My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Ospek SMP



Bel sekolah terdengar nyaring, tanda kelas akan dimulai.


Murid-Murid berlari kekelas masing - masing.


"Siang adik - adik." beberapa kakak kelas memasuki ruangaan kelas 1.


"Perkenalkan saya Leon ketua OSIS SMP X."  Leon sang ketua OSIS memperkenalkan diri.


"Selamat datang di sekolah tercinta kita. Kami dari OSIS yang akan memperkenalkan sekolah tercinta ini kepada adik - adik semua. Masa Orientasi akan dilaksanakan selama seminggu. Semoga adik - adik bisa mengikuti masa Orientasi ini dengan baik." Sang ketua OSIS yang bernama Leon itu menjelaskan kepada kami para siswa siswi baru


Murid - murid perempuan mulai berbisik. "Wow ketua OSIS nya ganteng, keren." bisik murid perempuan kagum dengan kegagahan sang ketua OSIS.


Kak Leon memang ganteng, tinggi, putih tapi bagi ku biasa - biasa saja. Aku lebih tertarik dengan anak cowok yang pertama aku lihat dikelas. Duduk sendirian sambil memperhatikanku dikuncir mama. Tiba - tiba mukaku memerah . "Ichh kenapa tiba - tiba inget tuh cowok." aku menjitak kepalaku sendiri.


Eh tapi dimana cowok itu ya, aku mencoba mencari - cari dimana cowok itu duduk.


Aku nenoleh ke kanan dan kiri gak ketemu juga, sosok cowok kalem itu. Cowok yang membuat ku tak bisa mengalihkan pandanganku pada nya.


"Siapa dia??"


"Namanya siapa??"


"Bisa gak ya gue kenalan sama dia?"


"Aduh kenapa jadi mikirin dia batinku.. dasar Bee." kembali kujitak kepalaku


Emi yang melihat tingkahku tertawa, "Kenapa lo Bee?? kasian pala lo dijitakin terusn." katanya masih dengan suara tawa yang ditahan.


Aku cuma tersenyum kecil menatap Emi, tanpa menjawab pertanyaan Emi.


Kak Leon terus berbicara didepan kelas, tanpa tau apa isi dari kata - kata kak Leon. Mataku masih sibuk mencari cowok yang membuatku penasaran.


Kanan kiri tetap gak ketemu, "Duduk dimana dia ??" mataku sambil terus mencari sosok nya.


Aku memberanikan diri menengok kebelakang.


Deghh....Degh.. jantungku berdebar kencang,  "Semoga emi gak denger suara jantung gue." kata ku dalam hati.


"Itu dia.. cowok itu duduk paling belakang." akhirnta ku temukan juga. Aku memperhatikan cowok itu tertunduk sambil mencoret - coret buku nya, entah apa yang ditulis nya dibuku." Adem banget ngeliat wajahnya.


Aku tersenyum, mata ku tak lepas memandang cowok itu. "Apa yang ditulisnya, asik banget dengan pulpennya." Kepo ku muncul.


"Bee... ayooo lo liat apa??" Emi ikutan menengok kebelakang.


Aku pun kaget, muka ku mungkin merah saat itu. Aku takut Emi tau apa yang sedang aku perhatikan.


"Gak..gak jawabku." sambil ngipas - ngipas memakai buku tulis.


"Gerah ya." Jawab ku asal pada Emi.


"Iya, gerah. Kipas nya mati ya ?" kata Emi ikut - ikutan ngipas memakai buku.


Kak Leon akhirnya selesai juga memberi pengarahan. Entah apa isi pengarahannya, aku sama sekali tidak mendengarkan.


Pikiranku sibuk dengan cowok pertama yang aku liat didalam kelas.


Cowok yang diam - diam memperhatikan aku sewaktu mama ngomel sambil mengikat rambutku.


Dia duduk paling belakang, "Ah andai dia duduk didepan atau disamping gue, gue kan bisa puas liatin muka nya." aku senyum - senyum sendiri.


"Bee lo senyum - senyum kenapa?" Emi bertanya heran.


"Hhahaha gak apa - apa, itu akhirnya selesai juga ketua OSIS ceramah, gue dah pegel duduk." jawabku berbohong pada Emi.


