My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
My Jo Meninggalkanku Selama-lamanya



Aku masih terduduk lemas, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Semua begitu tiba - tiba. Tangis ku berubah menjadi bisu, air mata sudah tak bisa keluar lagi.


Tiba - tiba kepala ku terasa sakit sekali, pandangan mataku mulai gelap. Aku tak bisa merasakan apa - apa lagi.


-BRUKK- semua menjadi gelap. Aku terjatuh lalu tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi selanjutnya.


"Bee.. Nak kamu sudah sadar sayang." suara lembut seorang wanita terngiang - ngiang ditelingaku. Aku merasakan sentuhan hangat sedang menggenggam tangan ku.


"Jo... Jo.. dimana Jo ?" aku terbangun dari pingsan ku, entah sudah berapa lama aku pingsan. Dipikiran ku hanya terlintas sosok Jo.


Aku berusaha untuk duduk, tapi kepalaku masih terasa berat dan badan ku lemas sekali.


"Sayang, tenang lah.. jangan bangun dulu." wanita elegan itu berusaha menenangkan ku.


"Tante, dimana Bee? tante mana Jo..mana Jo nya Bee? ini mimpi kan.. ini mimpi kan???" aku berkata kepada wanita elegan itu yang tidak lain adalah mami nya Yoseph.


"Sayang." mami Yoseph tidak menjawab dia memeluk ku erat sekali, air mata tidak berhenti keluar dari mata indahnya.


Tiba - tiba aku teringat mengapa aku jatuh pingsan. Terakhir aku masih menggenggam erat jari - jari tangan Yoseph. Sebelum aku pingsan aku masih berada di samping Yoseph.


Jadi semua ini bukan mimpi, ini nyata.


"TIDAKKKKKK ...JOOOOO, Bee mau cari Jo.. Jo udah janji hari ini mau pergi berdua sama Bee. Jo engga pernah ingkar janji." aku berusaha melepaskan pelukan itu. Tapi pelukan itu malah semakin erat.


"Bee.. Bee.." hanya itu yang keluar dari mulut mami Yoseph. Dia semakin erat memeluk ku, tangisnya semakin kencang.


"Ini salah tante.. ini salah tante... maafkan mami Jo sayang." mami Yoseph berkata sambil terus menangis. Entah apa maksud dari ucapannya itu. Aku tak begitu paham, saat ini aku hanya ingin bertemu Jo.


"Tante tolong lepasin pelukan tante, Bee mau ketemu Jo. Bee takut Jo marah kalau Bee telat dateng nya. Kita mau pergi ke PRJ." ku masih berusaha melepaskan pelukan itu.


"Bee, yang sabar ya. Tenangin diri lo Bee." tiba - tiba Rio berkata.


Aku tak sadar kalau dikamar ini ada Rio dan Eva juga.


Ku lihat Eva masih menangis, disampingnya Rio masih memeluk Eva.


"Rio.. gak.. gak..gak mungkin.. ini mimpi kan..ha ha ha iya ini cuma mimpi." kata ku berusaha tertawa.


"Bee.. ikhlasin ya." kali ini Eva yang berbicara lalu memeluk ku.


"Eva.. Eva..ini nyata ..my Jo..my Jo." aku tak bisa berkata - kata lagi. Jantungku terasa akan berhenti. aku terduduk lemas, ingin menangis tapi air mata tidak bisa keluar.


"Jo.. dimana Jo sekarang, tolong anterin Bee tante. Bee mau lihat Jo." pintaku pada mami Jo.


"Jo sudah berada di ruang duka, ayo kita temuin Jo." ucap mami Yoseph.


Eva membantu mendorong kursi roda yang aku duduki.


Mami Yoseph masih mengusap - usap lembut kepalaku.


Rio berjalan disamping Eva, air mata mereka masih terus menetes. Tapi aku sudah tidak bisa menangis lagi.


Dadaku sesak, sesak sekali. Aku masih berharap ini tidak nyata, ini hanya ilusi ku.


