My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Yoseph Menembak ku



Sepanjang jalan aku sengaja mengarahkan pndangan ku ke arah jendela mobil. Aku malu pada Yoseph, ternyata dia tau kalau aku memperhatikannya. Aku hanya penasaran mengapa wajah yang sama duduk disebelah ku. Rasa kangen mulai menyelimuti. Bayangan Cimon datang lagi. Kantin SMP muncul lagi dalam ingatan ku. Kantin yang penuh kenangan dengan dirinya. Si Cimon nakal bersama gank nya mengambil gorengan lima lalu hanya membayar dua. Dengan diam - diam aku membayar kekurangan gorengan itu. Itu salah satu bentuk perhatian ku pada Cimon ku. Walau Cimon ku tak tau apa yang sudah aku lakukan untuknya, tapi aku senang sudah bisa membantu nya. Aku sungguh menyukai semua tentang Cimon ku.


"Sea dimana lo sekarang ?, Apa kabar lo ? hilang tanpa pamit. Tau gak sii lo sampai saat ini gue masih sangat menyukai lo." ku pejamkan mata agar air mata ini tidak menetes.


"Liatin jalanan mulu, ngapalin jalanan ya ?" kata Yoseph membuyarkan lamunanku.


Aku hanya diam seakan tak mendengar perkataannya.


"Bee, rumah lo daerah mana ?" tanya nya lagi padaku.


"Kepo." jawabku singkat.


"Ih gak mau kasih tau ?Ya udah entar gue cari tau sendiri." kata Yoseph tertawa.


Aku tak menjawab perkataannya, aku lebih memilih melanjutkan melihat jalan Ibukota yang selalu padat ini.


Rio masih sibuk mengemudikan mobilnya, dengan sesekali terdengar tawa kecil Rio dan Eva. Pasangan yang selalu mesra dimanapun mereka berada.


Aku tak tau apa mereka mendengar obrolan Yoseph dengan ku. Atau mereka sibuk dengan obrolan mereka sendiri.


"Akhirnya sampai juga.." terdengar suara Eva dengan senang.


"Yuk ah cepetan ! cacing - cacing gue dah demo nih." ajaknya pada ku.


"Yuk samaaaaa.. tempat biasa kan ?" kata ku pada Eva seraya menggandeng pundaknya.


"Hai para gadis tungguin gue, entar gue diculik." teriak Yoseph.


"Gak ada yang mau nyulik lo Jo." Rio berkata pada Yoseph.


"Berisik ya dia." aku melirik pada Yoseph.


"Siapa ? Jo ? hahha dari dulu." kata Eva padaku.


"Tapi cakep kan ? Ayoo ngakuuuuu !!!!" Eva mulai menggodaku.


"Hoax ... fitnah... dusta." Aku pun tertawa.


Sesampainya di tempat makan langganan kami, Kami segera duduk dan memesan makanan.


"Biasa ya.. gak pake lama." Candaku pada pelayan yang sudah aku kenal itu.


Ini tempat makan favorit kami, harganya tak terlalu mahal tapi rasa bikin ketagihan.


"Dah lama gue baru kesini lagi." Kata Yoseph pada Rio.


"Iya terakhir lo kesini, kita masih SMA." kata Eva ikut berkata.


"Ha ha ha iya iya bener, pas kita lulus - lulusan." Yoseph berkata lalu tertawa.


Lalu mereka bertiga bersenda gurau, menceritakan masa - masa SMA mereka. Aku memperhatikan keseruan mereka.


Mereka bertiga terlihat akrab sekali, Sesekali mereka saling meledek.


"Bee, tau gak lo ? si Jo itu dari SMA jomblo. Kasian dia gak laku - laku." ejek Eva pada Yoseph.


"Aww .. emang lo gak laku." Kata Eva lagi.


"Gue belum mau pacaran, belum nemu yang cocok dan ribet cewe - cewe nya." Kata Yoseph sambil meminum es kelapa pesanannya.


Aku dan Rio hanya tersenyum melihat kelakuan Eva dan Yoseph.


"Jo.. nih ada jomblo juga. Lo sama Bee cocok dah, kita bisa doble date. Seru kan ?" Kata Rio pada Yoseph.


"Apaan sii yo, ngaco nih." kata ku melotot pada Rio.


"Udah gue tembak, belum jawab dia." kata Yoseph santai.


"Apaaaa.. kapan..???" Teriak kaget Eva dan Rio. Lalu mereka mentap Yoseph dan aku bergantian.


"Paan.. jangan liatin gue gitu !" Protesku pada Eva dan Rio.


"Kapan juga gue ditembak ? ngaco nih bocah, kenal aja baru di lab." kataku lagi.


"Dii lupa dia, tadi di Lab gue nembak lo . Bee, jadi pacar gue yuk. Gitu kan tadi gue bilang." kata nya tanpa malu.


"Ngaco lo, kenal aja baru dah ngajakin pacaran." kata ku pada Yoseph, ku tatap dia dengan perasaan jengkel.


"Siapa bilang baru kenal ? gue dah kenal lo dari lo ikut tes masuk kampus." kata Yoseph pada Bee.


"Dari situ gue udah suka sama lo Bee." katanya tertawa.


"Iya Bee, Jo sering tanya - tanya lo tuh sama gue, penasaran banget dia sama lo." kata Eva tersenyum.


"Kalian ini ya, mulai deh godain gue." kata ku berusaha tertawa.


"Jadi di terima nih si Jo ?" lirik Rio pada ku.


"Asikkkk jadian dong." goda Eva pada ku.


"Joo makanan kita semua lo yang bayar ya." kata Rio pada Yoseph.


"Tenang aja." Yoseph tersenyum.


"Apaan sii kalian ini, siapa yang jadian? ngawur dah.. udah cepetan makan ah." kata mengalihkan pembicaraa , aku sungguh malu dibuatnya.


"Bee, muka lo lucu kalau malu." Yoseph berbisik kepadaku.


"Rese nih cowok bikin gue malu aja." batinku.


"Cieeee Bee, gak jomblo lagi dong." tawa Eva.


"Woiiii berisik ah kalian ini." kata ku lagi.


Yoseph tersenyum ke arah ku, senyum yang sama manisnya dengan milik Sea. Bisa dipastikan wajahku merah seperti kepiting rebus saat itu.


Lagi - lagi senyum itu lagi. Senyum yang mengingatkan ku pada Sea Cinta pertamaku yang tak terbalas.


.........