"Iya sama, gue juga pegel. Akhirnya selesai juga ngocehnya." kata Emi sambil memainkan pulpennya.


"Bee besok suruh kuncir tujuh, terus bawa tas terbuat dari karung, eh iya disuruh bikin nama pakai kertas karton." Emi terus menjelaskan apa - apa yang harus dipersiapkan esok hari.


Aku terus memperhatikan Emi berbicara.


"Bentar - bentar Mi, gue catet dulu takut lupa, gue payah dalam menghapal." kataku sambil mencatat apa yang dijelaskan Emi pada ku.


"Kuncir tujuh ???" kataku tertawa kepada Emi


Lalu kami berdua pun tertawa.


Aku dan Emi sama - sama berambut bondol, bisa dibayangkan dikuncir tujuh.


Aku dan Emi tertawa bercampur jengkel.


"Ada - ada saja." pikirku kesal.


Kembali ku menengok kebelakang, Cowok itu masih asik mencoret - coret bukunya. Sementara cowok yang duduk disampingnya sibuk bercanda dengan teman - teman cowok lainnya.


Cool pikirku dalam hati, "Putih, tinggi, pendiam, ah cakep banget tuh cowok." batinku berkata.


"Siapa ya nama dia ?" tanya ku dalam hati.


Tiba - tiba cowok itu mengangkat kepalanya..


Degh jantung ku berdegup kencang,buru - buru aku membalikkan badanku.


"Semoga cowok itu gak tau kalau aku memperhatikannya." doaku dalam hati.


Aduh ini kenapa jantungku berdebar gak karuan.


Setiap melihat cowok itu jantung ku berdegup kencang tanpa bisa aku kendalikan.


Senyumnya sungguh manis, aku suka melihat sebyum nya.


Cowok itu terlihat masih belum akrab dengan seorang pun. Dia hanya duduk sendiri, menunduk dan mencoret - coret buku dengan pulpen nya.


Dia tidak memperhatikan sekitarnya, seakan dia sibuk dengan coretan di buku nya.


Aku jadi penasaran apa yang ditulisnya.


Tapi sepertinya dia sedang menggambar sesuatu bukan menulis sesuatu.


Sebentar - bentar aku menoleh kebelakang, Melihat penasaran apa yang sedang dia kerjakan.


Cowok itu masih tetap pada posisi yang sama. Diam kalem tanpa berbicara dengan seorang pun.


Ingin rasanya aku hampiri dan mengajaknya mengobtol. Tapi tidak mungkin, aku tidak berani untuk menghampiri nya. Aku hanya berani mencuri - curi untuk melihatnya.


Teman sebangkunya asik bercanda dengan teman - teman lain. Si cowok cool ini tidak bergeming sedikitpun. Rasa penasaran ku semakin menjadi - jadi.


Aku tak bosan mencuri - curi pandangan ke arahnya. Dia masih menunduk, "hihihihi terus aja nunduk ya, biar gue puas liatin lo." kata ku dalam hati.


"Eh Bee, lo udah catet itu semua yang tadi gue jelasin." kata Emi mengagetkan ku.


" ..  iya udah, nih udah semua kan ?" kataku pada Emi sambil ku tunjukkan catatan ku pada Emi.


"Pinterrr." kata Emi pada ku sambil menunjukkan jempol tangan kanan nya pada ku.


"Lo pulang naik apa ?" kata ku pada Emi mengalihkan pembicaraan.


"Bemo." kata Emi singkat


"Kalau lo ?" tanya Emi pada ku


"Gak tau, bemo juga mungkin. Itu juga kalau mama gue gak nungguin gue di kantin bawah." kataku menjelaskan pada Emi.


"Apa.. ???gak usah ketawa." kata ku pada Emi  yang hampir tertawa mendengar mamaku masih ada di kantin.


"Hahhahaha." Emi pun akhirnya tertawa.


"Dibilang jangan ketawa." kata ku ikut tertawa.


Aku pasti sudah tau kalau Emi akan tertawa mengetahui aku masih di tunggu mama di kantin. Pasti Emi berpikir aku anak yang manja. Sudah SMP masih diantar mama kesekolah.


Ku lihat ke arah Emi yang masih senyum - senyum.


............