My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Ku Buka Pintu Hati Ku Untuk Ryan



Hari terus berlalu, sedikit demi sedikit aku mulai mengikhlaskan kepergian Yoseph dan menghilang nya cimon.


Aku mulai menata kembali hidup ku yang terpuruk. Aku mulai aktif kembali di kejuaraan - kejuaraan Taekwondo. Sesekali aku masih menikmati hentakan musik di dunia malam. Tidak sesering dulu, sedikit demi sedikit dunia malam mulai aku tinggalkan.


Aku mulai membuka hati pada seseorang, ya walau aku masih tak bisa mencintai sepenuh hati.


-Ting tong- suara dering pesan masuk ke handphone ku, segera ku buka lalu ku baca pesan itu.


'Kamu ada dimana ? jangan pulang malam - malam. Nanti pulang kerja aku telp kamu yank.' aku tersenyum membaca pesan dari Iyan teman kecil ku yang sekarang menjadi pacar ku.


"Baru keluar office, ok gak kemana - mana kok. Ini udah mau pulang." ku balas pesan itu.


Ryan teman yang dari kecil aku kenal, dia juga teman satu dojang dengan ku. Sekarang dia bekerja di pulau dewata. Aku dan dia berpacaran jarak jauh. Awal dia menyatakan suka padaku, aneh juga. Tapi akhirnya aku mencoba menjalani hubungan ini. Ya setidaknya agar aku bisa move on dari cimon cinta pertama ku dan dari Yoseph cinta ke dua ku.


Ku bergegas mengendarai motor kesayangan ku. Ku nikmati udara senja di ibu kota, ku lewati taman itu. Aku tersenyum "Jo, itu taman kesukaan kita, baik - baik di laut ya Jo. Gue udah mulai move on, sekarang gue gak jomblo lagi." ku berhenti sejenak di pinggir taman ibu kota. Tak bisa ku pungkiri aku masih sangat merindu sosok itu.


Ku hela nafas panjang, "Wake up Bee, come on lo pasti bisa menyayangi Ryan. Inget sekarang dia adalah pacar lo." aku bermonolog dengan hati ku.


Ku lanjutkan kembali perjalanan pulang ku, karena mengingat Ryan akan segera menelphone ku. Ryan paling tidak suka kalau pulang kerja aku tidak langsung pulang. Ya entah mengapa sifat nya sangat protektif. Tidak se asyik waktu aku menjadi sahabatnya.


Terkadang aku lelah menghadapi sikapnya yang terlalu mengekang ku. Aku paling tidak suka di kekang - kekang. Tapi mau bagaimana lagi dia adalah pacar ku sekarang. Aku terus berusaha untuk memahahi sikapnya pada ku.


Sudah dua bulan aku menerima Ryan menjadi pacar ku. Setiap hari dia pasti menelpon ku dari pulau dewata. Kata dia jarak bukan masalah untuk dia selalu memperhatikan aku.


Ryan sosok yang romantis dan sedikit posesif. Dia tau teman ku banyak kaum adam, Ryan mulai melarang aku bergaul dengan teman - teman yang tidak dia kenal.


Terkadang di waktu libur dia sering video call hanya untuk memastikan aku ada dimana dan sedang dengan siapa. Aku begitu sesak, mempunyai seorang pacar tidak seindah bayangan ku. Aku merasa kemana- mana sedang di awasi.


"Bee, ada telp dari Ryan." teriak mama ku dari ruang tamu.


"Iya ma." jawabku singkat.


Segera ku beranjak dari tempat tidur ku. Ku raih gagang telpon itu.


"Halo, sudah pulang kerja ya ?" tanya ku pada seseorang di ujung sebrang sana.


"Iya sayang, kamu sedang apa? udah makan belum?." tanya suara itu.


"Sudah, lagi siap - siap mau latian." kata ku lagi.


"Ah Iyan pasti kalah deh, lupa ya Bee mu ini atlet taekwondo loh." ejek ku untuk nya.


"Ha ha ha iya iya tau, Aku bukan kalah tapi mengalah. Masa aku tega nendang - nendang pacar." dia mulai menggombal.


Padahal memang dari dulu dia tidak pernah bisa mengalahkan aku. Alasan saja tidak tega nendang pacar. Tapi ku biarkan saja dia berpikir begitu, biar harga dirinya tidak terluka.


"Sayang aku kangen, dua bulan lagi aku baru bisa ambil cuti. Aku akan pulang, kamu baik - baik ya disana." kata nya lembut pada ku.


"Iya Yan, tenang aja, Bee gak nakal kok ha ha ha ha. Nanti kalau kamu di Jakarta kita jalan - jalan ya." kata ku padanya.


Entah mengapa mendengar dia akan pulang ke Jakarta hati ku biasa saja. Tidak berbunga - bunga atau pun bahagia. Datar saja, seakan itu bukan hal yang istimewa.


Ryan selalu memanggilku dengan sebutan sayang. Jujur aja aku sedikit risih dia memanggilku begitu. Mungkin aku belum terbiasa dengan panggilan sayang nya untuk ku. Aku masih beradaptasi kalau Ryan sekarang adalah pacarku dan bukan teman kecilku lagi.


Kalau di tanya, apa aku suka dia. Ya aku suka dia, tapi entah itu suka seorang wanita kepada seorang pria. Atau rasa suka karena sikap nya yang baik pada ku.


Dan kalau ditanya lagi, apa aku sayang dia. Hmm iya aku sayang tapi rasa sayangku ini bukan rasa yang aku rasakan terhadap cimon dan Yoseph. Sungguh rasa sayang yang berbeda. Tepatnya aku menyayangi Ryan sebagai seorang sahabat lama, sahabat dari kecil bukan sebagai sayang terhadap seorang kekasih.


Aku sungguh berusaha untuk memberikan hatiku untuk Ryan. Tapi sangat sulit, aku berpacaran dengan Ryan tapi bayang - bayang kedua orang yang berwajah mirip itu tak pernah lepas dari ingatan ku.


Ditambah lagi sifat Ryan yang sangat mengekang ku. Aku sesak nafas di buatnya, gerak ku tak bisa selincah dulu.


Aku tau dia sangat perduli pada ku. Tapi sikap nya sungguh berlebihan.


Jarak yang jauh membuat hubungan kami bertambah rumit. Dia selalu curiga di Jakarta aku jalan dengan siapa. Ada lelaki lain selain dia, aku sudah habis kata - kata untuk menjelaskan pada nya.


Ryan itu dari belia sudah banyak fans nya, dia juga sudah berapa kali ganti - ganti pacar. Aku tau itu semua, tapi aku masih menerimanya menjadi pacarku ha ha ha. Aku pikir kenapa tidak di coba, mungkin dengan berpacaran dengan Ryan aku bisa melupakan dua cinta ku, dua orang yang tak bisa pergi dari hati ku.


Ternyata berpacaran dengan Ryan pun semakin membuat ku pusing. Semua kegiatan ku harus dilaporkan padanya. Sampai teman - teman kantor ku pun dia harus tau.


Aku sempat berpikir untuk putus saja, berpacaran dengannya tak seindah dikala aku masih menjadi sahabatnya.


Tapi aku bingung bagaimana mengatakan padanya kalau aku ingin putus. Aku tak bisa membuat Ryan bersedih. Hubungan kami baru berjalan dua bulan masa sudah harus ku putus kan.


Aku terus mencoba menyesuaikan diri dengan pacar baru ku ini. Sebisa mungkin aku turuti apa yang dia suka dan apa yang dia tidak suka. Batin ku sudah teriak... arghhb aku lelah .. sungguh lelah.


..........