
Hari Senin, Penataran telah usai. Kami mulai mengadakan pemilihan ketua kelas.
Setelah selesai memilih ketua kelas, ada pembagian regu piket. Suara dikelas gaduh, aku sungguh tidak suka sekolah ini. Satu - satunya yang membuat ku ingin pergi ke sekolah hanya untuk melihat dia yang belum aku tau namanya.
Aku menoleh kebelakang, Dia sudah mulai bercanda walau tidak seberisik teman sebangkunya. Aku senang melihat senyumnya. Dia tidak senakal anak- anak cowok dikelasku. Bagi ku dia pendiam, Aku tidak tau nama asli nya.
Bell berbunyi, aku dan teman sebangkuku Emi pergi ke kantin. Seperti hari - hari lalu, mata kakak kelas ku yang perempuan menatap sinis ke Emi dan aku.
"OMG itu mata serasa mau keluar, mau kucolok rasanya mata yang memandang sinis ke kami." batinku, Emi masih tidak melepaskan gandengan tangannya yang semakin kuat.
".... awww Emi, lo pegangan kenceng banget sii. Tangan gue sakit, nih liat pada merah !" aku menjerit kesakitan.
"Gue takut, tuh liat kakak kelas cewek serasa mau nyaplok gue. Mata nya pada lapar." kata Emi malah semakin erat memegang lengan ku.
Kakak - kakak kelas cewek memang tidak suka hmm tepatnya iri dengan kecantikan dan kepopuleran Emi.
Banyak surat cinta dari kakak kelas cowok maupun teman seangkatan kami untuk Emi. Tapi tidak ada satupun yang Emi respon.
"Hai Emi, mau ke kantin ya?" sapa ramah kakak kelas yang cowok.
Sungguh repot berteman dengan kembang SMP X. Aku yang tidak tau apa-apa ikut dimusuhin dengan kakak kelas kaum hawa hanya karena aku selalu bersama - sama Emi, primadona sekolah ku.
Begitulah hari - hariku Di SMP. Berteman dengan kembang SMP X, dimusuhin kaum hawa kakak kelas, memperhatikan diam-diam 'Dia' sicimon yang aku gak kenal namanya.
O iya entah mengapa cimon ( hhaha aku panggil Cowok cakep itu cimon ) gak pernah akur dengan sobatku. Mereka seperti Tom N Jerry, tiada hari tanpa bertengkar. Aku terjebak diantara mereka.
Bila mereka bertengkar aku hanya diam menjadi penonton setia.
Emosi Emi selalu memuncak bila melihat Cimon ku.
Aku tidak pernah tau sebab nya.
Pernah kami bertemu di tangga sekolah, Cimon ingin turun sedangkan aku dan Emi ingin naik.
Tangan usil si cimon menurunkan baju yang aku gulung. Aku memang suka menggulung lengan baju ku.
".. Eh .." hanya itu yang keluar dari mulutku
Si Cimon tersenyum dan berlalu.
"Apa lo ??" teriak Emi pada Cimon ku.
Suatu hari rambutku ada yang nimpuk dengan permen karet. Entah siapa yang tega melakukannya. Aku gak pernah punya musuh di kelas. Semua teman-temanku sibuk membersihkan rambutku.
Ada yang bawa minyak tanah, ada yang bawa gunting..Pasrah sambil nunduk menahan tangis. Cimon gue berjalan cuek aja keluar kelas. Gue masih nunduk menahan tangis. Entah apa yang dipikirkan cimon gue , dia berlalu gak perduli hiks....
Sampai dirumah aku masuk kamar menangis sampai puas, sampai akhirnya tertidur pulas. Esok harinya aku gak mau sekolah. Malu kalau inget kejadian kemarin.
Aku bilang sama mama "Ma, kepala Bee pusing, Bee ijin gak sekolah ya." kataku pada mama dan untungnya mama percaya lalu memberi ijin untuk tidak bersekolah hari ini.
