
Sejak kejadian itu, Rain berusaha untuk menemui Rea. Baik itu di kampusnya atau pun di rumah gadis itu. Rain juga mendekati Lizzy, hanya untuk mengorek informasi tentang bagaimana kabar Rea dan apakah dia masih mendapatkan ancaman atau teror lagi.
"Udah ngga, kok. Tapi, dia masih ngga mau ketemu lo dulu. Lagipula, sekarang Rea udah punya dua pengawal pribadi," jawab Lizzy saat itu.
"Pengawal pribadi? Siapa?" tanya Rain bingung. Apakah Rea setakut itu sampai harus memakai pengawal pribadi? Apalagi sampai dua orang.
Lizzy tersenyum centil. "Zayn dan kakakmu,"
"Ken?" gumam Rain. "Ternyata dia bersungguh-sungguh,"
"Apanya yang bersungguh-sungguh?" tanya Lizzy.
"Ngga apa-apa. Gue cabut dulu, thank's," ucap Rain dan kemudian dia meninggalkan Lizzy yang masih terpaku padanya.
Rain yang sedang kalut akhirnya pergi ke markas besar Dead Vagabonds. Begitu sampai di tempat itu, Rain membaringkan tubuhnya di sofa dan menutupi wajahnya dengan sehelai handuk kecil.
"Kenapa, Bos?" tanya Abs yang saat itu sedang berada di sana juga.
Rain tidak menjawab. Kepalanya terasa penuh. Semenjak Rea masuk ke dalam hidupnya, entah kenapa selalu saja ada hal yang terjadi. Namun, bayangan gadis itu selalu muncul di benaknya. Apalagi saat Rea menangis dan bertanya kenapa dia menjadikannya sebagai bahan taruhan.
Pria itu memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan bayangan Rea, tetapi bayang-bayang gadis itu muncul kembali. Rain merasa seperti dihantui oleh perasaan bersalah.
Dia pun beranjak dari ranjangnya dan mencari rokok elektriknya. "Shiit!"
"Kenapa, Bro?" tanya Abs lagi.
"Begini, ...." Rain ingin bercerita, tetapi dia tidak tau harus memulai darimana. "Misalnya, lo punya salah sama cewek. Lo udah bikin cewek itu kecewa dan benci banget sama lo. Lo mau minta maaf, niy. Tapi cewek itu sama sekali ngga nganggep lo ada. Gimana cara lo minta maaf?"
Abs tertawa kecil. "Lo lagi jatuh cinta kayaknya, Bos?"
Rain mendengus, hatinya dengan cepat menolak dan mendorong Rea keluar dari pikirannya. "Ngga mungkin!"
"Si Nona Cantik, ya? Kalo gue boleh kasih saran, nih, lo harus tetap ketemu sama dia, Bos. Jelasin dan minta maaf dengan tulus. Kasih liat ke dia, kalo lo bener-bener nyesel," jawab Abs sambil mengelap busi-busi motor.
"Dianya ngga mau ketemu sama gue! Gue jadi kayak orang bego, ngejar-ngejar dia mulu! Pusing gue, Abs," ucap Rain lagi. Dia mengetuk-ngetukan vapenya ke atas meja.
Abs menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Abs seumuran dengan Ken, sehingga Rain nyaman berkonsultasi tentang apa pun kepada pria penuh tindikan itu. Rain justru lebih dekat dengan Abs, daripada Ken. Bagi Rain, anggota Dead Vagabonds adalah keluarganya.
Tak lama, ponsel Abs berbunyi. Pria itu pun menjawab panggilannya. Wajahnya berubah menjadi serius seketika. Rain yang mengamati perubahan wajah Abs bertanya padanya. "Kenapa?"
"Hunter! Dia ngirimin sinyal perang ke Max," jawab Abs.
Sinyal perang yang dimaksudkan oleh Abs adalah sebuah surat tantangan yang dikirim melalui surel, pesan singkat, atau pun surat tulis tangan. Ketika surat itu diterima, maka si penerima akan membunyikan sirene di markasnya dan bersiap untuk bertemu dengan si pengirim tantangan.
"Apa? Kapan?" tanya Rain. "Anak-anak ke sini?"
Abs mengangguk. "Max baru aja terima pesan di ponselnya. Dia bilang, hukuman untuk lo akan datang sebentar lagi,"
Rain menyunggingkan senyumnya. "Ngga masalah. Gue punya banyak waktu dan kebetulan banget, gue lagi emosi parah, dan butuh pelampiasan,"
"Lo pikir dulu deh, Bos! Lo ngga bisa asal grasak-grusuk, bertindak sendiri! Sebenarnya ini masalah lo, tapi kita semua jadi ke seret! Ayolah, damai aja!" tukas Abs, menahan lengan Rain yang tampak bersemangat sekali untuk menemui Hunter.
"Dia udah macem-macem sama Rea! Dia ngirim teror dan ancaman ke Rea! Terus, gue harus diem aja? Ngga, 'kan? tanya Rain lagi.
