
"Sore om, Bee sudah saya antar dengan selamat sesuai janji saya tadi pagi." Yoseph berkata sopan pada papa ku.
"Terima kasih, Bee ajak masuk teman kamu !!" kata papa padaku.
"Eh .. Jo mau pulang buru - buru pa, dia masih ada urusan." kata ku cepat sambil tanganku mendorong Yoseph, memberi kode agar Yoseph cepat - cepat pergi dari rumah ku.
"Ihh gak ada urusan kok." protes Yoseph pada ku.
"Jo, tadi kata lo ..lo mau anter Rio beli buku." aku melotot pada Yoseph, berharap dia cepat - cepat pergi.
"Iya iya.." jawab nya kecewa.
"Om saya pulang dulu, saya gak jadi masuk ke dalam. Di suruh sama Bee anter Rio beli buku, besok pagi saya jemput Bee lagi ya om." dengan terpaksa Yoseph akhirnya berpamitan kepada papaku.
"Sampai ketemu besok pagi Bee." sambil mengacak-acak rambutku.
"Makacih ya." jawabku tersenyum.
"Sama - sama nona galak, sudah sana masuk. Gue pulang dulu ya, eh nganter Rio beli buku ha ha ha." katanya tertawa.
Dia menggodaku dengan berkata akan mengantar Rio membeli buku. Karena sebenarnya memang hari ini Yoseph tidak ada kegiatan apa - apa.
Itu hanya kebohongan ku pada papa saja agar Yoseph tidak masuk ke dalam rumah ku.
Kalau sampai dia masuk terus berbincang - bincang dengan papa bisa tambah kacau.
Entah Yoseph akan berbicara apa tentang hubungan kami.
"Bye Bee galak." katanya pada ku.
Yoseph tersenyum, memakai helm nya dan melambaikan tangan nya padaku.
Hari ini Yoseph manis sekali, tanpa sadar aku tersenyum.
.................
Semester dua ini hari - hari ku lalui bersama Yoseph. Aku dan Yoseph tidak berpacaran, tapi kami selalu bersama - sama. Yoseph pun tiap hari menjemput dan mengantarku pulang.
Malam minggu dia pun main ke rumah ku. Teman rasa pacar hha ha ha. Kalian pasti bingung ya, ih kenapa gak sekalian aja pacaran ??.
Suatu hari aku pergi ke studio musik milik Rio, aku kesana tanpa memberitahu Yoseph.
Di sana aku melihat Rio dan teman - temannya memakai narkoba. Aku pun kaget, lalu ku cari dimana Yoseph. Hati ku hancur melihat Yoseph juga memakai barang haram itu.
Aku sungguh kecewa, aku tidak tau kalau selama ini teman - teman ku memakai barang haram itu.
Aku berlari keluar studio, aku menangis sejadi - jadinya. Aku sungguh kecewa, sedih, marah semua campur aduk menjadi satu.
Selama 2 minggu aku menghindari Yoseph.
Telp, SMS, YM, email dari Yoseph tidak ada satupun yang aku tanggapi.
Aku sungguh kecewa pada Yoseph. Tapi mengapa aku begitu marah dengan Yoseph.
"Ahh apakah aku mulai menyukai nya ??" tanyaku dalam hati.
"Dua minggu tanpa Yoseph begitu sepi, hari - hari tanpanya begitu membosankan." gumanku.
"Apa aku merindukan nya?" tanya ku pada diri sendiri.
Aku benar - benar mengindari Yoseph, aku tidak dapat menerima kalau selama ini Yoseph memakai barang haram itu.
Rio, Yoseph dan teman - teman di studio menggunakan barang haram itu (narkoxx). Tapi aku sama sekali tidak mengetahuinya.
"Sejak kapan ini terjadi, kenapa Eva tidak pernah memberi tau gue ?? apakah Eva juga sama tidak tau nya dengan ku ?" aku bertanya - tanya sendiri.
Rasa kecewa ku lebih besar dari rasa rinduku.
