
Aku berdiri memandangi deburan ombak laut yang seakan menggodaku untuk menyapanya. Sekarang tepat dua tahun aku mengantar kepergian Yoseph. Abu Yoseph telah menyatu dengan laut.
Ku pandangi laut biru itu, butiran bening tak terasa keluar dari kedua mata ku. "Apa kabar my Jo? sedang apa disana? gue kangen..sangat.."
Ku terduduk lemas diatas pasir putih, ku tekuk kedua kaki ku. Ku benamkan wajahku diatas lutut ku, ku peluk erat kedua lutut kaki ku. Ku tahan isak tangis ku agar tidak keluar dari mulutku. Butiran bening masih terus mengalir tak henti - henti.
"Hai laut, apa kau menjaga my Jo? sedang apa dia disana? Jo gue kangen..kenapa lo pergi begitu cepat? sampai saat ini gue belum bisa lupain lo Jo... harus gimana gue Jo." suaraku putus asa.
Memory tentang kebersamaan ku bersama Yoseph semakin membuat ku menangis.
Ku mainkan pasir putih ini, ku teringat ulah Yoseph tepat hari ulang tahunku, seminggu sebelum Yoseph pergi selama - lama nya.
Pasir putih yang dibentuk Yoseph sebagai pengganti kue tart ulang tahun ku. Hari itu aku sungguh bahagia, merayakan ulang tahun berdua dengan nya di tepi pantai.
Aku ingat perkataannya saat itu, "Bee, maaf ya gak ada kue tart. Tapi gue janji tahun depan gue kasih kue tart deh pas ulang tahun lo..."
"Hiks Jo tak akan ada lagi kue tart yang lo janjiin buat gue. Lo pergi begitu cepat, Jo lo jahat ninggalin gue dengan cara ini." ku lempar kerikil - kerikil kecil ke arah laut, seakan aku sedang melemparnya ke arah Yoseph.
"Bee, jangan takut lagi ya dengan laut. Gue akan menjaga lo dari laut. Lo akan selalu aman Bee." terngiang-ngiang kembali ucapannya kala itu.
Perkataan yang kala itu aku anggap hanya perkataan asal saja dari mulut Yoseph. Tak ku sangka itu menjadi kenyataan. Yoseph meninggal dan dia benar-benar di kremasi, abunya di larung kan ke laut.
"Jo, tau gak lo.. selama dua tahun ini hidup gue berubah. Gue gak nerusin kuliah, gak ada lo kampus sepi. Gue gak sanggup ke kampus, semua sudut kampus mengingatkan gue sama lo."
"Jo, dua tahun ini gue mulai suka dugem. Gue habisin akhir pekan dengan clubbing. Nakal ya gue sekarang Jo. Tapi tenang aja Jo, gue gak pernah nyentuh alkohol, rokok apalagi barang - barang haram. Gue benci sama barang - barang haram itu, barang yang mengambil lo dari gue." aku berbicara seakan - akan Yoseph sedang mendengarkan ku.
"Jo, gue masih jomblo loh sampai saat ini ha ha ha." aku tertawa kecut. "Lo sii pergi ninggalin gue, lo sama cimon sama aja. Senang ya kalian liat gue jomblo, tanggung jawab lah kalian. Bikin gue susah buka hati untuk yang lain. Tega kalian berdua, udah muka mirip eh ninggalin gue juga." ku main kan pasir sesekali aku lempar - lempar ke laut.
Ku keluarkan buku diary dari tas ku, ku ambil pulpen. Aku pun mulai menulis dibuku itu.
-----------
Hai laut
Tolong jaga dia untuk ku
Jangan biarkan dia bersedih disana
Buat dia tetap tersenyum
Hai laut...
Tolong katakan padanya
Aku kangen... sangat kangen..
Ingin kulihat lagi senyum nya
Hai laut..
Katakan juga padanya
Dia juga harus baik - baik saja disana
My Jo...
Nama lo masih tersimpan rapi di hati ini
Sampai saat ini gue masih menyayangi lo
Jujur walau Cimon masih tetap ada di sebelah hati gue..
Maaf ...
Cimon dan lo harus berbagi tempat di hati gue
Maaf...
Sampai saat ini lo masih harus berbagi dengan nya.
Untuk mu yang disana
Yours Bee
--------------------
Ku sobek kertas dari diary ku itu, ku gulung - gulung lalu ku ikat dengan karet. Ku masuk kan ke dalam botol air mineral yang telah ku minum habis air nya. Lalu ku berdiri berjalan mendekati lautan.
Ku arung kan botol air mineral berisi coretan untuk My Jo. "Laut tolong titip surat ini untuk my Jo." walau ku sadar entah laut akan menuruti permintaan ku atau tidak, tapi setidaknya aku bisa melepas beban di hati ku. Aku senang bisa mengirim surat untuk Yoseph.
Ku pandangi surat dalam botol itu. Semakin jauh ... jauh terbawa ombak. Sampai akhirnya aku tak melihat botol berisi surat itu lagi.
"Jo, gue mohon dateng lah dalam mimpi gue. Ya Tuhan.. berat sekali rindu ini, rindu pada sosok yang tidak bisa ku peluk." angin senja laut menusuk badan ku, dingin ...dingin sekali. " Apakah my Jo kedinginan juga disana? Jo.. susah sekali untuk gue lupain lo."
Hembusan angin seakan berbisik padaku, "Bee, come on jangan terus bersedih. Dunia tetap berputar walau Yoseph telah tiada. Ayoo terus lanjutkan hidup dengan lebih baik. Kejar semua cita - cita yang belum terselesaikan."
Ku pandangi gulungan ombak yang seakan marah atas keterpurukan ku. Gulungan itu semakin besar, membuat ku bergidik. Ombak itu pun seakan berkata, "Mana Bee yang ceria, mana Bee yang selalu optimis. Kehilangan sungguh membuat ku tak berdaya. Cukup sudah cukup dua tahun ini menyia - nyiakan nafas yang Penguasa beri untuk ku. Ya.. aku harus bisa memperbaiki diri ku. Jo, gue sayang lo. Tapi gue harus mencoba membuka hati untuk yang lain. Jo love you." ku pandangi lautan itu, wajah manis Jo terasa sedang memperhatikan kan ku. Dia tersenyum manis sekali.
Ku berusaha tersenyum tapi air mata ini tak bisa berkompromi dengan hati ku. Mengalir dan terus mengalir. Sesak sungguh sesak dada ini. Sekali lagi aku terduduk lemas diatas pasir ini.
"Tuhan mengapa tak kau ambil ingatan ku tentang nya. Sakit sekali Tuhan, ku mohon hilangkan ingatan ku tentang nya."
Ku menangis.. enggan rasanya meninggalkan laut ini. Matahari sudah mulai terbenam, tapi aku masih terduduk lemas disini. Ku ingin menangis sepuasnya.
Untuk hari ini saja biarkan aku menangis sepuas - puasnya. Tangis yang aku tahan dua tahun terakhir ini. Dua tahun ini aku berpura - pura tegar dengan melompat - lompat di dunia malam, mengisi kekosongan hati ku dengan musik yang dimainkan DJ.
Aku berpura - pura tertawa agar air mata tidak keluar. Biarkan hari ini aku lampiaskan semua kerinduan ku untuk nya. Aku sudah tidak kuat terus berpura - pura semua baik - baik saja.
Aku tidak baik - baik saja, aku rapuh tanpa tawa canda Yoseph. Hati ku sepi tanpa kehadiran Yoseph. Tangis ku semakin pecah, mata ku sudah sembab. "Jo.. gue kangen."