Abs mengerenyitkan keningnya. "Ancaman? Ancaman apa?"
"Gila! Apa maksudnya?" tanya Abs, darahnya mendidih saat dia selesai melihat gambar-gambar paket aneh serta mendengarkan suara Hunter yang direkam oleh Rea tersebut. "Itu suara Hunter sih, fix!"
"Dan Rea mikirnya, gue yang ngasih tau nomor dia ke Hunter. Maka itu dia marahnya berjilid-jilid!" tukas Rain.
Abs menepuk-nepuk pundak Rain dan menenangkannya. "Sabar, sabar. Gue juga belum tau maksudnya tantangan apaan, tapi kalo pake tangan, better lo mundur. Daripada kena pidana,"
"Gue tau! Sayang aja bokapnya Hunter kasih duit tutup mulut ke polisi, kalo ngga gitu, anaknya udah bolak balik keluar masuk penjara," ucap Rain kesal. Kemudian, dia teringat pada ayahnya yang harus memberikan sejumlah uang tutup mulut atas kasus tabrakan yang menyebabkan kedua orang tua Rea meninggal. Hatinya pedih saat dia mengingat Rea dan kesalahannya. "Ya udah, kita siap-siap,"
Tak lama, suara deru motor dan iring-iringannya menambah keramaian jalan di sore itu. Mereka saling membunyikan sirene saat mereka harus berbelok atau ada kendaraan lain yang ingin mendahului mereka.
Max bertugas Voorijder, mengawal konvoy sore itu. Sampai pada akhirnya, mereka tiba di titik yang sudah ditentukan oleh Hunter.
Setibanya di sana, kawanan serta pendukung Hunter sudah bersorak-sorai meneriakan namanya. "Hunter! Hunter!"
Rain mendengus mengejek. "Cih! Pasukan nasi bungkus udah pada ngumpul aja!"
Max menekan sirenenya, memberi tanda kalau mereka sudah datang. Hunter melihat ke arah mereka dan melambaikan tangan kepadanya. Seolah menyambut seorang bintang tamu, Hunter mengarahkan tangannya ke arah gerombolan Dead Vagabonds.
"Lo siap?" bisik Hunter.
"Dari kemarin," jawab Rain tegas.
Seorang gadis pembawa payung berwarna merah berdiri di tengah-tengah, di antara Rain dan Hunter. Suara peluit berbunyi dan mereka yang sedang berada di atas motor pun segera menancapkan gas dan melaju dengan kencang.
Suara sorak sorai kembali menggemuruh memenuhi tempat itu. Sang komentator mengomentari setiap lintasan yang telah dilalui oleh kedua pembalap itu.
Kedudukan saat itu, Hunter memimpin. Namun, jaraknya tidak terlalu jauh dengan Rain. Dengan penuh tekad, Rain mempercepat laju motornya dan berhasil mengungguli Hunter. Demi sebuah harga diri, Rain kali ini benar-benar bertanding dengan fokus. Dalam benak dan kepalanya hanya ada satu nama, yaitu, Rea!
Satu lintasan lagi dan jika Rain mampu mempertahankan kecepatannya, dia akan berhasil memenangkan pertandingan itu. Benar saja, Rain berhasil menyentuh garis finish lebih dulu.
Pendukung Rain segera menuruni lintasan dan menyambut kemenangan ketua mereka itu dengan sukacita. Namun, di sinilah insiden bermula. Hunter yang tak terima dengan kekalahannya segera turun dari motornya dan meninju wajah Rain begitu pria itu melepaskan helmnya.
Adu tinju pun tak dapat terelakkan lagi dan kini tak hanya terjadi antara Hunter dan Rain, melainkan dua kelompok motor besar itu beradu tinju. Malam itu menjadi malam berdarah untuk mereka.
Seorang penonton melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Segera saja, polisi menelusuri tempat itu dan dengan cepat mereka membekuk mereka.
Sementara itu di kediaman Luther. Jacob sedang memikirkan pesta ulang tahun untuk Rea dan bagaimana mengajak gadis itu untuk pulang ke rumahnya.
Pikirannya teralihkan saat ponselnya berdering. "Halo, selamat malam,"
Wajah cerianya berubah memerah saat dia mendengar suara si penelepon. "Apa! Anak saya di kantor polisi? Atas kasus apa?"
("Balapan liar serta tindak kekerasan,") jawab si penelepon.
Jacob memijat keningnya. "Anak itu! Biarkan saja dia dipenjara atau dikurung, terserah! Saya serahkan anak saya kepada Anda, Pak Polisi yang Terhormat,"
("Baik, saya akan mengurung anak Anda selama 24 jam. Terima kasih dan selamat malam, Tuan Luther,") sahut suara polisi itu lagi.
Setelah Jacob meletakan ponselnya, dia menggebrak meja dengan cukup kencang. "Rain! Aarggh!"
...----------------...