My Cimon My Secret Love

My Cimon My Secret Love
Anak SMP Itu Sudah STM



Sesampainya di sekolah, sudah ada beberapa temanku yang datang.


masih ada waktu 30 menit lagi, masih sempat sarapan dikantin. Dari rumah aku hanya minum segelas air hangat tidak sempat sarapan.


"Bu, minta bakso satu ya gak usah pake mie." kataku pada ibu kantin.


"Oke neng, sambel yang banyak kan." jawab ibu kantin, Si ibu kantin sudah hapal dengan pesanan ku.


Karena setiap hari aku nongkrong di kantin , aku juga suka membantu ibu kantin untuk melayani pembeli.


Ibu kantin sering memberikan free bakso untuk ku.


Kantin adalah tempat favorit ku.


Sedang asik aku memakan bakso yang super pedas itu , ada yang menepuk pundak ku dari belakang. Tidak kencang tapi cukup mengagetkan ku, hampir saja bakso yang aku makan tersembur keluar akibat kaget.


"Hei.. makan sendiran aja gak bagi - bagi." kata seorang cowok dengan seragam putih Abu - abu .


Aku menoleh kebelakang , "cieeee.. udah jadi anak STM lo ya...keren.. keren." kataku pada anak cowok itu.


Dia adalah Ahmat alumni SMP A, SMP A satu gedung dengan sekolah SMEA ku. Kalau pagi sekolah SMEA ku dipakai anak SMP A.


"Udah gede lo ya sekarang, bukan anak SMP lagi ..makin cakep aja." tawa ku mengejek Ahmat.


"Ah rese lo Bee, iya dong masa masih bocah aja, cakep kan gue." kata nya senyum - senyum memamerkan seragam putih abu - abunya.


"Mau ngapain di sini, mau kembali jadi anak SMP lagi ? gak mau move on ya dari SMP tercinta." kataku masih menggoda Ahmat.


"Kangen sama lo, iya masih cinta ma lo, iya gue gagal move on." katanya santai menatap ku lalu mengambil gorengan.


"Ya udah kalau kangen, tuh bayarin bakso gue ya !!! jangan cinta jangan gagal move on, cukup kangen aja gak apa - apa." kata ku menepuk pundak ahmat lalu beranjak pergi dari hadapannya.


Ahmat ini salah satu anak SMP A yang sering mengirim surat cinta dan puisi cinta kepadaku.


"Bee, mau kemana lo ? eh gue masih mau ngobrol." teriaknya pada ku.


"Gue dah telat, mau ke Lab Komputer. Tunggu gue 30 menit lagi kalau lo mau ngobrol, sambil nunggu tuh bantuin ibu kantin dulu."


jawabku pada ahmat sambil tertawa.


"Mat, jangan lupa bayarin bakso gue." kataku mencibir kan mulutku ke arah ahmat.


Ahmat memang sering mentraktir ku, Semasa dia SMP uang sakunya lebih banyak dari uang sakuku.


"Gue tunggu lo disini ya, kalau udah selesai cepetan kesini." kata ahmat semakin kencang karena aku sudah mulai melangkah jauh meninggalkan kantin.


Gue cuma melambaikan tangan saja ke arah Ahmat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Di Lab komputer materinya tidak terlalu banyak. Sehingga aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Memang aku tidak mau berlama - lama di Lab Komputer ini.


Aku sungguh muak melihat muka guru komputer ku.


Sejak dia tidak adil dan curang dalam memberikan nilai pada murid - muridnya, aku sudah tidak respect sama sekali terhadap guru ku ini.


Guru macam ini sungguh menyebalkan. Aku sudah malas protes dengan guru aneh ini. Percuma dan sia - sia protes dengan guru genit ini. Nilai ku raport ku akan semakin dibawah rata - rata.


"Si Ahmat masih nungguin gue di kantin gak ya, kasian juga." aku berkata dalam hati.


