
Sepulang kuliah aku menghabiskan waktu bersama Eva. Ajakan Lintang untuk mentraktirku sudah ku tolak tanpa sepengetahuan Yoseph.
Disaat kami lagi asik memilih acesories - acesories, handphone Eva berbunyi.
"Ya yank, aku masih di Mall X , kenapa? iya berdua aja sama Bee. Ya paling 1 jam lagi deh balik. hmmm ..iya.. iya.. ok.. bye luv you." Kata Eva mengakhiri pembicaraan di hpnya.
"Rio." Eva berkata padaku, Tanpa Eva bicarapun aku sudah tau siapa yang menelpon nya.
"Nanti Rio mau jemput kesini." Kata nya lagi.
"Hmmm ok, takut lo di culik ya." Goda ku pada Eva.
"Hha hha ha gak.. takut gue dijemput sama yang lain kali." Tawa Eva.
"Nah ya.... emang ada yang lain Va ??" Tanya ku pada Eva.
"Gak ada lah.. cuma Rio satu - satu nya..Gue mah setia Bee." Kata nya tersenyum.
Setelah puas berkeliling mall, kami pun menuju Foodcourtnya.
"Haussss, laperrr." Kata ku pada Eva.
"Evaaa... Bee disini." Teriak Rio sambil melambai - lambaikan tangannya.
Ku melihat kearah suara teriakan Rio. Rio sudah duduk manis di kursi foodcourt mall.
"Eh yank lo dah sampe aja, udah lama ?" Eva menghampiri pacar kesayangannya itu.
"Hmm 15 menit deh, gue dah pesenin minuman kok .Bentar lagi dateng." Kata Rio kepada aku dan Eva.
Aku dan Eva duduk bersama Rio. Tak lama kemudian muncul Yoseph dari arah toilet.
"Lo sama Jo ?" Kata ku pada Rio.
"Iya, emang Eva gak bilang ?" Kata Rio padaku. Aku melirik ke arah Eva.
"Bee gak tanya." Kata Eva tersenyum.
"Udah puas jalan - jalan nya ?" Yoseph bertanya padaku lalu duduk dibangku sebelahku.
"Mau makan apa ? Gue sii dah pesenin bakso.. tapi kalau lo udah makan sama Lintang ya udah gue makan dua mangkok." Kata Yoseph tanpa melirik ku.
"Kok Lintang ? dari tadi gue cuma berdua aja sama Bee. Kenapa jadi bawa - bawa Lintang ?" Tanya Eva heran pada ku.
"Gak tau." Kata ku sambil meminum Es Lemon Tea yang sudah dipesankan Rio untuk kami.
"Ow gak jadi makan sama Lintang, bagus deh kalau gitu." Yoseph tersenyum tipis.
Aku heran dengan sikap Yoseph hari ini, Tadi di kampus dia marah - marah dengan Lintang, lalu menghilang seharian. Dan sekarang muncul di foodcourt mall. Ada apa dengan bocah ini pikir ku.
"Kenapa gak jadi makan sama Lintang ?" tanya nya tiba - tiba pada ku.
"Emang kenapa ? suka - suka gue lah mau makan atau gak sama Lintang." jawab ku ketus. Aku kesal dengan pertanyaan Yoseph, yang terkesan menuduhku dengan Lintang.
Rio dan Eva melirik ke arah aku dan Yoseph.
"Wah pertengkaran kecil sepasang kekasih." ledek Eva padaku dan Yoseph.
"Eva..jelek.." aku melotot pada Eva.
"Sembarangan lo Bee ngatain bidadari gue jelek.. dia tuh jelek jelek pake banget" Rio tertawa.
Akhirnya aku pun ikut tertawa mendengar ucapan Rio.
"Bee, jangan deket - deket Lintang." kata Yoseph tiba - tiba pada ku.
"Loh kenapa ? anak nya baik kok..kenapa gak boleh. Dia kan temen gue juga Jo, lo mah aneh - aneh aja deh." protes ku pada Yoseph.
"Lintang suka sama lo Bee, masa lo gak tau, atau lo pura - pura gak tau ?" Yoseph melirik ku.
