My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Jo Atau Cimon...???



Sejak saat itu Yoseph tak pernah jauh dari ku. Setiap hari dia menjemput dan mengantarku pulang. Kami semakin akrab, tapi aku masih tidak menerima Yoseph menjadi kekasih ku.


Aku ingin menghapus bayang - bayang Cimon ku . Aku tidak mau menjadikan Yoseph kekasih hanya karena wajahnya mirip Cinta pertama ku.


Semester pertama berlalu sangat cepat, mungkin karena Yoseph selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Aku telpon jam berapapun dia selalu ada untuk ku.


Sikap Yoseph sangat lembut padaku. Dia tidak pernah marah atau memaksa ku untuk menjawab aku mau jadi pacarnya.


"Bee, jangan takut ya apalagi hindarin gue ya. Gue janji gak akan maksa lo untuk jadi pacar gue. Gue cuma mau disamping lo, ada untuk lo, lindungin lo.. itu udah cukup untuk gue." Kata Yoseph suatu hari.


"Dan tolong lo jangan panggil gue Sea, Gue gak perduli siapa itu Sea. Gue cemburu Bee. Panggil gue Jo aja." pintanya pada ku.


"Hmm iya Jo." Kataku pelan, Ada rasa sesak di dada mendengar perkataan Yoseph pada ku.


"Maaf, gue belum bisa jadi pacar lo. Suatu hari nanti mungkin gue bisa buka hati gue untuk lo Jo.." Suara ku lirih.


"Gak apa - apa, Asal lo senang gue ikut senang. Gue gak perduli lo terima gue or gak. Pokoknya gue mau terus jagain lo." Kata Yoseph mengacak - acak rambutku.


Yoseph memang sering kali mengacak - acak rambutku, sepertinya itu kebiasaan untuk dia. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan itu, aku tak pernah lagi menepis tangannya dari kepalaku.


"Entar gue mau jalan sama Eva, lo gak usah anterin gue ya Jo. Udah lam gue gak jalan berdua aja sama Eva." pintaku pada Yoseph.


"Ok.. tapi gak pake ada cowok ya." Tawa nya ada nada cemburu.


"Hha hah haa apaan si Jo" aku hanya tertawa mendengar perkataannya.


"Bee, ini buku nya. Terima kasih ya, nanti abis pulang kuliah gue traktir sebagai terima kasih gue" Lintang tiba - tiba muncul memberikan buku yang dipinjamnya padaku.


"Siapa lo ??" Yoseph bertanya ketus pada Lintang.


Oo Tuhan aku baru pertama kali melihat sorot mata marah Yoseph. Tatapannya dingin, apakah Yoseph marah batin ku berkata.


"Eh Jo.. dia teman satu kampus kita, Lintang namanya.. masa lo gak kenal ?" Kata ku menenangkan Yoseph


"Gak usah traktir - traktir Bee, gue masih sanggup jajanin Bee." Lalu Yoseph menarik tanganku meninggal kan Lintang yang kebingungan.


"Eh Jo, lo kenapa sii? marah - marah gak jelas gini ?" tanya ku heran pada Yoseph.


"Bee, jauhin dia..gue gak suka dia." Yoseph berkata dingin padaku lalu berlalu meninggalkan ku.


Hari itu Yoseph entah pergi kemana, di kelas, di Lab , di Kantin kampus tak terlihat batang hidung nya.


"Va, Jo kemana ? bolos ya dia ?, hp nya juga gak aktif." Tanya ku pada Eva.


"Oo tadi kata Rio dia ada di Studio, muka nya kusut." Kata Eva.


"Berantem ya ma lo Bee ?" Eva balik bertanya.


"Gak." Jawabku singkat.


"Bee lo kapan mau terima Jo, baik loh anaknya. Dia bener - bener sayang lo Bee. Lo gak mau coba jalan dulu sama dia ?" Eva menatapku.


"Bahas yang lain aja ya Va hha ha ha lagi gak mood bahas pacaran." Kata ku dengan tawa yang di paksakan.


"Emangnya lo gak suka sama Jo ?" Eva masih terus bertanya.


"Gue gak tau Va, sumpah gue gak tau.. Gue masih belum melupakan Cimon gue." Aku pun tertunduk.


"Bila Jo ada disamping gue, gue gak bisa bedain apa gue lagi bersama Yoseph atau Sea. Sumpah wajahnya, senyum nya, mata nya semua mirip Sea. Gue harus gimana Va ??" Kata ku bingung.


"Jujur gue seneng bila deket sama Jo, tapi gue masih belum tau. Apa gue terlalu kangen sama Sea sehingga gue suka deket sama Jo, atau karena sifat Jo yang care sama gue." Akhirnya Bee mengeluarkan isi hatinya pada Eva.


"Nah loh !!! gue jadi ikutan bingung dah .. Segitu cinta mati nya lo sama si Cimon yang gak jelas. Bodoh banget lo Bee." Kata Eva menjitak kening ku.


"Jangan nyesel lo kalau Jo pindah kelain hati." Goda Eva pada ku.


"Ya kalau Jo pindah ke lain hati berarti dia gak bener - bener suka gue." Tawa ku.


"Tunggu gue yakin sama hati gue, baru gue bisa jawab pertanyaan lo Va" ku tersenyum pada Eva.


"Sampai gue bisa menghilangkan bayang - bayang Sea. Gue gak mau Jo cuma jadi pelarian karena gue sangat menyukai cimon gue. Kasian Jo nya nanti, gue juga akan merasa bersalah banget kan" ku tatap Eva kembali.


"Ok lah Bee, gue dukung apapun keputusan lo. Lo lebih paham tentang hati lo" Eva memeluk ku erat.


"Thanks Va, lo emang the best dah" ku membalas pelukan Eva.


......