"Jo, kenapa lo ikut memakai itu ??" tanya ku kala itu ketika melihat Yoseph di studio.
Aku melihat wajah Yoseph yang panik dan terkejut dengan kedatangan ku.
"Bee.." dia mencoba mengejar ku, tapi lari ku lebih cepat dia tak mampu mengejar ku. Dan sejak saat itu aku menghindarinya.
"Bee.. tunggu.. jangan lari Bee." teriak nya saat itu. Aku tak memperdulikan teriakan nya, aku berlari semakin cepat meninggalkan studio musik milik Rio.
.................
"Bee, Jo mau ngomong nih." kata Eva menyerah kan hp nya pada ku.
"Males, gak ada yang harus di omongin juga." jawab ku singkat.
"Bee.. ayo lah.. lo harus denger penjelasan Jo." bujuk Eva pada ku.
"Hmm." kata ku akhirnya ku ambil hp dari tangan Eva.
"Bee, lo dimana ? gue jemput ya.. please Bee jangan menghindar." Yoseph berkata entah dari mana.
"Jangan sekarang Jo, nanti kalau gue udah tenang gue hubungin lo." kata ku pada Yoseph.
"Udah dua minggu Bee, gue kangen lo.. jangan hukum gue gini Bee.. please.. jangan hindarin gue terus." Yoseph masih memohon.
"Jo, jangan sekarang." kata ku singkat.
"Besok aja sepulang kuliah kita ketemu, udah ya gak enak lama - lama pake hp Eva." kata ku ingin menyudahi pembicaraan dengan Yoseph.
"Bee.. maafin gue ya..jangan benci gue." suara Yoseph terdengar lemas.
"Bye Jo." kata ku, lalu ku serah kan hp itu ke Eva.
"Thanks Va." kata ku pada Eva.
"Gitu dong Bee, jangan lama - lama marahnya. Kasian si Jo gak bisa ngapa - ngapain tuh. Tiap hari stress mikirin lo mulu, gue sama Rio jadi ikutan puyeng." kata Eva menjitak kening ku
"Aww sakit." aku memegang kening ku.
"Lo kenapa gak pernah bilang tentang Jo sama gue Va ??" kata ku pada Eva.
"Sory Bee." kata Eva pada ku.
"Ok Va, gue ke perpustakaan dulu ya. Gue janjian ma Lintang mau cari buku Program Akuntansi." kata ku pada Eva.
"Lo janjian sama Lintang ?" Eva bertanya heran.
"Gue liat lo akhir - akhir ini akrab banget Bee sama Lintang, lo pacaran sama Lintang ya ?" selidik Eva pada ku
"Gue kan satu kelompok sama Lintang Va, gak pacaran ..ngaco aja nih anak" jawabku pada Eva.
"Yakin Bee, lo gak ada perasaan apa - apa sama Lintang. Secara tuh anak manis banget, lo gak tertarik ?" selidik Eva lagi pada ku.
"Gak ada apa - apa Eva cantik, gue sama Lintang hanya sebatas teman satu kelompok gak lebih." aku menjelaskan pada Eva yang masih tidak mempercayai ucapan ku.
"Syukur lah kalau lo gak ada rasa apa - apa sama Lintang, gue takut aja sampe Jo makin frustasi kalau tau lo jadian sama Lintang." kata Eva pada ku.
"Ishh Eva apaan sii.. ngaco ah.. Jo..Lintang.." aku hanya tertawa mendengar Eva berkata demikian.
"Gue ke perpus dulu ya Eva cantik nan bawel tapi sobat gue yang paling baik." aku melambaikan tangan pada Eva.
"Eva ada - ada aja deh, kenapa bisa mikir gue pacaran sama Lintang. Gak mungkin juga lah, dasar tuh anak." batin ku tertawa memikirkan perkataan Eva barusan.
Aku bergegas menuju perpustakaan. Perpustakaan kampus ku terletak di lantai 3 bersebelahan dengan lab komputer.
..........