Sesampai di ruang duka aku melihat ada pria tinggi, putih dan berkarisma. Itu pasti papinya Yoseph. Pria itu berdiri disamping peti jenazah Yoseph.


My Jo terbaring kaku didalam peti itu, ku mendekat perlahan kearah My Jo terbaring.


"Jo.. Jo sayang.. kenapa? kenapa??? lo udah janji gak akan ninggalin gue.. Jo mana janji lo mau jagain gue.. Jo.. gue belum sempet bilang.. Jo gue sayang lo.. gue mau jadi pacar lo.. bangun Jo ..ayo kita ke PRJ !!" aku masih tak percaya dengan yang aku lihat.


"Jo lo udah janji sama papa gue, lo mau lamar gue setelah lulus.. Jo gak lucu ah.. ayo bangun gak lo. Gue marah nih.. Joo..Joo.. lo selalu nurutin apa mau gue kan.. ayoo Jooo BANGUNNNN!!!" ku pegang erat tangan Yoseph yang sudah dingin itu.


"Va, liat si Jo marah sama gue. Dia gak mau bangun Va.. Jo gak mau ngomong sama gue." aku mengguncang - guncang tubuh Eva. Eva hanya menangis tak menjawab perkataan ku. Begitupun Rio, mami Jo, papi Jo semua hanya menangis dan menangis.


Ku pandangi orang yang ku sayangi, seseorang yang sudah berhasil membuat ku jatuh cinta padanya. Seseorang yang sudah membuatku move on dari cimonku. Kini terbaring kaku di hadapanku. Ujian apalagi ini Tuhan.


Setelah aku berhasil jatuh cinta kepada Yoseph. Setelah aku sudah move on dari cinta pertama ku. Sekarang dia pergi untuk selama - lama nya.


Dia pergi meninggalkan ku, pergi meninggalkan ku seperti cimon ku menghilang. Meninggalkan cinta yang kuberikan untuk nya.


Ujian ini sungguh berat Tuhan. Aku sudah menyayanginya, aku sudah membuka pintu hati ku untuk Yoseph. Sekarang Kau ambil dia dari ku.


"Jo... gue sayang lo, jahat lo ninggalin gue. Lupa ya lo janji apa sama gue. Lo bilang lo gak akan hilang seperti Sea. Lo gak akan kemana - mana, lo akan selalu disisi gue." aku berbicara pada sosok kaku di hadapanku.


"Jo, mengapa Jo.. mengapa lo sampe memakai barang haram itu lagi. Lo udah janji gak akan memakai barang - barang setan itu lagi. Mana janji lo???" aku masih terus berbicara pada orang yang aku sayangi ini.


"Disaat gue udah membuka hati gue untuk lo, disaat gue udah sayang lo, disaat gue udah jatuh cinta sama lo. Lo malah pergi ninggalin gue. Apa beda nya lo sama Sea. Kalian berdua sama aja." air mata mulai menetes di pipi ku.


"Jo, gimana jadinya gue tanpa lo Jo. Tega banget ninggalin gue. BANGUN gak lo, Jo bangun." aku sungguh tak menyukai melihat Yoseph hanya diam membeku, dimana tawa itu, dimana senyum itu, dimana kejahilannya. Sekarang dia hanya membisu, tak bergerak sama sekali. My Jo benar - benar sudah meninggalkan ku.


"Bee, yang sabar ya. Jo pasti gak mau liat lo sedih gini. Ikhlaskan Jo ya, kasian dia nya Bee kalau lo begini." Eva berusaha menenangkan ku.


"Eva... gue sayang Jo..gue cinta Jo.. gue belum bilang itu semua ke Jo. Rencananya hari ini gw n Jo mau ke PRJ. Gue mau ungkapin semua perasaan gue pada Jo hiks." aku menangis di pelukan sobat ku itu.


"Iya..iya Bee.. Jo tau kok kalau lo sayang dia. Jo pasti seneng. Dia bisa pergi dengan tenang, Bee kirim doa untuk Jo, udah jangan nangis lagi ya." Eva mengusap air mata yang tidak mau berhenti keluar.


...........