"Jo, jangan mikir aneh - aneh lo.. suka dari mana ? gak lah.. gue sama Lintang cuma temen satu kelompok." kata ku tertawa.
"Gue tau Bee, cowok suka or gak sama cewek. Sikapnya Lintang sama lo menunjukan kalau Lintang suka sama lo." Yoseph meninggikan nada suara nya.
"Udah ah skip, ngapain jadi bahas Lintang. Gue laper nih, jadi gak tuh bakso buat gue." kata ku mengalihkan pembicaraan.
Rio dan Eva tidak ikut berbicara, mereka hanya mendengar kan perdebatan ku dengan Yoseph.
"Yank, pulang yukk." Ajak Eva pada Rio.
"Bee.. Jo kita balik duluan ya." Kata Eva pada Aku dan Yoseph.
"Rio nebeng ya." Kata Ku pada Rio.
"Gue bawa motor mana bisa bertiga." Kata Rio padaku.
"Kan ada gue Bee, terus ngapain gue nyusulin lo kesini kalau lo mau pulang sama mereka." Kata Yoseph menatapku.
"Ehh iya." Jawab ku singkat.
"Duluan ya... eh Jo anterin sampe rumah." Kata Eva tersenyum pada ku.
"Iya lah.. masa gue anterin ke pasar." Kata Jo menjawab.
Rio dan Eva pun berlalu dari hadapan kami, meninggal kan aku dan Yoseph berdua.
Yoseph menatapku, lalu berkata "Bee, beneran gue gak suka lo deket sama Lintang."
Aku pun menoleh ke hadapan Yoseph "Apa sii Jo, Lintang kan temen gue. Gue juga satu kelompok sama dia, ya pasti gue akan sering sama dia." Kata ku menjelaskan.
"Tukeran kelompok sama gue." Kata nya lagi.
"Jo.. jangan kaya anak kecil deh, lagian kita gak ada apa - apa. Jangan larang gue harus main sama siapa." Kata ku jengkel.
"Iya sorry .. gue bukan siapa - siapa lo. Ayo kita pulang !!!" Wajah Yoseph berubah sedih.
Sepanjang perjalanan Yoseph yang biasanya berisik dan suka bercanda tapi kali ini sunyi, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Yoseph. Tiba - tiba ada rasa sesal di hati ku, mengapa aku harus berkata seperti itu pada Yoseph. Jelas - jelas aku tau kalau Yoseph menyukai ku. Pasti Yoseph marah pikir ku.
"Jo.. lo marah ya ?" akhirnya ku beranikan diri bertanya pada Yoseph.
Yoseph hanya menggeleng kan kepalanya lalu berkata "Emang siapa gue yang berhak marah sama lo Bee ?"
"Ah dia beneran marah." batin ku.
Lalu aku kembali terdiam, aku bingung harus berkata apa lagi. Aku juga menyesal tadi di foodcourt sempat mengucapkan kata - kata yang tidak mengenakan itu.
Perjalanan menuju rumahku terasa sunyi, tidak ada canda tawa Yoseph yang biasa menggoda ku atau membuat cerita - cerita lucu yang akan membuat ku tertawa.
Perjalanan pulang kali ini benar - benar berbeda, hanya ada suara deru mesin.
Yoseph hanya terdiam sambil terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Karena Yoseph tau kalau aku tidak suka bila Yoseph ngebut.
Akhirnya aku sampai di depan rumah ku. Seperti biasa aku tak memperbolehkan Yoseph mengantarku sampai depan pintu rumah ku. Aku pun tak pernah mengijinkan Yoseph masuk ke dalam rumah ku.
Aku tak mau Yoseph bertemu dengan papa ku.
Papa ku pasti tidak suka melihat Yoseph. Rambut gondrong, gayanya sedikit urakan, bertato pula.
"Makasih ya Jo, hati - hati di jalan. Kabarin ya." Kata ku pada Yoseph.
Yoseph hanya mengangguk lalu berlalu. Tidak seperti biasanya yang menggoda ku dulu.
"Ah dia beneran marah." batinku. lalu aku pun masuk ke dalam rumah.
............