Dua hari aku gak masuk sekolah, kenapa ada rasa kangen ma cimon ku. Padahal jelas - jelas tuh cowok cuek banget gak perduli terhadapku. Tiap hari berantem mulu ma Emi. "Suka kali ya ma Emi."pikir ku.
"Ya iyalah siapa yang gak suka ma Emi. Hampir 1 kelas bahkan hampir 1 sekolah kaum Adam nya suka Emi." aku menghela nafas lemas
".. Nasib ..nasib.. Suka sendirian." batin ku tertawa lirih.
"OMG, dia nyapa gue.. apa yang harus gue bilang" rasa senang, gugup campur aduk jadi satu. Ups entah kenapa udara dikelas menjadi sangat panas, keringat bercucuran mungkin saat itu muka ku sudah merah seperti kepiting rebus.
Aku hanya tersenyum tipis lalu berlalu meninggalkan dia sendirian. Dalam perjalanan ke kantin, aku ngomel sendiri
"Bee dasar bodoh, kenapa gak ajak ngobrol dia. Padahal itu yang tiap hari gue harapin..dasar bodoh .... bodoh nya gue." gerutuku menyesali yang baru terjadi.
Dikelas aku gak berani nengok - nengok kebelakang. Entah cimon ku sedang apa, Sayup - sayup ku denger dia becanda dengan Raya cewe berambut panjang yang manis. Deg kenapa ada rasai marah, rasa tak suka dengan candaan mereka. Aku benci ketawa mereka. Aduh perasaan apa lagi ini??? mengapa dada gue sakit, mau nangis rasanya.
Masih terus kudengar mereka dibelakang bercanda.
"Awww sakitt Ray." suara cimonku terdengar.
Hmm sepertinya si Cimon habis di cubit si Raya.
"Ish becanda di kelas, berisik banget. Cubit - cubitan lagi." kata ku jengkel.
Mungkin aku cemburu dengan keakraban mereka tapi aku tak menyadari nya.
"Ihh Raya nyubitin gue terus, sakit ah." terdengar lagi suara si Cimon.
Raya hanya tertawa melihat cimonku kesakitan.
Sumpah tiba - tiba udara dikelas saat itu menjadi panas.
Aku pun mengambil buku untuk mengipasi wajahku yang sudah mulai berkeringat.
"Mengapa panas banget sii nih kelas." aku bergumam sambil terus mengipas - ngipas dengan buku tulis ku.
Emi melirik kepada ku "biasa aja udara hari ini, gak panas - panas banget kok." Emi berkata pada ku lalu melanjutkan menulis catetan di bukunya.
"Beneran panas Mi, masa lo gak berasa sii.. nih liat baju gue basah semua." kata ku pada Emi sambil menujuk baju ku yang sudah mulai basah.
Ku lihat kanan kiri, teman - teman ku
masih sibuk mencatat catatan dari papan tulis. Tidak ada dari mereka yang merasa kegerahan.
"Masa cuma gue sii yang kegerahan." kata ku pada Emi yang masih serius mencatat.
"Lo tadi kesekolah gak mandi kali." kata Emi asal.
"Diii Emi rese, mandi lah gue. Gak mandi bau asem." aku memukul Emi dengan buku yang tadi ku buat mengipasi ku.
"Hi hi hi hi.. lagian cuma lo di kelas yang kepanasan tuhh..liat yang lain gak ada kan yang kepanasan." ledek Emi kepada ku.
"Jangan - jangan gue merasa gerah karena mendengar tawa si Cimon bercanda denga Raya cewek manis berambut panjang itu." pikir ku.
Suara tawa dibelakang mulai mereda. Tidak terdengar lagi suara candaan Cimon cakep dan cewek manis berambut panjang itu.
Dan seketika itu juga rasa panas di tubuh ku berangsur hilang.
".. ah lucu, gue gak kegerahan lagi. Aneh nih badan gue." kata ku heran.
............