
"Bee sebelah sini!!" suara teriakan seorang wanita yang familiar memanggil ku sambil melambai - lambaikan tangannya.
"Haiiii, ayoo cepat nak ! itu teman - teman mama duduk disitu." kata ku pada kedua anakku yang aku tuntun di kanan kiri tanganku.
Ku percepat langkah kaki ku menghampiri teman - teman alumni SMP ku. Kedua anakku mempercepat langkahnya mengikuti irama langkahku.
"Hai semua, maaf - maaf gue telat hihihi abis anter bokap gue dulu tadi." ku salami satu persatu teman - teman ku yang sudah dari siang berkumpul di salah satu mall di Jakarta ini.
"Ya Allah Emi kangen banget gue." kupeluk erat teman sebangku ku semasa SMP dulu.
Ku lihat kanan kiri mencari bangku kosong untuk duduk kedua anak kesayanganku yang sudah mulai cemberut. Dari parkiran mobil tadi mereka sudah ku seret - seret agar mempercepat langkah kaki nya. Aku sangat senang membayangkan akan bertemu teman - teman semasa SMP ku yang kurang lebih sudah 25 tahun kami tidak bertemu.
"Duduk disini aja, bangku ini kosong!" kata suara laki - laki itu padaku.
Ku menengok pada asal suara itu, seketika aku tak bisa bergerak. Tak percaya dengan yang aku lihat. Laki - laki itu Sea cinta pertama dan cinta monyet ku. Si cimon menawarkan bangku kosong untuk kedua anakku.
"Eh.. hmm.. iya." aku berkata gugup, seketika aku salah tingkah. Ragu - ragu aku mengajak duduk kedua anakku dekat dengan si cimon ku.
"Mama, aku pegel." rengek anak bungsuku yang baru berusia 5 tahun.
"Aku juga pegel mama, ayoo duduk disitu" pinta putri pertama ku yang berusia 9tahun.
"Oohh iya, kalian pegel ya. Ayo kita duduk di bangku itu !" aku tuntung kedua anakku menuju bangku kosong yang kebetulan berada dekat si cimon ku.
Dalam hati aku berkata, dari sekian banyak kursi di foodcourt mall ini kenapa bangku kosong hanya di dekat dia. Kebetulan yang membuatku salah tingkah.
Aku terpaksa duduk dekat Sea, aku tersenyum pada nya.
"Eh Sea kok lo item" kata ku spontan pada Sea, memang dia sekarang hitam tak seputih semasa belia.
Sea hanya tertawa, entah lah itu tawa karena dia marah atau apa. Yang jelas aku menyesal menyebutnya hitam. Baru pertama ketemu lagi aku sudah melontarkan kata - kata itu.
"Hai pa kabar?" sapa nya padaku
Aku tak mendengar sapaan nya, aku sibuk atau tepatnya menyibukkan diri bercanda dengan teman - teman yang lain.
"Bee, itu di tanya sama Sea." kata salah satu temanku.
"Eh.. iya..apa.. tadi nanya apa?" kata ku menoleh pada Sea.
"Apa kabar ?" tanyanya tersenyum.
OMG senyum itu, senyum yang sama. Senyum yang sudah lama aku rindukan.
"Hmm baik." kata ku singkat.
Setelah 25 tahun tak bertemu aku masih merasakan perasaan yang sama. Deg - degan, masih tetap gugup berbicara dengan nya.
Udara di mall ini terasa panas, keringat tak henti - hentinya bercucuran.
"Si ganteng ini siapa namanya ?" katanya pada anak bungsuku.
Lagi - lagi aku mengacuhkan nya, aku memilih mengobrol dengan teman - teman yang lain.
"Bee itu Sea nanya, di cuekin terus." kata teman ku lagi.
"Si ganteng ini siapa namanya?" kata Sea mengulang pertanyaannya.
"Oh, nama nya Wira om." kata ku singkat.
Sea masih berusaha mengajak ku mengobrol, tapi sungguh aku grogi duduk di dekatnya.
Aku berdiri berbaur dengan teman - teman yang lain.
Aku pikir aku sudah melupakan dia, aku sudah bisa menata hatiku sejak dia menghilang.
Tapi bertemu dia kembali membuat jantung ku berdegup kencang. Aku masih tak berkutik di depan nya.
Laki - laki itu cinta pertama ku, cimon ku yang membuat aku patah hati. Lama aku baru bisa move on setelah dia menghilang.
Cimon yang selalu aku rindu, sekarang kami bertemu kembali setelah kami berdua sudah menjalani kehidupan masing - masing.
Ya Tuhan Cinta ini masih milik nya, aku masih menyukainya. Ini tidak boleh terjadi, aku sudah memiliki hubby yang sangat mencintaiku. Aku sudah memiliki buah hati yang lucu - lucu.
Laki - laki itu yang masih sibuk memperhatikan ku, dengan senyum nya yang menggoyahkan iman ku. Dia pun sudah milik orang lain.
Si Cimon yang bertahun - tahun aku rindukan kini berada di sini. Aku masih tak percaya bisa bertemu kembali.
Rasa nakal ini mulai menjalar di hati ku. Hati yang sudah tidak boleh di ketuk oleh pria lain, kini terketuk. Sebisa mungkin aku aku memakai logika ku. " Bee ingat kamu sudah ada yang memiliki." akal sehatku mengingatkan ku.
Aku berpamitan pulang pada semua teman - teman ku. Masih ku lihat senyum Sea seakan berkata 'jangan pulang dulu Bee'.
Aku menyetir dengan pikiran dan perasaan yang tak menentu. Pertemuan singkat itu telah menggoyahkan hati ku.
Seketika kenangan - kenangan masa belia menari - nari di otakku. Laki - laki yang aku sukai itu kini muncul kehidupan ku lagi.
Dia kembali setelah sekian lama menghilang. Di kala aku sudah bisa mengikhlas kan nya, dikala aku sudah berbahagia dengan keluarga kecil ku dia hadir kembali mengetuk hati ku.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan pertemuan tadi. Mengapa rasa ini masih ada, tidak.. tidak boleh... aku harus membuang jauh - jauh perasaan ini.
"Ya Tuhan, ada apa dengan diriku." aku berguman sendiri.
...............
Hai pembaca disini aku ingin memperkenalkan tokoh Sea dewasa dan Bee dewasa
Bee seorang ibu rumah tangga dengan dua anak . Bee wanita yang energik, ceria, bicara apa adanya. mempunyai banyak teman.
Sea mempunyai 3 orang anak, seorang ayah yang sangat mencintai anak - anak nya.
Bicara sangat hati - hati, suka membuat Bee tertawa.
Bee adalah Cimon Sea.
begitu pula Sea adalah cimon Bee.
Semasa SMP mereka saling suka tapi mereka berdua sama - sama tidak tahu. Mereka berdua hanya saling memperhatikan diam - diam.