My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Jangan Menangis Jo...



"Nih minum dulu Bee !!" Yoseph menyerahkan minuman kaleng padaku lalu dia duduk disebelah ku.


"Bee, gue mohon jangan cuekin gue ya. Gue tambah kacau gak ada lo." Yoseph berkata sedih sambil mengacak - acak rambut ku.


"Janji ya Jo, jangan make please. Gue tau pasti susah, tapi pelan - pelan lo harus lepasin. Gue akan selalu support lo." kata ku menatap Yoseph.


"Asal lo ada di samping gue, gue pasti bisa. Sabar ya Bee... jangan kemana - mana. Janji ya selalu support gue." Yoseph tersenyum manis pada ku.


"Yess.. gue gak mau liat lo seperti itu lagi." aku pun tersenyum pada Yoseph.


"Iya Bee, maaf .. maaf." Yoseph tertunduk lemas.


"Jo.. janji ya.. pelan - pelas lo lepas barang setan itu, gue gak mau lo makin masuk ke dalam nya, gue yakin lo bisa Jo.. sayang masa depan lo Jo.. jangan sia - sia in ..itu cuma kenikmatan sesaat..gue gak mau lo ancur." kata ku menatap Yoseph yang masih tertunduk.


"Iya Bee, tetep disamping gue ya. Terus suport gue, please jangan tinggalin gue." Yoseph memegang tangan ku.


"Iya Jo, gue akan selalu suport lo tenang aja gue gak akan ninggalin lo." kata ku tersenyum.


Akhirnya aku melihat tawa Yoseph, aku suka bila dia tertawa lepas. Aku takut bila melihatnya marah. Aku seperti melihat dua kepribadian yang berbeda pada diri Yoseph.


"Bee, lo udah mulai jatuh cinta kan sama gue ? lo udah mulai sayang gue kan ?" Yoseph menggoda ku.


"Hha ha hha entah lah Jo gue belum bisa jawab itu, pokoknya yang gue tau gue gak mau liat lo ancur, gue gak suka itu." aku hanya tertawa lalu ku meminum minuman kaleng ditangan ku.


Aku bingung harus menjawab iya atau tidak, karena aku tak tau perasaan ku sesungguh nya.


Yang ku tau saat ini aku nyaman bersama Yoseph. Entah aku nyaman karena wajah itu mirip Cimon ku atau karena sifat Yoseph yang hangat pada ku. Entah lah, aku pun masih mencari jawab nya.


"Bee, abis ini mau kemana ? gak apa - apa ya bolos sehari." kata nya pada ku.


"Hmm kemana ya ?? kalau ke studio gue lagi males ah, masih kesel gue liat lo waktu itu." kata ku sambil melotot pada Yoseph.


".. Iya..iya maaf , gue juga lagi males latian." kata Yoseph tersenyum.


"Muter - muter aja yuk !!!!" ajak ku pada Yoseph.


"Kemana ? panas.. nanti lo pusing..meleleh deh." kata Yoseph, dia tau aku tak bisa berlama - lama dengan panas sinar matahari.


"Ha ha hha gak lah, kan pake topi, helm, sweater. Tuh lengkap kostum gue mah." kata ku tertawa.


"Sesuai permintaan kamu nona galak, yuk cabut." Yoseph membelai rambut ku.


" ........ ah perasaan apa ini ???" jantungku berdebar kencang. Ini pertama kali nya Yoseph membelai lembut rambut panjang ku.


Wajahku terasa panas, mengapa jadi deg - deg an gini pikirku.


Yoseph memakaikan helm padaku, lalu dia melepaskan kembali helm dikepalaku.


"Kenapa di lepas lagi kan kita mau jalan ?" tanya ku heran pada Yoseph


"Rambut lo entar kusut, sini gue bantuin iket ya . Terus masukin ke topi deh, biar gak kusut." katanya sambil mengikat rambut ku lalu memakaikan topi ku.


