
Hari ujian Nasional pun tiba. Aku berdoa semoga bisa mengerjakan soal - soal dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik.
Aku lulus ujian dengan hasil yang memuaskan.
Setelah mendapatkan ijazah, Aku mengikuti tes salah satu kampus. Aku berhasil masuk Kampus X dengan mendapatkan bea siswa.
Aku mengambil jurusan komputer akuntansi. Meneruskan jurusan yang aku ambil sewaktu SMEA.
Bahagia nya sekarang aku adalah Mahasiswi salah satu kampus. Walau awalnya aku ingin mengambil psikologi. Tapi mama ku menentang , mama bersikeras aku harus melanjutkan jurusan Akuntansi ku. Dengan watak mama yang keras akhirnya aku mengalah mengikuti kemauan mama.
Kehidupan kampus sungguh berbeda dengan kehidupan masa SMK ku. Kenal teman - teman baru, lingkungan baru, pergaulan baru.
Beruntung aku mempunyai teman - teman yang baik.
"Hai ketemu lagi." sapa ku pada seorang mahasiswi cantik berambut sebahu .
"Hai Bee, Lolos juga lo." katanya padaku.
Nama Mahasiswi itu adalah Eva. Aku bertemu Eva sewaktu mengikuti tes masuk Kampus ini. Di sana kami berkenalan. Tidak butuh waktu lama untuk kita menjadi akrab.
Di kampus Aku bersahabat dengan mahasiswi cantik yang sedikit tomboy. Aku suka style nya, gak ribet..simple hahha.
Style nya mirip - mirip lah dengan ku. Obrolan kami berdua pun nyambung jadi aku senang berlama - lama rumpi dengan Eva.
Aku dan Eva sering hang out bareng. Kebetulan kita berdua mempunyai hobby yang sama yaitu ngemil hihihihi. Walau badan kita berdua slim alias kurus eh langsing deh tapi ngemil nya kuat.
Eva berpacaran dengan Rio, Eva dan Rio teman dari SMA. Sekarang mereka Satu kampus. Rio dan Eva berpacaran sejak SMA.
Kadang Rio menemani, kebetulan Rio membawa mobil ke kampus. Lumayan ada tumpangan gratis. Rio juga asik diajak hang out nya gak bawel seperti kebanyakan kaum Adam. Terlihat jelas kalau Rio dan Eva saling menyayangi. Terkadang aku iri dengan kemesraan kedua insan itu.
"Nih.. aaaa buka mulutmu sayang, gue suapin ya." Eva berucap mesra kepada Rio ,tangannya sibuk menyuapi Rio.
"Aaaaaa, enak yank." kata Rio sambil mengunyah makanannya.
"Iihh mulut lo belepotan tuh, hhaha lo lucu." kata Eva sambil mengelap mesra mulut belepotan Rio.
"Makasih ya sayang, makin lope lope dah gue." kata Rio mengecup mesra tangan Eva.
"Woiiiiiiii.... ada gue .. rese lo.. haloooo." kata ku gemes.
Melihat adegan mesra itu sungguh membuatku iri yang jomblo abadi ini.
"Ah rese lo berdua... kasihani lah jones ini." kata ku memasang muka memelas.
Sontak mereka berdua tertawa diatas penderitaanku. Aku pun ikut tertawa bersama mereka.
"Eh Bee, mau gue kenalin gak ? temen gue jones juga noh. Mirip - mirip lah sama lo." kata Rio menyeruput kopinya.
"Kaga usah... gue bisa nyari sendiri, kali ada yang buang entar gue pungut." kata ku membalas ucapan Rio.
"Puas ya kalian mesra - mesra an depan jones... tawa aja terus selagi tertawa gak kena pajak, gak punya perasaan dia mah." kata ku sambil meneguk es lemon tea ku.
"Dasar lo pasangan stress ... awas lo ya kalau gue punya pacar, gue bales kalian berdua." kata ku tertawa.
