hai Bee, udah lama? sama siapa?" sapa Rei ramah sambil mendekatiku.


"Hai Rei, baru aja dateng..tuh sama mereka." aku menunjuk kearah teman-temanku.


"Bee, makin manis aja." Rei mulai menggombal.


"Biang gula kali manis." ucapku tertawa pada Rei.


Rei Satu tingkat di atas ku, tapi aku tidak memanggilnya kakak. Aku cukup akrab dengan Rei. Hampir kalau ada acara pelantikan sekolah - sekolah lain kami bertemu.


Rei juga sering ke sekolah ku , karena dia salah satu pelatih Paskibra di sekolah ku.


Cukup banyak gadis - gadis disekolah ku yang menaruh hati pada Rei. Bisa dibilang Rei salah satu idola gadis - gadis disekolah ku.


Sikapnya yang ramah mungkin itu menjadi salah satu daya tarik nya di samping dia mempunyai wajah yang cukup manis.


Tapi entah mengapa aku tak jatuh hati pada Rei. Aku hanya menganggap Rei tak lebih dari senior dan teman akrab ku.


Lama kami berbincang - bincang, lalu salah satu temannya menghampiri.


"Gue cari kemana-mana ternyata ada disini." kata temannya.


"Hai, Bee.. pantes Rei betah ada lo." kata salah satu temannya tersenyum nakal padaku (entah siapa namanya, aku payah dalam mengingat nama)


Ku balas dengan senyuman kecil.


"Ayoo kalian ikut gue !!! waktunya pembagian pos." katanya lagi


Aku dan Rei segera bangkit dan pergi mengikuti langkah temannya yang aku lupa siapa namanya.


Aku dan Rei bertugas di Pos yang sama.


"Entah ini suatu kebetulan atau disengaja Rei agar bisa satu pos denganku." batinku berkata tapi aku tidak protes.


"Bee, kita satu pos." kata Rei tersenyum manis padaku, entah apa arti senyumnya itu.


"Ayo kita jalan ke pos !!!!" tanpa persetujuanku, Rei menarik tanganku.


Aku terpaksa mengikutinya melangkah menuju pos jaga, pasrah tangan ku ditariknya.


Sesampainya Di Pos, Aku dan Rei berjaga di Pos PBB (peraturan baris berbaris). Sambil menunggu murid - murid SMP yang akan dilantik datang ke pos, Rei mengajak ngobrol aku.


"Bee, gimana ?" katanya pada ku


"Apaan yang gimana? ya gak gimana -mana." kataku pura- pura gak tau yang dia maksud.


Minggu lalu Rei nembak aku, tapi belum aku jawab. Aku memang hanya menganggap Rei tidak lebih dari seorang teman.


"Ah Bee, lo mah suka pura-pura deh." katanya lagi dengan senyum manisnya, sambil melempar ranting kecil ke arah ku.


"Malam kak." Lima anak SMPN berjalan menghampiri.


" .... penyelamatku muncul." kata ku dalam hati, aku senang anak - anak SMP ini datang. Mereka menyelamatkan ku dari pertanyaan Rei padaku.


"Malam adik - adik semua." kata ku kompak bersama Rei.


"Siap kak." kata mereka kompak.


Rei mulai memberi aba - aba, lalu mereka mempraktekannya.


Ada salah satu anak yang salah. Dan sebagai hukumannya mereka harus menuruti apa perintah aku dan Rei.


"Kamu yang pakai pita biru sini !!!" Rei menunjuk anak yang salah itu.


Si anak berpita biru berlari menghampiri Rei dengan wajah ketakutan.


"Hei kamu, tolong bilang sama kakak yang disana!!" sambil menunjuk ke arahku


"Mau gak jadi pacar kakak Rei ?" katanya kepada anak itu.


Lalu anak itu berlari menghampiriku. Tanpa anak itu berkata aku sudah mendengar jelas apa kata Rei.


"Dasar Rei, bisa - bisa nya dia memanfaatkan anak ini." pikirku mau marah tapi lucu dengan sikap Rei.


"Temenan aja, Kakak Bee belum mau pacaran." , kataku tersenyum kepada anak itu.


Belum juga gadis berpita biru itu berkata kepada Rei. Rei sudah menghampiriku. "Bee, jadi gue ditolak lagi."katanya kecewa.


Aku berusaha tertawa.. "Maaf ya Rei, gue gak bisa pacaran ma lo. Lo terlalu cakep untuk gue." kataku berusaha bercanda dengan Rei.


Tanpa berkata apa - apa padaku, Rei berlalu meninggalkanku dengan wajah kecewa nya.


"Adik - adik, sini buku kalian kakak tanda tangan dan stempel." kata ku kepada anak - anak SMPN itu yang hanya terdiam melihat aksi kami.


Aku menghampiri Rei, "Rei, jangan gitu lah..kita temenan dah lama. Masa gara - gara ini lo cuekin gue sii." kata ku membujuk Rei.


"Muka lo jelek tuh, para fans lo entar kecewa deh. Mereka rame - rame ngedemo gue.. Bee kenapa lo buat muka Rei ku jelek." kata ku menggoda Rei yang masih ngambek pada ku.


"Hmm iya, gue cuma kecewa aja, lo kan jomblo susah banget sii buka hati lo untuk gue." Kata Rei kecewa.


"Ah lo Rei, Gue gak bisa atur perasaan gue. Kalau bisa udah dari kelas 1 gue terima lo." kata ku sambil mencoba tertawa.


"Lagian gue lebih nyaman begini aja sama lo Rei, kalau lo jadi pacar gue..gue bisa sakit ati terus, fans lo banyak." kataku menjitak kening Rei.


"Hmm oke lah kalau itu mau lo, tetep temenan ya. " kata Rei sambil mengacak-acak rambutku.


"Jangan nyesel lo nolak gue mulu ya Bee." Rei menatapku dengan senyum tipis nya.


"Ha ha ha never... gue malah lebih nyesel kalau gak bisa temenan lagi sama sang idola ini." aku berkata pada Rei sambil terus menggoda nya. Berharap Rei tidak terlalu kecewa dengan penolakan ku yang entah ini sudah ke berapa kalinya aku menolak Rei.


Tapi Rei selalu berusaha mendekati ku dan tidak pernah bosan mengutarakan isi hati nya.


"Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya Rei meminta gue untuk menjadi pacar nya." kata ku dalam hati.


"Semoga gue dan Rei masih bisa berteman baik." doa ku dalam hati.


"Rei.. tetep jadi temen gue yang lucu, asik." kata ku pada Rei.


"Gue sih mau nya lebih dari seorang teman, tapi apa boleh buat gue di tolak mulu ma lo. Ya pilihan gue cuma bisa jadi temen lo aja kan Bee." Rei melirik kepadaku. Terdengar jelas nada pengharapan dari suara nya.


"Hihihi maaf ya Rei ganteng, gue masih belum mau pacaran. Gue fokus sama sekolah aja dah. Belum siap harus jadi pacar orang." aku pun menepuk - nepuk pundak Rei.


.....