My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Pertemuan Pertama Yoseph dengan Papa ku



"Pagi om, Bee nya ada ?" ucap suara yang tak asing ditelingaku.


"Pagi, kamu siapa ?" balas Papa ku dengan suara tegasnya.


Sayup - sayup ku dengar dari kamarku suara papa berbicara dengan seseorang.


"Saya Yoseph tapi om boleh memanggil saya Jo. Sementara ini masih menjadi teman kuliah Bee." Yoseph memperkenal kan diri .


"OMG itu suara si Jo, Eh tuh bocah bener - bener deh. Ngapain pake dateng ?" geramku, aku takut papa ku marah. Segera ku ambil tas ku, lalu berlari keluar.


"Eh lo Jo, ngapain kesini ?" tanya ku kaget .


"Jemput lo lah." sambil senyum - senyum gak jelas.


"Bee, siapa dia ? teman kamu ?" Papa menyelidik.


"Iya teman kampus pa" jawab ku singkat dan ingin segera berlalu dari hadapan papa.


"Cuma teman kan ?" tegas papa.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan papa, Yoseph sudah berkata "Mau nya sii lebih dari teman om, boleh gak ?" Yoseph berkata pada papa.


"Haduh nih anak, bener - bener deh kalau ngomong semaunya gak pakai dipikir." aku melotot pada Yoseph.


"Eh kamu anak muda, belajar dulu yang bener. Nanti setelah kamu wisuda baru bicara minta lebih." kata papa tersenyum.


Eh papa gak marah, dia tersenyum. Takjub aku dengan sikap papa yang tidak biasanya.


"Siap om." kata Yoseph tersenyum senang.


Sebelum obrolan bertambah ngawur lekas ku seret tangan Jo.


"Pa , Bee berangkat dulu mau ada kerja kelompok" kataku pada papa seraya menarik tangan Jo.


"Permisi om, nanti pulang kuliah Bee nya saya anter pulang." Jo berpamitan dengan papa, dengan gaya sok akrab nya.


"Ok kalian hati - hati, eh anak muda tepati janji kamu untuk mengantar Bee pulang tepat waktu" papa berkata pada Yoseph.


"Pasti om, saya akan antar Bee tepat waktu. Pulang kuliah langsung saya antar om" Yoseph tersenyum pada papaku.


Tak habis pikir aku dengan sikap Yoseph. Semalam dia tidak bicara sepatah katapun sewaktu mengantarku pulang. Bahkan dia tidak memberi kabar padaku. Pagi ini dia tersenyum manis menjemput ku. Kali ini dia nekat datang kerumah ku dan berbicara dengan Papa. Makhluk yang aneh , batinku berkata.


"Bee, udah dapet restu tuh dari bokap" Yoseph menggoda ku.


"Gimana Bee, boleh lebih dari sekedar temen gak ?" tanya Yoseph padaku.


"Nekat lo ah, untung bokap gue lagi gak galak." kata ku lagi.


"Emang seharusnya gue anterin lo tuh ya sampe rumah, bukan di depan rumah. Lo nya aja yang gak pernah ngijinin gue masuk." kata Yoseph.


"Lagian siapa yang marah sama lo, gue gak berhak marah. Lo salah kalau bilang gue bukan siapa - siapa lo Bee. Gue orang yang sayang, yang perduli sama lo . Gak perduli lo pacar gue atau bukan. Yang penting perasaan gue tulus untuk lo." Yoseph berkata pelan, ada nada sedih disuaranya.


Aku hanya terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulut Yoseph.


"Tunggu gue menata hati dulu Jo" kata ku lirih.


Sesampai di kampus, aku tak konsen dengan perkataan dosen yang sibuk menerangkan.


Pikiranku masih memikirkan perkataan Yoseph. Apa aku mulai menyukai nya, apakah bayang - bayang Cimon sudah hilang. Entah lah aku tak menemukan jawaban.


Awal aku nyaman bersama Yoseph karena aku merindukan wajah yang mirip dengan Cimon ku. Tapi sifat mereka begitu bertolak belakang. Yoseph begitu terbuka, apa yang ingin dia ucapkan akan di ucapkan. Cimon ku sedikit pendiam . Dan aku pun tak tau perasaan Cimon pada ku. Aku hanya tau kalau aku sangat menyukai Cinta pertama ku. Tak perduli dia melihat ku atau tidak. Aku akan selalu melihatnya.


Selesai kuliah Yoseph benar - benar langsung mengantarku pulang.


"Jo, gue mau ke Mall dulu." Kata ku pada Yoseph.


"Jangan sekarang Bee, gue janji sama bokap lo selesai kuliah mau langsung anter lo pulang. Ayo lah Bee, jangan buat bokap lo gak percaya gue. Ya please." Yoseph memohon pada ku.


"Ok lah, yuk anterin gue pulang. Besok aja deh gue ke Mall nya." akhirnya aku menuruti pinta Yoseph. Aneh juga sii aku mau menuruti pinta Yoseph hhahaha. Biasanya aku selalu keras kepala. Tidak akan mudah menuruti permintaan seseorang. Tapi aku luluh dengan kata - kata Yoseph.


Aku berpikir keras "Ngapain gue perduli sama penilaian papa tentang Yoseph ya. Papa mau suka atau gak kan gak ngaruh sama gue. Toh Yoseph bukan orang yang gue suka." kata ku bertanya pada diri sendiri.


Yoseph melajukan motornya dengan sedikit ngebut . "Bee, pegangan !" Yoseph berteriak.


Reflek tanganku memegang pinggangnya " Jo, pelan - pelan ah gue takut." kata ku pada Yoseph.


"Hha ha hha biarin.. biar lo pegangan, gak pegangan lo jatuh." Yoseph malah menambah kecepatan nya.


Aku terpaksa memegang erat - erat pinggang Yoseph.


"Rese nih anak, sengaja dia biar gue peluk. Awas aja entar sampe gue jitak pala nya." ancamku.


Sepanjang perjalanan Yoseph banyak tersenyum. Entah apa yang ada dipikirannya, terlihat hari ini dia gembira sekali.


Apa karena tadi pagi dia bertemu dengan papa ku. Tapi yang jelas aku senang melihat senyum nya. Senyum yang tulus milik Yoseph.


...........