
........
Sejak saat itu aku selalu menemani Yoseph, memberi support padanya. Yoseph kembali ceria, aku menyukai keceriaannya.
Pernah suatu hari Yoseph berkata "Bee, kita gak usah pacar - pacaran gak apa - apa deh. Lulus kuliah gue langsung lamar lo aja ya?. Gue mau meried muda." ucapnya serius pada ku.
"Jo, lo salah makan apa ?" aku pun tertawa mendengar ucapan Yoseph.
"Bee, gue serius.. liat aja nanti lulus kuliah gue akan dateng ke rumah lo. Gue minta lo sama bonyok lo untuk jadi istri gue." kata nya tersenyum pada ku.
"Belum kerja udah nekat ngelamar anak gadis orang lo." ejek ku pada Yoseph.
"Gue yakin abis wisuda juga dapet kerja, tenang lah Bee, gue tau ngemil lo kuat jadi gak bakal gue biarin lo kelaparan ha ha ha ha." Yoseph tertawa lepas sekali.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Yoseph. Tak ku sangka dia akan berkata seperti itu. Seorang yang urakan seperti Yoseph ingin menikah muda.
"Bee mau kan lo nanti jadi istri gue ?" Yoseph melamar ku.
"Ha ha ha Jo, lo lagi ngelamar gue." aku pun tertawa dan menjitak kening nya.
Ada rasa senang dalam hati ku, tapi ku tak bisa menjawab lamaran Yoseph.
"Jo, mungkin dia hanya asal bicara saja." pikir ku dalam hati.
Sore itu aku habis kan waktu berkeliling - keliling dengan motor kesayangan Yoseph.
Kami hanya berkeliling tanpa tujuan yang jelas. Menikmati jalan sore di kota Jakarta yang tidak pernah tidur.
Sebelum magrib Yoseph mengantar ku pulang.
Setiap hari sepulang kuliah Yoseph membawa ku berkeliling atau hanya sekedar nongkrong di Taman. Bersenda gurau sambil menikmati cemilan yang selalu Yoseph siap kan untuk ku. Yoseph akan mengantarku pulang tidak pernah lewat dari jam 7 malam.
Yoseph pernah berjanji pada orang tua ku. Dia akan mengantar ku pulang tidak akan lewat dari jam 7 malam. Yoseph benar - benar menepati janji nya.
Ke dua orang tua ku mulai menyukai Yoseph, karena bagi orang tua ku Yoseph anak yang memegang janji nya.
Walau penampilan Yoseph sedikit urakan dengan rambut gondrong dan tato pada lengannya, tapi Yoseph selalu bersikap sopan di keluarga ku.
Malam minggu Yoseph selalu muncul di rumah ku padahal kami tidak berpacaran.
"Bee, kamu pacaran sama Yoseph." tanya papa pada ku.
"Gak kok pah, Bee cuma temenan aja. Belum kepikiran pacaran, mau fokus kuliah dulu." kata ku sedikit berbohong.
Aku tidak pernah bercerita kepada kedua orang tua ku, kalau Yoseph seorang pengguna narko** . Entah apa reaksi orang tua ku kalau sampai tau. Aku takut papa akan menyuruh ku untuk menjauhi Yoseph. Aku sudah terlanjur nyaman setiap hari bersama Yoseph.
...................................
Ini adalah tahun ke dua ku sebagai mahasiswi. Hubungan aku dan Yoseph semakin dekat. Aku sudah mulai menyayangi Yoseph, walau aku belum menerima Yoseph sebagai pacarku. Perlahan bayangan Cimon sudah mulai menghilang.
Aku suka ceria nya Yoseph, sifat terbukanya Yoseph. Sifat dan karakter Yoseph sungguh bertolak belakang dengan Cimon cinta pertama ku.
Aku menyukai Yoseph bukan karena wajahnya yang mirip Cimon ku. Aku nyaman bersama Yoseph mungkin itu yang membuat aku mulai menyukainya.
Yoseph selalu ada untuk ku, Yoseph selalu tersenyum manis bila bersama ku.
Aku tak pernah bosan untuk mensupport Yoseph agar meninggalkan barang haram itu.
Aku selalu di sisinya walau aku bukan pacarnya. Bagi ku dan Yoseph sebutan pacar itu tak penting, yang penting adalah perhatian dan saling support.
Yoseph juga akrab dengan keluarga ku. Malam minggu Yoseph lebih sering bermain catur dengan papa ku ketimbang ngobrol dengan ku. Hihihihi jadi lebih tepatnya setiap malam minggu Yoseph ngapelin papa ku.
Papa senang bermain catur bersama Yoseph. Yoseph suka bersenda gurau dengan papaku.
Suatu keajaiban bagi ku, karena papa ku tak mudah dekat dengan orang.
Papa ku super galak lebih tepatnya tegas si.
Seorang Yoseph yang urakan, berambut gondrong, bertato, di telinganya ada anting bisa akrab dengan papa ku. Hebat...
Aku pernah bertanya pada papa ku "Pa, papa kok gak galak sii sama Jo? . Biasanya kalau ada cowok yang telp cari Bee pasti papa jawab, Bee nya gak ada ha ha ha." tanya ku pada papa.
"Jo anak yang baik dan bertanggung jawab, selama ini dia selalu mengantar kamu pulang tepat waktu. Anak nya juga sopan walau dia berpenampilan urakan. Dia bicara apa ada nya, papa suka cowok jujur seperti itu. Kalau kamu mau pacaran sama Jo, papa ijinin." papa tersenyum padaku.
"Ha ha ha ha apa ada - ada aja." jawab ku malu.
Aku tak mengira kalau papa akan memuji Yoseph sebegitu nya, bahkan papa memberi ijin aku untuk berpacaran dengan Yoseph.
"Hebat banget si Jo bisa meluluhkan hati papa." kata ku dalam hati.
Memang tidak bisa ku pungkiri kalau Yoseph adalah orang yang menyenangkan. Aku selalu tertawa bila bersama nya. Yoseph selalu berkata apa adanya.
Apa yang ada dipikiran dan hatinya akan secara spontan akan dia kemukakan.
Awalnya aku kaget dengan sifat spontan nya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan sifat nya itu.
Aku senang dengan perubahan pada diri nya. Yoseph menepati janji nya padaku untuk menjauhi barang - barang setan itu.
Aku melihat kesungguhan Yoseph untuk memiliki hati ku.
Pintu hati ku sudah mulai terbuka untuk Yoseph. Bersama Yoseph aku mulai melupakan cinta pertama ku. Buku harian ku tidak lagi terisi kegalauan hati merindukan si Cimon yang entah dimana sekarang.
Buku harian ku berisi hari - hari ku bersama Yoseph. Sepertinya aku sudah mulai bisa merelakan Cimon ku yang menghilang.
"Terima kasih Jo, sudah membuat hari - hari gue berwarna." kata ku pada diri sendiri.
"Jangan pernah menghilang seperti Cimon gue ya." batin ku.
Yoseph tau tentang Cimon ku, aku pernah bercerita pada nya. Cimon yang menghilang tiba - tiba meninggalkan pedih di hati ku.
"Bee, gue gak akan hilang seperti cimon lo? gue gak akan ninggalin orang yang gue sayang. Gue akan terus bertahan di samping lo.. selalu Bee ..percaya sama gue ya." kata Yoseph suatu hari pada ku.
Yoseph mulai mengisi hati ku yang sudah lama hanya milik Cimon ku.
"Maaf Sea , sepertinya gue mulai menyukai Yoseph. Dia selalu ada untuk gue, dia yang selalu membuat gue tersenyum." batin ku berkata.
.........