
Suasana serba putih serta alunan piano mengalun memenuhi ruangan outdoor sebuah taman. Bunga-bunga lily putih mendominasi pagi hari itu. Tak hanya semua yang berbau feminim, jajaran motor besar berbaris rapi di belakang altar.
Para pria yang biasanya berpakaian hitam serta bertindik, kini memenuhi sebuah ruangan dengan memakai jas. Gaya mereka yang canggung dan malu-malu, seolah-olah benar-benar membuktikan kalau mereka adalah sekumpulan orang dari klub motor.
"Lo semua jangan malu-maluin jadi bridegroom gue! Ini karena pihak ceweknya cuma punya satu biji teman, kasian banget istri gue," kata Rain sambil berpura-pura mengusap ketiadaan air mata dengan menggunakan dasinya.
"Kata siapa temen Rea cuma sebiji? Menurut lo, kita di sini buat siapa emang? Buat Rea-lah, bukan buat lo! Pede! Hahahaha!" tukas Abs yang langsung memukul telak Rain dengan kata-katanya.
Seakan terluka, Rain memegangi dadanya. "Ka-, kalian benar-benar pengkhianat!"
Namun melihat teman-temannya tersenyum, Rain pun ikut tersenyum. Ada satu kemeja lagi yang belum menemukan pemiliknya. Ya, Rain mengundang Archie untuk menjadi bridegroom pagi hari itu.
"Archie Warren? Sejak kapan lo bestie-an sama dia, Speed?" tanya Max membaca nama yang tersemat di jas milik Archie itu.
Rain menepuk pundak Max dan menuntutnya untuk segera menjauh dari jas yang masih tersegel rapi tersebut. Dia masih berharap Archie akan menyambut niat baiknya itu.
Sementara itu di ruang ganti wanita, Rea masih bolak balik dan dia baru memakai setengah gaun pengantik dengan atasan kaus.
"Rea! Ya, Tuhan! Kenapa ini ngga dilepas, Anak Cantik?" tanya Lizzy dan dengan sabar dia membantu sahabatnya itu untuk membuka kaus yang masih menempel di tubuhnya. "Lo kenapa, hei?"
Rea memeluk Lizzy dengan erat. "Gue ngga yakin gue mau kawin, Zy! Kita bareng-bareng aja, yuk! Aahh, takut banget gue,"
Lizzy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dih, Si Bodoh! Kenapa lo baru ngomong sejam sebelum acara dimulai? Kenapa ngga dari kemarin-kemarin?"
"Karena gue pikir, gue yakin! Ternyata ngga!" ucap Rea yang kini kesulitan menelan. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya, telapak tangannya berkeringat. "Gimana, Zy?"
Lizzy cepat-cepat mengambil sekeping cokelat dari dalam tas selempangnya dan dia memasukan cokelat itu ke dalam mulut sahabatnya. "Makan, ini ilegal. Tapi, makan aja! Jangan banyak tanya!"
"Wine!" tukas Rea dan dia segera menyadari suaranya yang cukup kencang hingga beberapa dari tim WO-nya menoleh ke arahnya. "Tapi, gue rasa, gue butuh segelas. Boleh kali, yah? Maksud gue, kita semua butuh wine di moment kayak gini. Iya ngga, sih?"
Dia pun berjalan terseok-seok dan berbisik kepada salah satu tim-nya dan wanita itu berkata dengan tegas, "Hanya satu gelas!"
Rea mengangguk dan dia segera pasrah saat beberapa orang mulai merapikan gaun dan menyisir rambutnya. "Ah, aku hanya mau diikat satu di tengah, kemudian pakai pita putih itu. Jangan pakaikan aku mahkota, cukup pita itu saja,"
"Baik, Nona," ujar sang pemegang bagian make up dan hair do.
Ketika tenggorokannya dialiri wine, Rea mulai sanggup mengontrol dirinya sendiri. Perlahan, dia mendapati dirinya sedang berada dalam sebuah acara pernikahan, penikahan dirinya sendiri.
Lizzy mengamati perubahan Rea dan dia dengan cepat menyisipkan sebuket bunga di tangan gadis itu dan memakaikan veil selengan di atas rambutnya. "You ready!"
Rea mematut diri di depan cermin. Berkali-kali dia menarik napas dan merapikan gaunnya. Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, Lizzy cepat-cepat membukanya. "Halo,"
"Gue mau ketemu Rea," kata seseorang itu.
Rea pun menoleh dan kemudian, dia mengizinkan pria itu untuk masuk. Dia juga meminta semua orang yang ada di ruangan itu keluar sebentar, karena pria itu ingin bicara dengannya selama lima menit.