"Lah, beneran tuh bocah masih ada." kata ku menunjuk ke arahnya.


"Dih nih anak bukan sekolah, malah nongkrong disini, mulai nakal ya." kataku sambil menjitak kepalanya.


"Aduh, sakit." rintih nya lalu mengusap - usap kepalanya yang habis ku jitak.


"Gue masuk siang, Kepsek SMP manggil gue buat ngelatih silat lagi disini. Jadi lo bakalan sering liat gue." katanya menjelaskan padaku dengan wajah bangga nya.


"Ha ha ha gue kan bentar lagi lulus, jadi gue aman gak liat lo, lo juga gak bisa ketemu gue karena gue bentar lagi jadi mahasiswi. Jangan kangen ma gue !!!!" kata ku pada Ahmat dengan nada mengejek.


"Gue samperin lo kerumah lo." katanya sok tau.


"Sotoy lo, kaya tau rumah gue aja. Lo dateng gue taburin garem depan pintu rumah gue." ledek ku pada Cowok tinggi ini.


"Kurang asem, emangnya gue uler." jawabnya sambil tertawa.


Melihat Ahmat dengan seragam putih abu nya terlihat sungguh berbeda. Dia bukan bocah lagi, keren dengan putih abunya. Ahmat itu tinggi, aku sebahunya.


Dia selalu berkata "lo sama gue tinggian gue, gue gak mau manggil lo kakak. Jadi pacar gue aja Bee??" kata nya pada saat itu.


Aku tidak pernah serius menanggapi ocehan si Ahmat. Karena bagi ku dia hanya anak kecil yang kebetulan lebih tinggi dariku.


"Bee, gimana gue sekarang bukan anak SMP lagi nih, masih ada harapan gak buat gue?" katanya tanpa basa basi.


"Kaga.. lo tetep anak SMP dimata gue, lo tetep adik kecil di mata gue." jawabku sambil mengambil gorengan dipiring Ahmat.


"Ya elah Bee, sadis amat sii lo? liat nih gue dah pake putih abu, bukan putih biru lagi, gue gak mau jadi ade lo. Lo lebih pendek dari gue." katanya lagi sambil terus memakan gorengan.


"Emang lo lagi gebet siapa sii ? lebih keren dari gue gitu ??" narsisnya mulai kambuh.


"Gue mau fokus buat ujian, gak ada waktu mikirin gebetan. Gue mau ngejar bea siswa biar bisa kuliah dul." kata ku menjelaskan.


"Jadi, gue ditolak lagi nih? bentar gue itung dulu. Lo udah berapa kali ya nolak gue." katanya tertawa.


Aku melihat tawanya, syukurlah dia semakin dewasa. Waktu pertama aku tolak, Dia marah dan satu bulan menghindariku. Mungkin karena seringnya aku tolak, sekarang dia sudah kebal . Aku pun ikut tertawa bersamanya.


Ahmat ini sewaktu SMP aktif dalam ekskul disekolahnya. Ahmat juga pelatih silat di SMP nya.


Dengan wajah nya yang manis, tinggi, dan kulit sawo matengnya banyak adik - adik kelasnya menyatakan cinta pada bocah ini, tapi selalu di tolak nya dan berkata bahwa Ahmat adalah pacar ku.


Selalu saja Ahmat bilang dengan teman sekelas atau pun adik - adik kelasnya , kalau aku ini adalah pacar nya.


Aku sering protes dengan Ahmat kalau aku ini bukan pacarnya tapi kakak nya.


Ahmat hanya tertawa mendengar protes ku.


"Biar lo gak ada yang deketin Bee." kata nya padaku .


Dan suatu hari ada adik kelas nya menghampiri ku.


"Kak, kakak yang pacar nya kak Ahmat ya ?" tanya gadis manis berambut sebahu itu pada ku.


"Bukan, saya kakak nya Ahmat." jawab ku tersenyum.


..................