
Malam itu, menjelang tengah malam Rain kembali ke markas besar Dead Vagabonds. Wajah pria itu tampak kalut, bingung, dan marah. Semua bercampur menjadi satu. Berkali-kali dia ingin kembali menjemput Rea, tetapi entah mengapa dia tidak melakukannya.
"Loh, kok lo balik? Gue aja mau pulang, lo ngapain balik lagi ke sini?" tanya Max, pria berpotongan rambut militer itu sedang merapikan ruangan yang baru saja mereka pakai.
Rain mengempeskan tubuhnya ke sofa panjang dan kemudian Dia menenggelamkan wajahnya di dalam bantal. Perasaan bersalah terus menghantuinya dan entah kenapa, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Kepalanya terasa kosong dan dia tidak bisa memikirkan apa pun selain Rea.
"Speed, lo kenapa?" tanya Max, dia duduk di samping Rain. Tidak biasanya, sang ketua geng terlihat lunglai dan lemah seperti ini.
"Gue salah, Max. Gue bawa Rea ke tempat Hunter," ucap Rain.
Max memberikan tinjunya kepada Rain, kemudian dia menarik kerah jaket pria itu untuk berdiri dan menghantamnya kembali dengan tinjunya. "Bajjingan lo, Rain! Lo tinggalin Rea di sana dan lo balik ke sini! Brengsek, lo!"
Rain tidak menampik atau berusaha membalas pukulan Max, dia pantas mendapatkannya. "Gue ngaku gye brengsek, Max! Gue ngga tau harus ngapain, gue udah takut duluan dia di apa-apain!"
Max mengambil botol minuman bersoda di lemari pendingin dan menumpahkannya di kepala Rain. "Gue bantuin lo untuk dinginin kepala dan mikir! Abis itu, lo ke sana, bawa Rea balik, kalo Hunter ngelawan, gue sama anak-anak bakal nunggu di depan hotelnya. Kirim alamatnya sekarang!"
"Gue-, ... Gue ngga bisa, lo ngga ngerti Max!" tukas Rain lagi.
"Woy, lo tau betapa gilanya Hunter dan lo ngasih anak orang untuk dijadiin taruhan! Kalo lo ngga sanggup, gue yang akan jalan! Jangan harap, Rea akan bisa sama lo lagi! Dia bakal jadi milik gue!" ucap Max tegas. "Lo dan Hunter, bukan! Lo dan Archie sama-sama bajjingan brengsek yang pengecut!"
Max mengambil kunci motornya dan bersiap untuk menyalakan kendaraan roda duanya tersebut. Namun, Rain menahannya. "Gue aja! Lo tunggu sini! Ini pertarungan gue sama Hunter! Thank's udah nyadarin gue,"
Setelah menepuk pundak Max sebagai ungkapan terima kasih, Rain pun melajukan motornya menuju hotel tempat Hunter dan Rea menginap.
Sementara itu di hotel, Rea masih bersembunyi di bawah meja yang berada di sudut kamar hotel itu. Hunter berusaha untuk membuat gadis itu keluar dari persembunyiannya.
"Keluarlah, sebelum kesabaran gue habis! Gue masih baik, niy! Cepetan keluar!" titah Hunter.
Rea semakin menekuk kedua kakinya rapat-rapat. "Ngga! Gue ngga tau lo mau ngapain! Biarin gue pergi!"
Hunter bangkit berdiri dan menarik napas kasar. "Siapa nama lo?"
"Ngga usah tanya!" jawab Rea ketus. "Di mana Rain? Kenapa dia nganterin gue ke sini?"
Mendengar pertanyaan Rea, Hunter tertawa. Dia kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi telungkup dan kedua tangannya dia sanggahkan di pipi. "Jadi begini ceritanya, gue nawarin dia sebuah kompetisi dengan lo sebagai taruhannya dan dia setuju. Sayangnya, dia kalah dan harus nyerahin lo ke gue malam ini. Hahahaha! Bego, 'kan? Kalo dia cinta sama lo, dia ngga akan ngelepasin lo gitu aja, hahaha! Kasihan juga,"
Rea menelan salivanya. Ada rasa kesal dan emosi pada Rain saat itu juga, tetapi dia cukup bijaksana untuk tidak langsung memutuskan apakah dia akan marah pada Rain atau tidak? Maka, dia kembali mencari informasi dari Hunter. "Apa hubungan lo sama Rain? Kenapa lo bisa tau gue?"
Gadis itu sengaja mengulur waktu untuk mencari cara bagaimana dia bisa melarikan diri dari sana. Selagi Hunter menjawab, Rea mencari tasnya dan dia melihat tali tasnya nenggantung di atas ranjang. "Shiit!" umpatnya dalam hati.
"Gue sama Rain? Anggap aja rival! Hehehe, ayo keluar!" tukas Hunter.
