My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Mengadu



"Rea? Kamu ke mana aja?" pria itu segera memeluk Rea di dalam dekapannya. "Masuk dulu,"


Pria berkacamata itu mengajak Rea untuk masuk ke dalam dan mempersilahkannya untuk duduk. "Tugas kamu udah selesai?"


Rea mengerenyitkan keningnya. "Tugas? Tugas apa?"


"Loh, kata Rain kamu ngga balik ke sini karena ngerjain tugas. Aku sama Papa udah nunggu-nunggu buat jemput kamu," ucap pria itu lagi.


Rea mengepalkan tangannya sambil menggerutu dalam hati. Sejak kapan dia punya tugas di semester akhirnya? 'Rain Pembual!'


"Kak, aku ngga bisa lama-lama di sini. Sebenarnya saat Rain mengajak aku pergi bersamanya ada sesuatu terjadi dan aku ngga bisa cerita apa itu. Aku ngga mau buka kenangan buruk itu lagi," ucap Rea. Suara gadis itu terdengar terburu-buru, seolah dia dikejar oleh sesuatu.


"Kenangan buruk? Apa yang terjadi?" tanya pria itu sambil membenarkan letak kacamatanya.


Rea mengambil ponselnya dan menunjukan foto-foto serta rekaman percakapan suara Lizzy dengan si penelepon misterius. "Aku dapat ini 3 hari yang lalu. Selama tiga hari berturut-turut itu, aku ngga bisa tidur. Saat ini, aku masih waras. Tapi kalo ini ngga berenti, kemungkinan besar besok kewarasanku menghilang. Aku tau siapa pelakunya, Kak Ken,"


"Siapa? Si Beban Keluarga itu?" tanya Ken, menunjuk pada Rain.


"Kemungkinan besar, iya," jawab Rea.


Ken mengepalkan kedua tangannya dan berdiri dengan berkacak pinggang. "Apa yang si Brengsek itu lakukan kepadamu?"


Rea pun menceritakan kepada Ken apa yang terjadi. Mulai dari dia dijemput oleh Rain di kampusnya, diajak dan dikenalkan kepada teman-teman motornya, serta bagaimana pada akhirnya dia dijadikan bahan taruhan oleh Rain.


"Brengsek! Argghh, Rain sialan!" umpat Ken setelah Rea mengakhiri ceritanya. "Tapi, kamu ngga apa-apa, 'kan? Maksud aku, kamu belum-, ... I think you know what I mean,"


Rea menggeleng lemah. "Belum,"


"Syukurlah. Kita harus cari yang buat teror ini. Ini tidak mungkin dilakukan oleh Rain. Walaupun dia brengsek, pengecut, dan ngga mau tanggung jawab, aku rasa bukan dia. Cuma pengecut sejati yang sanggup ngelakuin ini." tutur Ken lagi.


"Lalu, siapa?" tanya Rea. Setengah bebannya kini berkurang, karena paling tidak dia akan melakukan sesuatu terkait ancaman dan teror aneh ini.


Ken mengedikkan pundaknya. "Aku akan bicara pada Rain, kirimkan foto-foto itu kepadaku. Lalu, kamu ngga bisa pulang ke sini? Aku rasa, di rumahmu lebih berbahaya. Apalagi kamu cuma berdua sama temanmu,"


"Akan ada Zayn yang menemani kami malam nanti. Lagipula, kalo paket-paket aneh itu datang lagi, aku akan menghubungi polisi." jawab Rea. Dia tidak ingin pulang ke kediaman Luther. Gadis itu masih takut bertemu dengan Rain dan motor besarnya.


Setelah menceritakan segalanya kepada Ken, Rea pun berpamitan pulang. "Terima kasih, Kak atas semua bantuannya."


"Rea, kalo ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku janji akan ada untuk kamu, kapan pun kamu butuh aku," ucap Ken berjanji.


Rea mengangguk. Tepat pada saat itu, terdengar suara deru motor memasuki pekarangan rumah itu. Rea pun cepat-cepat untuk pergi.


Namun sayangnya, Rain sempat melihatnya. "Rea!"


Rea semakin mempercepat langkahnya dan memasuki mobil, kemudian dia melajukan kendaraannya dengan cepat tanpa memperdulikan Rain yang memanggil namanya. Setelah cukup jauh dari rumah Luther, Rea menghembuskan napasnya lega.


Sementara itu Rain yang hendak mengejar mobil Rea, ditahan oleh Ken. Pria muda itu segera menarik lengan adiknya untuk masuk ke dalam.


Rain memberontak hebat dan berusaha melepaskan diri dari tangan Ken. Namun, tenaga Ken lebih kuat. "Apa-apaan sih lo, Kak? Lepasin!"


Ken menghempaskan adiknya itu ke sebuah kursi berlengan. "Gue butuh ngomong sama lo! Jelasin, apa ini?"