"Hai, lo cantik," kata pria itu.
"Hmmm, gue tebak, Rain yang ngundang lo, ya?" tanya Rea sedikit kaku.
Pria itu mengangguk dan dia memberikan sebuah hadiah kecil untuk Rea. Pria itu membuka kotak tersebut dan memakaikannya di leher Rea. "Anggap aja hadiah pernikahan dari gue,"
Rea menyentuh liontin berbentuk bulan sabit pada kalung itu. "Cantik banget, kenapa lo ngasih ini buat gue?"
"Thank's, Chie," ujar Rea lagi.
"Gue tunggu lo di depan, ya. Selamat untuk pernikahan Lo dan semoga lo bahagia selalu, Re," kata pria bernama Archies tersebut, kemudian dia keluar dari ruangan itu untuk bergabung bersama bridegroom lainnya.
Dengan dia mengungkapkan perasaannya pada Rea, maka berakhirlah perasaan cintanya yang singkat pada gadis itu. Archie memutuskan setelah ini, dia akan hidup baik dan meninggalkan klub motornya. Dia ingin seperti Rain, disayang oleh banyak orang.
Setelah Archie, orang kedua yang mengetuk pintu ruangan pengantin wanita itu adalah Ken. Pria itu pun ingin menuntaskan rasa cintanya pada Rea.
"Wow, lo cantik banget, Re," kata Ken sambil membantu Rea memasang gelang bunga di tangan kanan gadis itu. "Udah siap?"
Rea tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. "Ready or not, here I come,"
Ken ikut tersenyum. "Hahaha, lo akan jadi adek gue yang paling gue sayang, Re. Bahkan melebih adek gue yang tengil itu,"
"Makasih, Kak. Baik-baik sama Lizzy. Dia cewek baik, walaupun agak sedikit lemot, hahaha!" goda Rea sambil meninju lengan kakak iparnya.
"Pasti," balas Ken, tak lama suara ketukan di pintu kembali terdengar. "Ini pasti Papa. Gue tunggu di altar, sekali lagi, congratulations, Re,"
Benar saja, Jacob masuk ke dalam ruangan itu dengan kemeja dan jas putih. Dia memeluk Rea, seakan memeluk anaknya sendiri dan menggandeng lengan gadis itu untuk berjalan ke altar. "Siap, Cantik?"
Rea mengangguk dan menyambut lengan Jacob dengan antusias. "Oke, Pa,"
Suara dentingan Canon In D mengiringi langkah Rea dan Jacob menuju altar. Sesekali Jacob tampak menepuk punggung tangan Rea untuk menenangkannya.
Acara pemberkatan pernikahan pagi itu, berjalan dengan khidmat. Rain tampak gugup, tetapi walaupun begitu dia dapat mengucapkan janji nikahnya dengan lantang.
Setelah acara pemberkatan, pesta pernikahan pun dimulai. Rea bergantian berdansa dengan Jacob dan Rain. Archie tampak membaur di pesta hari itu dan dia terlihat sangat menikmati suasana baru yang dibawakan oleh Rain kepadanya.
"Lo yang ngundang Archie?" tanya Rea saat dia berdansa dengan Rain.
Rain mengangguk. "Dia butuh lingkungan yang sehat. Aah, gue emang baik,"
"Hahahaha! Iya," jawab Rea tertawa..
Tepat saat itu, Rain baru menyadari seuntai kalung yang dipakai oleh istrinya tersebut. Rain mengambil liontin kalung itu dan memperhatikannya. "Kayaknya bukan dari gue,"
"Dari Archie, dia yang ngasih. Dia juga tadi nembak gue," jawab Rea. "Ngga usah jealous!"
Pagutan manis diberikan oleh Rain kepada istri cantiknya tersebut. "Ngga! Itu buktiin kalo gue ngga bisa lengah sedetik pun, nanti lo diambil orang. Gue juga harus baik sama lo. Kalo lo kabur, lo bisa pergi ke mana aja,"
"Hahaha! Bagus deh kalo sadar," ucap Rea.
Namun sisa ucapannya terpaksa dia telan, karena Rain sudah memagutnya kembali. Kali ini, pagutan panas dan dalam, yang membuat Rea ingin melepaskan gaun pengantinnya.
"I love you, Re," bisik Rain di sela-sela pagutannya.
Rea semakin melingkarkan lengannya di leher suaminya itu. "I love you too, Mr. Speed, hehehe,"
...----------------...