"Stress juga gue dah laku ya gak yank ?? terus lo kapan laku nya ???" tawa nakal Eva mengejek ku sambil bermanja dengan Rio.
Kami pun kembali tertawa.
"Bee dari pada lo gak laku - laku, sayang masa muda lo. Udah mau aja ya gue kenalin sama temen gue. Beneran anak nya cakep, tinggi putih, sedikit gondrong, baik, satu ras juga ma lo, pokoknya masuk kriteria lo dah." Eva mempromosikan teman nya itu.
"Kaya sales lagi nawarin produk nya lo Va, lagian kalau dia sesempurna yang lo bilang. Kenapa cowok itu masih jomblo ?? gampang keles dia nyari pacar mah .. dasar oneng lo Va." ku jitak kening nya Eva.
"Dia mau nya sama lo Bee, hahahhahhah dia berisik tiap hari minta dikenalin sama lo noh, mau aja lah Bee cuma kenalan doang. Gak suka ya udah.. suka lo terusin dah." kata Rio melanjutkan ucapan Eva.
"Bener - bener ya kalian berdua minta gue hajar. Mentang - mentang gue jomblo, jangan ngerjain gue dah. Jangan buat gue GR dah." aku tertawa pada mereka.
"Eh jones abadi... gue and Rio lagi gak bercanda and lagi gak ngerjain lo, serius ada temen gue..eh temen Rio juga sii berisik banget tiap hari minta di kenalin ma lo." kata Eva meninggikan suara nya.
"Hahhahah jangan dah entar pas liat muka gue dia kabur, kasian kan gue." aku berkata pada Eva.
"Dia udah sering liat lo, diii gak tau lo ya ada yang diem - diem merhatiin lo, tapi dia masih takut muncul dihadapan lo. Lagi siapin mental dulu katanya." Rio tersenyum - senyum pada ku.
"Dia teman SMA gue and Eva, sobat gue dari kecil. Kuliah di kampus kita juga kok, gue gak tau deh lo pernah liat dia atau gak ?" kata Rio menjelas kan.
"Pernah ke studio lo Yo.?" Tanya ku jadi terpancing ucapan Rio dan Eva. Aku mulai penasaran siapa cowok yang dimaksud dua insan ini.
"Sering, cuma kalau tau lo mau dateng dia ngumpet. Lucu ya temen gue, malu kata nya kalau lo sampe liat dia." Rio berkata sambil tertawa.
"Malu kenapa ??? muka dia aneh gitu ?? suruh pake helm lah." kata ku tersenyum.
"Mana gue tau.. entar lo tanya langsung aja sama orang nya. Hhahaha dia sering kok gak lepas helm nya kalau pas ketemu lo di parkiran studio musik gue." Rio berkata sambil tertawa kencang sekali.
" ... wah pacar lo mulai stress tuh Va... obat nya abis nih anak." kata ku pada Eva sambil menunjuk ke arah Rio.
"Sembarangan lo Bee, tapi walaupun stress gue tetap cinta.. iya gak yank." Eva melirik manja pada Rio.
".. ahhh so sweet... love you yank... so much." Rio menatap mata Eva dengan mesra nya kembali dia mencium tangan Eva.
"Mulai ... mulai dah.. woii ... mesra - mesra an entar aja kalau gue lagi ke toilet." kata ku melotot pada Rio dan Eva.
"Hahhahhaa ada yang iri." jawab Eva menggoda ku.
Sore itu kami menghabiskan waktu bertiga, aku jadi nyamuk mereka. Tapi tak mengapa aku memang sudah terbiasa menjadi nyamuk. Terkadang iri dengan teman - teman yang sudah mempunyai pacar. Tapi mau bagaimana hati ku belum bisa menerima seseorang. Trauma kehilangan masih sangat jelas. "Rese lo Cimon." batinku.
.............