
Pagi ini aku sudah berdandan serapi mungkin, hari ini aku ingin terlihat cantik di depan Yoseph.
Kulihat jam ditangan ku " Ah Jo, dimana sii..kok belum jemput gue" ku lirik kembali jam ditangan ku sudah menunjukkan pukul 6.30 wib.
Tiba - tiba nada dering hp ku berbunyi, ku lihat siapa yang menelpon, tertulis My Jo. Segera ku angkat hp ku " ah Jo.. lo dimana? " tanya ku cemas.
" Bee maaf gue gak bisa jemput, nanti pulang kuliah kita ketemu di Lab ya .Mendadak ini mami papi mau ngobrol ma gue. Jangan marah ya Bee " suara Yoseph terdengar serak seperti habis menangis.
" Ok gak apa - apa kok Jo, sampai ketemu di kampus ya.. bye Jo,gue jalan ya " kata ku kwatir.
Ku tutup hp ku, pagi ini aku ke kampus dengan diantar abang ojek. Sepanjang perjalanan aku begitu kwatir dengan keadaan Yoseph. Tidak seperti biasanya suaranya terdengar putus asa.
Hari ini hati ku benar - benar gelisah, tak ada satu mata kuliah pun yang masuk ke otak ku. Pikiran ku masih memikirkan ada apa dengan My Jo, mengapa suaranya terdengar putus asa?
Ku berjalan ke Lab komputer, berharap segera bertemu Yoseph. Ku percepat langkahku, " My Jo pasti udah ada di Lab " pikirku.
Ku buka pintu Lab, ah sepi tidak ada satu orang pun di dalam Lab. Dengan perasaan kecewa ku langkahkan kaki memasuki ruang lab.
" Jo, dimana lo? seharian gue gak liat lo. Hp juga gak diangkat. Please jangan bikin gue khawatir gini dong " aku berguman sendiri, lalu ku nyalakan komputer mencoba menyibukkan diri sambil berharap Yoseph segera datang.
Ku lihat jam di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ku berdiri menatap ke luar jendela, mencari sosok yang aku rindukan. Tak biasa nya Yoseph membuat ku menunggu. Hari - hari lalu Yoseph yang selalu menunggu ku.
" Ah Jo... gini ya rasanya nungguin orang yang disayang, maafin gue ya selalu membuat lo nunggu. Gue janji deh mulai sekarang gak akan buat lo nunggu lagi " sesal ku dalam hati.
" Jo dimana lo ? gue mau cepet - cepet ketemu, gak lupa kan hari ini kita mau ke PRJ " ku kirim pesan lewat hp ku.
Ku tatap layar hp ku, belum ada balasan dari Yoseph. Aku semakin gelisah, ini pertama kali nya Yoseph tak membalas pesan ku. Apakah ada yang terjadi dengan Yoseph ??. Kembali ku tatap keluar jendela.
- Brukkkk - suara pintu dibuka dengan kencang.
Ku menoleh ke arah pintu, ku melihat Rio didepan pintu berdiri menatap ku dengan raut wajah yang panik. Ah tatapan macam apa itu, membuat ku takut.
Ku hampiri Rio " Rio, kenapa lo ? " tanya ku pada Rio.
" Bee , ayo ikut gue cepet !!! " Rio berkata dengan nafas yang tersengal-sengal seperti orang yang habis marathon. Rio menarik tanganku, tanpa persetujuan dari ku Rio membawa ku menuju motornya.
Dengan banyaknya pertanyaan dalam otak ku, aku mengikuti langkah Rio.
" Rio, ada apa sii ?? jangan bikin gue takut gini ?? Jo.. Jo mana Rio ?? " tiba - tiba ada rasa takut menyelimuti ku.
" RIO... JAWAB GUE !!! MANA JO ?? " tanpa sadar aku berteriak pada Rio. Rio masih membisu.