"Mana gue tau! Makanya gue tanya sama tersangkanya langsung!" jawab Ken tegas.


"Maksud lo, gue yang ngelakuin ini semua! Gue aja ngga tau ini apaan! Kenapa lo nuduh? Oh, pengen jadi hero di mata Rea? Atau biar diangkat jadi direktur sama papa? Ambil semua, Kak. Gue ngga butuh itu! Gue cuma butuh keluar dari rumah ini!" balas Rain tajam. Dia sudah berdiri menantang sang kakak yang sudah sama emosinya.


Kedua netra mereka saling bertumpu dengan penuh kebencian. "Gue juga ngga butuh itu! Kalo ini menyangkut Rea, gue akan maju di garda terdepan buat ngelindungin dia! Lo ngga sanggup dan gue rasa lo ngga mau! Gue tau, alasan Rea ngga balik ke sini lagi dan itu karena lo! Lo jadiin dia bahan taruhan! Lo cowok paling brengsek yang pernah gue kenal dan sialnya, lo adik gue! Shiit!"


Setelah berbicara seperti itu, dia pergi meninggalkan adiknya. Hanya satu tujuan Ken hari itu, Rea. Sepanjang jalan, dia memikirkan siapa yang mengirim paket-paket aneh itu kalau bukan Rain dan teman-temannya? Ken juga mengingat rekaman pembicaraan pria misterius yang menghubungi Rea, suara siapa itu? Apa mungkin, itu pria yang sama yang menyekap Rea di kamar hotel?


Setibanya di rumah Rea, Ken dipersilahkan masuk oleh Lizzy. Gadis periang itu menceritakan kalau baru saja ada paket datang lagi berisi sampah basah yang baunya menyengat sekali disertai dengan surat ancama yang isinya sama, si pengirim akan mencari dan mendatangi Rea.


"Kak Ken? Kok ke sini?" tanya Rea.


"Aku temenin kamu dan akan memastikan kamu aman," jawab Ken. Sontak saja, pernyataan itu membuat wajah Rea merah merona.


Di kediaman Luther


Setelah Ken pergi, Rain mengambil ponselnya dan menghubungi Max serta kawan-kawannya yang lain. "Max, kumpulin anak-anak di markas! Siap-siap kalo gue butuh bantuan,"


("Mau ngapain? Jangan aneh-aneh, Rain!") jawab Max hari itu.


"Ngga, gue cuma mau nyapa seseorang! Tunggu kabar dari gue, baru gerak!" titah Rain dan dia mengakhiri panggilannya.


Beberapa menit kemudian, suara motornya sudah terdengar menguasai jalanan ibu kota sore itu. Dia meliuk-liukkan motornya dengan lihai, menghindari beberapa kendaraan yang lain yang ingin mendahuluinya.


Tak lama, dia berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dengan beberapa motor mewah tertata rapi di halaman rumah itu.


Di depan rumah megah itu terdapat sebuah lampu neon yang berkelap-kelip secara bergantian membentuk sebuah rangkaian kata 'The Monster Hunters'.


Tanpa mengetuk atau menekan bel pintu, Rain menendang pintu itu dengan kasar sampai menjeblak terbuka. "Hunter! Keluar lo, Pengecut!"


Kawan-kawan Hunter menghadangnya, membentuk sebuah barisan memanjang. "Ngapain lo ke sini? Mau nantangin lagi?"


"Gue butuh ngomong sama bos berandalan lo itu! Hunter! Brengsek! Keluar lo! Jangan ngumpet!" tukas Rain berseru. Dia sama sekali tak mengindahkan kawanan Hunter yang mendorong-dorongnya.


Seorang pria dengan potongan rambut cepak, memiliki tindik di hidung dan bibirnya, serta tato naga dan macan di lengan kanan dan kirinya itu pun keluar. "Bos Speedy! Suara lo bikin kuping gue sakit!"


Rain menembus barisan pertahanan kawanan Hunter dan segera saja memberikan tinju terbaiknya di pria berwajah menyeramkan itu. "Bisa ngga lo jadi laki-laki beneran? Jangan kayak banci! Sialan!"


Dia menduduki Hunter dan terus memukulinya. Teman-teman Hunter tak tinggal diam, mereka berusaha menarik dan mengangkat tubuh Rain. Namun, Rain akan menghajar siapa pun yang melerainya.


"Kalo lo masih mau lihat matahari besok pagi, jangan ngirim paket brengsek aneh lo itu lagi ke Rea dan stop semua telepon bodoh lo itu! Ngerti?" seru Rain. Dia menghentikan serangan tinjunya begitu melihat lawannya sudah tidak berkutik dan penuh dengan darah.


Hunter sudah nyaris tak bisa bicara lagi dan hanya terbatuk-batuk sambil meringkuk. Dengan gagahnya, Rain meninggalkan tempat itu.


...----------------...



Kennard Luther