"Sudah.. , sekarang pake helm nya deh." Yoseph kembali memakaikan helm ke kepalaku.


Aku hanya terdiam, masih heran dengan sikap lembut Yoseph pada ku. Apakah dua minggu tak bertemu dengan ku telah merubah diri nya.


"Gue kangen lo Bee, jangan menjauh lagi." tiba - tiba Yoseph memelukku dan menangis


"Tau gak sii lo Bee, dua minggu gak denger kabar lo gue takut, gue takut kehilangan lo. Gue tiap hari dateng ke daerah rumah lo, tapi gue takut lo makin marah sama gue. Gue sabar - sabarin gak ganggu lo dulu. Tapi bener - bener nyiksa Bee." Yoseph berkata lirih, dia mula melepaskan pelukan ya. Menatap lembut pada ku.


" ... Jo..." aku hanya mampu berucap kata itu.


"Benarkah dia begitu menyukai gue ?" tanya ku dalam hati.


"Maaf Jo... " kata ku lirih. Ku meminta maaf karena rasa sayang ku tak sebesar rasa sayang Yoseph pada ku. Aku memang bodoh masih menyukai dan mengharapkan Cimon ku datang. Tapi mau bagaimana lagi, aku pun tak tau mengapa sulit sekali melupakan Sea.


Apa karena Sea cowok pertama yang aku sukai.


Yoseph memeluk ku lagi dengan erat "Bee, gue gak perduli lo jadi pacar gue or gak. Yang gue mau lo tetep disamping gue, jangan cuekin gue. Janji ya Bee !" Yoseph berkata seakan - akan dia takut kehilangan ku.


Aku biarkan Yoseph memelukku, aku tak bisa berkata apapun. Ini pertama kali aku melihat Yoseph menangis. Dia begitu rapuh, aku sungguh ingin melindungi nya.


Entah rasa perduli ku pada Yoseph ini rasa iba, suka, sayang, atau karena wajah mirip nya dengan cinta pertama ku.


Yang aku tau aku tak suka bila Yoseph makin terjerumus. Dua minggu tak bertemu dengan nya membuat hari - hari ku sepi.


Aku mulai merindukan hari - hari melihat Yoseph tertawa lepas.


Aku sudah terbiasa dengan kehadiran nya di pagi hari menjemput ku kuliah, berangkat ke kampus bareng - bareng.


Aku terbiasa dengan Yoseph yang selalu berada disamping ku. Dengan senang hati dia akan mengantar kemana pun mau ku.


Dengan Yoseph yang tak pernah protes dengan sikap ku.


Dua minggu tanpa nya , aku juga merasa sepi. Hari - hari ku di kampus tidak menyenangkan.


Yoseph yang ceria, yang bicara semau nya, selalu membuat ku tertawa.


Sekarang aku bertemu setelah dua minggu ini menghindari nya.


Wajah Yoseph semakin tirus, berantakan tak karuan. Terlihat jelas dari mata panda nya kalau tidur nya tak nyenyak.


Yoseph yang ceria berubah menjadi menyedihkan . Aku benar - benar tak suka dengan Yoseph yang berantakan ini.


Barang setan itu sungguh membuat ku kesal.


"Gue harus bisa menjauhkan Jo dari barang - barang setan itu." tekad ku.


Sekarang tujuan ku adalah untuk membuat Yoseph tidak memakai barang - barang setan itu lagi ( narkoxx ).


Aku akan. selalu suport Yoseph, walau aku masih belum tau perasaan ku terhadap Yoseph.


Aku mau Yoseph selalu tertawa bebas, aku ingin menjadi Yoseph yang ceria. Yang selalu mengganggu ku dengan keusilan - keusilin nya.


Yoseph yang selalu mengisi hari - hari ku dengan keceriaan nya.


"Jo ... jangan nyerah ya, lo pasti bisa !!" kata ku menatap lembut pada Yoseph.


"Terima kasih Bee, terus di sisiku gue ya." Yoseph tersenyum manisnya.


...........