" Ayo Bee cepet naik, kita gak banyak waktu lagi. Nanti aja gue jelasin semua nya " Rio menyuruh ku naik ke motornya.
Dengan kecepatan diatas rata - rata Rio mengemudikan motornya secara ugal - ugalan. Ada rasa takut dalam hati ku, ada apa ini ? mengapa Rio begitu panik ? dimana my Jo ? mengapa dia tidak menepati janji nya untuk datang ke Lab komputer ?
Sesampainya di Studio musik milik Rio. Ku lihat ada mobil ambulance, teman - teman Rio memandangi ku dengan wajah yang sama paniknya dengan Rio.
" Rio.. ada apa ini ? apa arti semua ini ? " dengan gugup ku bertanya kepada Rio.
Lalu aku berlari ke dalam studio sambil berteriak - teriak memanggil nama Jo.
" Jo... Jo.. dimana lo, Jo.. jangan bikin gue takut " aku mulai menangis.
Langkahku tiba - tiba terhenti, ku lihat sosok yang sedang kucari terkapar di lantai studio.
Dengan mulut berbusa dia menatap ku. Dengan langkah gontai aku mendekati sosok yang aku sayang itu.
" Jo..Jo..Jooooo ..mengapa ? mengapa Jo ? lo udah janji gak akan menggunakan barang haram ini lagi " aku terduduk lemas, air mata semakin mengalir. Ku peluk tubuh dihadapan ku. Ku baringkan kepalanya di pangkuan ku.
" Jooo..ini gue Jo.. Yours Bee " ku masih terisak, Yoseph sama sekali tidak merespon ku.
" Permisi nona, biar kami angkat dulu tubuh pemuda ini " kata salah satu perawat yang tiba - tiba ada di samping ku.
Ku ikuti para perawat yang membawa tubuh Yoseph masuk ke dalam mobil ambulance. Ku genggam erat jari jemari Yoseph. Sungguh aku takut kehilanganmu My Jo.
Aku ikut masuk ke dalam mobil ambulance, aku terus berada di sisi Yoseph. Ku sudah tak bisa berpikir jernih. Masih tak percaya dengan apa yang ku lihat.
Ku merasakan kehangatan dari genggaman tangan Jo, Jo menggenggam tanganku kencang sekali. Mungkin dia menahan rasa sakit. Dan tiba - tiba tak kurasakan lagi genggaman tangan nya.
" Jo.. Jo.. Jo sayang ..buka mata lo Jo.. Jo jangan bikin gue takut.. Jo lo udah janji kan .. jangan lupa Jo hari ini kita mau ke PRJ " aku masih terus berkata - kata pada Yoseph.
" Maaf nona, permisi " Dokter mulai memeriksa mata, denyut nadi Yoseph. Lalu dokter mulai memberi aba - aba pada perawat nya.
Aku mulai panik menyaksikan itu semua itu, semoga ini mimpi.. semoga ini mimpi. Aku mencoba meyakinkan diri kalau semua ini hanya mimpi.
Lalu kudengar suara perawat " Dok " perawat itu menggeleng kan kepala nya.
" Ada apa Sus , Dok ?? " aku bertanya dengan panik. Lalu aku genggam tangan Yoseph, dia tidak merespon genggaman tanganku. Mengapa tangannya lemas begini.
" Dok ada apa dengan Jo Dok ? Dokter, kekasih saya baik - baik saja kan ya ? Dokter tolong katakan kalau My Jo baik - baik saja. Dia hanya tertidur akibat obat bius kan Dok? iya kan dok ? " aku menatap Dokter dan perawat bergantian.
" Maaf nona, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi racun obat - obatan yang dia makan sudah menjalar ke darah. Sekali lagi maaf " Dokter cantik itu memeluk ku.
Ku hempaskan pelukan Dokter cantik itu, " Dokter bohong.. ayoo coba Dok periksa lagi. Pasti ada yang salah.. Saya mohon tolong selamatkan dia " aku memohon kepada Dokter cantik itu.
..................