
Pada akhirnya, Rain mengibarkan bendera putih tinggi-tinggi. Dia menyerah dengan Rea. Dia tidak ingin lagi mengatakan apa pun kepada gadis itu, dia juga sudah kehilangan semangatnya untuk terus mengejar cinta Rea, dan yang paling parah dari semua itu adalah, dia sudah tidak memiliki keinginan untuk melakukan apa pun.
Seperti hari itu, dia hanya berguling-guling di atas ranjangnya. Matanya menatap kosong pada atap, entah apa yang dia pikirkan saat itu.
Setelah ucapan terserah, Rea berhasil menamparnya dengan kata-kata menyakitkan yang membuat Rain lumpuh seketika. Bahkan rasanya lebih parah dibandingkan saat dia kalah bertanding dengan Hunter.
"Kita masih jadian, 'kan, Re? Maksud gue, gue pengen kita tetep deket. Lo mau mutusin gue juga ngga masalah," ucap Rain saat itu.
Namun dengan ekspresi wajah santai dan tak berdosa, Rea menjawab, "Emang kita pernah jadian? Lagian sekarang kita udah deket kali. Kita depan-depanan, loh,"
Hancur rasanya hati Rain. Itulah sebabnya dia melambaikan bendera putih kepada gadis itu. Lamunannya disadarkan oleh suara ketukan pintu kamarnya.
"Rain, ngga kuliah?" tanya Jacob berjalan masuk ke dalam kamar pria yang berusia 21 tahun itu.
Rain kembali membalikkan badan membelakangi ayahnya. "Males, Pa,"
"Kalo mau deketin cewek itu harus pinter, pake otak, dan hati. Ngga bisa langsung gerak kayak kamu gitu. Agresif," jawab Jacob menasihati.
"Apa sih, Pa? Aku ngga deketin siapa-siapa, kok!" balas Rain ketus. "Males aja kuliah, lagi ngga pengen ketemu orang!"
Jacob menghela napas panjang. "Terus? Mau berenti lagi? Baru juga kuliah 3 minggu, Rain. Apa kamu ngga tertarik handle perusahaan Papa nantinya? Mau sampe kapan begini terus? Kalo Papa mati, kamu gimana? Ngga kuliah, ngga kerja, terus hidup kamu mau gimana? Coba pikir sampe situ deh, Rain!"
Rain tak bergeming. Dia hanya terdiam, matanya menatap dinding, dan memikirkan ucapan ayahnya. Laki-laki muda itu memang merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan. Dia mengakui kalau dia egois, kekanak-kanakan, dan keras kepala, tetapi itu dia lakukan supaya orang mengerti dia. Paling tidak, itulah harapan Rain.
Setelah berbicara seperti itu, Jacob beranjak dari ranjang putranya dan bergegas keluar dengan menggelengkan kepalanya.
Selagi Jacob memikirkan Rain, Rea bergerak lancar tanpa halangan. Ferguson terus memberikan feedback yang cukup baik untuk klien mudanya itu.
"Kita pasti akan memenangkan kasus ini, Nona. Apalagi, tuntutan Nona hanya meminta mereka membatalkan perjanjian pernikahan," ucap Ferguson bersemangat.
Rea tersenyum. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan persidangan ini, walaupun awalnya dia yang bersemangat, akan tetapi semakin ke sini, dia merasa lelah dengan semua drama di hidupnya. "Ya, aku percaya padamu, Tuan Fergie. Bagaimana di kantor? Apakah namaku sudah disebut di sana?"
Fergie mengangguk senang. "Sudah, Nona. Setelah Anda selesai skripsi dan dinyatakan lulus, Anda bisa segera bekerja di sana. Oh, apakah Anda sudah menyiapkan asisten pribadi yang ingin Anda wawancarai?"
"Aku tidak perlu mewawancarai dia karena Anda juga sudah mengenal dia dengan baik," kata Rea.
Kedua mata Fergie berbinar-binar. "Nona Lizzy, kah?"
"Yup. Aku percaya dengan kemampuannya. Dia gadis pintar, hanya saja tidak terlihat, hahaha! Tapi aku percaya kepadanya," jawab Rea. Gadis itu membayangkan bagaimana Lizzy akan menjadi asisten pribadinya dan mengatur semua jadwalnya.
Di dalam benak Rea sudah terlintas daftat aktivitas yang akan mereka kerjakan. Jogging atau berenang di pagi hari, makan siang lalu mencari cemilan, menjelang sore mereka akan ke kedai kopi dan menikmati kopi hingga petang, setelah itu berpesta di klub malam. Kira-kira begitulah gambaran jadwal yang akan dibuat oleh Lizzy.
Tak terasa, Rea menarik otot-otot wajahnya dan membentuk sebuah senyuman tipis. "Kita pakai dia saja. Sampaikan kepada Tuan Luther kalau aku sudah menemukan dan membentuk tim kerjaku,"
"Oke, Nona. Akan saya sampaikan kepada Tuan Luther," balas Ferguson lagi.