Tiba-tiba saja, Hunter menarik tangan Rea dengan kasar dan memaksa gadis cantik itu untuk keluar. "Gue nggak mau tau, malam ini gua harus berhasil ngedapetin lo gimanapun caranya!"
Hunter melancarkan serangan ciumannya yang pertama. Air mata Rea menetes bersamaan dengan mendaratnya bibir Hunter. Namun, Rea tidak pasrah begitu saja. Dia menggigit bibir Hunter dan kembali bersembunyi di bawah meja.
Fokus Rea saat ini adalah mengambil tasnya, kemudian dia harus melarikan diri secepatnya dari situ apa pun yang terjadi. Di tas itu ada ponsel dan dompetnya.
"Cewek Sialan! Keluar lo!" sekali lagi Hunter menjulurkan tangannya untuk menarik Rea keluar dari sana. Begitu tangan Hunter masuk ke bawah meja, Rea mencakar tangan bertato pria itu menggunakan kuku-kukunya yang panjang. "Aarrgghh! Brengsek!"
Tak habis akal, Hunter menarik kedua kaki Rea dengan memakai segala kekuatannya. "Lo bener-bener nguji kesabaran gue! Ngga ada ampun buat lo, Gadis Jallang!"
Kecil-kecil cabe rawit, itulah Hunter. Dia sanggup menarik kedua kaki Rea, hingga gadis itu jatuh telentang, dan dengan mudahnya, Hunter menarik Rea keluar. Sekejap kemudian, pria itu segera menindihnya.
Dengan kasar, Hunter membuka paksa jaket yang dikenakan oleh Rea dan dia berhasil membukanya. Beberapa kancing jaket itu terlepas dan menyisakan kaus crop top yang dipakai Rea hari ini.
"Wow, bener-bener barang bagus. Bodoh banget Speedy itu, ngerelain cewek kayak lo! Hahaha," ucapnya sambil tertawa puas.
Hunter terus berusaha mencium bibir Rea lagi, sambil tangannya sibuk berkelana ke tubuh milik gadis itu. Ketakutan mulai menggelayuti Rea, hingga dia tidak dapat berpikir apa yang harus dia lakukan. Segala rencananya hancur berantakan, dikalahkan oleh rasa takut yang besar.
"Please, jangan! Biarin gue pergi!" ucap Rea sambil terisak. Lagi-lagi bibir Hunter berhasil mengambil alih bibir Rea dan kali ini, pria itu cukup pintar. Dia memaksakan lidahnya untuk masuk ke dalam dan menjelajah seluruh isi rongga mulut Rea. Tangannya tak berhenti memainkan apa yang telah dia temukan.
Rea masih berusaha untuk melepaskan ciuman itu, tetapi dia sama sekali tak berdaya. Sampai dia mendengar dering telepon dari ponselnya.
Gadis itu mengumpulkan semua keberaniannya dan kembali menggigit lidah Hunter yang sedang asik menikmati merahnya bibir Rea itu.
"Ooowch! Shiit!" Hunter berguling ke sisi Rea dan tidak mau membuang kesempatan itu, Rea segera berguling menjauh dan tangannya menyambar tas yang ada di atas ranjang dan bergegas membuka kunci pintu.
Hunter berusaha menangkapnya kembali dengan menarik rambut Rea. "Mau ke mana lo? Gue udah bilang, lo ngga akan bisa lari dari gue!"
Rea merintih kesakitan. Dia meraba-raba ke dalam tasnya berharap menemukan sesuatu yang dapat membantunya melarikan diri. Tiba-tiba saja, tangannya merasakan sebuah benda yang panjang yang dia pikir parfum. Dia ambil botol itu dan semprotkan ke wajah Hunter.
Sontak saja, Hunter menjerit kesakitan sambil menutupi wajahnya. "Aarrgghhh, sialan! Aargghhh!"
Dengan tangan gemetar, Rea memutar kunci kamar itu. Begitu pintu terbuka, dia segera berlari secepat mungkin tanpa menoleh lagi ke belakang. Bahkan dia melupakan sepatunya yang tertinggal di kamar hotel itu. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah berlari sejauh mungkin.
Ketika dia sudah merasa aman, Rea menoleh ke belakang dan menghembuskan napasnya lega. Tidak ada yang mengejarnya. Dia kembali berjalan dengan cepat sambil mencari ponselnya.
Belum sempat dia menemukan ponsel untuk mencari pertolongan, bunyi deru motor mendekat. Rea pun kembali berlari tanpa menoleh, tetapi kali ini tenaganya sudah habis. Pengendara motor itu berhenti tepat di hadapan Rea. Ketika si pengendara motor itu turun dari motornya, gadis itu berjongkok sambil meringkuk ketakutan. "Jangan! Jangan bawa gue! Tolong! Tolong!"
...----------------...
Marea Skylar Johnson aka Rea