Di suatu tempat, seorang wanita dengan wajah manja dan sedikit menyebalkan sedang memberengutkan bibirnya kesal. "Percuma juga gue minta tolong sama Archie Sialan itu. Tetep aja gue ngga bisa dapetin Rain! Cih, Archie Brengsek!"
Gadis itu terlihat sedang merutuki kebodohannya. Dia kini menyusun rencana untuk membalas Archie aka Hunter ataupun Rain. Tak lama, dia menyunggingkan senyuman liciknya.
Beberapa menit kemudian dia sudah mengendarai kendaraannya menuju ke markas yang tadi dia sebutkan di telepon.
"Warren," sapa gadis itu.
Seorang pria berwajah seram dengan banyak tindikan serta tato keluar untuk menyambut gadis itu. "Stella. Tumben dateng ke sini? Yang kemarin, lancar, 'kan?"
"Cih! Apanya? Rain makin marah sama gue! Untung aja gue ngga nyebut nama lo! Tapi kayaknya, dia tau kalo lo nyuruh-nyuruh gue untuk ngelakuin kayak kemarin," kata Stella.
Gadis itu memang datang dengan tujuan ingin membalas kekecewaannya baik itu pada Rain maupun Archie. Awalnya dia mengharapkan Rain akan membuka hatinya kepadanya begitu tau mereka sudah tidur bersama, tetapi harapan Stella tak pernah menjadi kenyataan. Yang terjadi justru Rain semakin menjauh darinya.
"Serius lo? Dia ngomong gimana?" tanya Archie mulai terpancing.
Stella tersenyum saat Archie termakan hasutannya. Dia pun merendahkan suaranya. "Dia bilang, ...."
Wajah Archie semakin memanas dan memerah tatkala dia mendengar pengaduan palsu dari Stella. Tangannya terkepal karena marah.
"Sialan si Rain itu! Gue ngga bisa diem aja!" tukas Archie mulai kepanasan.
"Tugas gue udah kelar. Gue cuci tangan dan mau balik. Semoga berhasil, deh, balas dendam lo. Bye," ucap Stella dan dengan langkah anggun dia bergegas pergi meninggalkan markas The Monster Hunters.
Setelah Stella pergi, Archie mengumpulkan anak buahnya dan meminta mereka bergegas untuk menyerang Rain. "Kita hancurkan aja sekalian Speedy Brengsek itu! Jangan kasih ampun! Ayo, jalan!"
Sementara itu, Rain sedang berada di markas Dead Vagabonds. Dia mencurahkan perasaan hatinya kepada Max dan Abs. Hanya mereka berdualah yang saat ini mengerti keadaan Rain.
"Sabar, Bro! Kasih Rea waktu. Semua datang cepat dan bertubi-tubi, Bro. Dia juga manusia. Kondisinya juga masih labil. Coba lo inget-inget, dia sempet berduka, ngga?" ucap Abs bijak.
Rain menoleh ke belakang dan mengingat apakah Rea sempat berduka saat kedua orang tuanya meninggal? "Gue rasa dia ngga sempet. Abis pemakaman, bokap gue dan pengacara keluarganya datengin dia untuk ngasih tau ini itu dan dia harus apa di usianya yang ke- 20,"
"Kan? Wajar, Bro, dia capek," sambung Max.
"Iya, sih," sahut Rain. Kali ini, pikirannya sedikit terbuka dan perlahan dia mulai merasakan empati untuk gadis itu. Dia mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Rea, bahkan mungkin lebih parah.
Selagi mereka bertiga merenung, suara deru motor terdengar memasuki markas Dead Vagabonds. Tanpa kata dan tanpa permisi, Hunter memerintahkan anak buahnya untuk turun dan menghajar Rain, Abs, dan Max tanpa ampun.
"Brengsek! Pengecut! Nyali lo cuma di belakang cewek! Sekarang gue ada di depan lo, coba bilang lagi kalo gue banci yang lemah! Cepetan ngomong!" tukas Hunter sambil mencengkeram leher Rain.
Rain sudah tidak sanggup berbicara karena luka di sekujur tubuhnya. Mulutnya sudah dipenuhi oleh darah, begitu pula dengan lengan dan keningnya.
"Uhuk! Uhuk! L-, lo kesetanan setan apaan, sih?" tanya Rain terbata-bata.
Hunter kembali melayangkan tinjunya ke wajah Rain. "Arrgghh! Ngga usah banyak bacot! Brengsek!"
Pukulan itu membuat Rain pingsan dan tak sadarkan diri. Melihat Rain tidak bergerak, Hunter memerintahkan anak buahnya untuk mundur, meninggalkan tempat itu.
...----------------...