My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Firasat



Malam itu, suasana di kota semakin larut. Lampu-lampu jalan mulai berkedip-kedip, menciptakan suasana yang menakjubkan di tengah kegelapan. Tapi di tengah semua itu, ada sebuah kejadian yang membuat gempar warga kota itu.


Rea baru saja mendengar kabar dari teman-temannya tentang aksi balapan yang dilakukan Rain dan Archie siang hari itu, menghampiri Rain dengan wajah sangar dan murka. Berita itu sangat mengagetkannya dan membuatnya gelap mata. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar.


Dengan hati yang berdesir, Rea segera menemui Rain di kediaman Luther. Pintu terbuka dan Rea masuk dengan penuh emosi. Rain duduk di sofa, tampak tenang dengan rambutnya yang basah masih menggantung di bahunya.


"Rain! Lo abis balapan?" Rea meledak, suaranya penuh kemarahan. "Bisa-bisanya lo balapan lagi sama Hunter! Ngga bisa apa kontrol keinginan lo untuk balapan?"


Rain terkejut oleh kemarahan Rea. Dia bangkit dari duduknya dengan wajah yang penuh penyesalan. "Re, gue tau gue salah. Sorry. Tapi, awalnya itu gue cuma pengen ngasih tau Hunter kalo dia ngga bisa deketin lo, Re! Gue cemburulah secara lo cewek gue!"


"Tapi, tenang. Gue sama Hunter udah friend sekarang, hehehe! Rain! Rain! Selain tampan, lo juga baik," sambung pria berwajah tampan tetapi bodoh itu membanggakan diri.


"Sorry lo murah banget, Rain! Kalo lo kecelakaan gimana? Atau kalo lo ngga bisa ngontrol balance lo!" Rea melanjutkan dengan suara bergetar. "Ngga mungkin gue gagal nikah just because of your stupidity!"


Rain menatap Rea dengan tulus. "Hei, gue masih hidup. Gue masih bisa meluk lo, niy,"


Tangan Rain segera melingkar di pinggang kekasihnya itu dan dia mengecup bibir Rea yang merah dan menggoda. "Bahkan, gue masih bisa nyium lo. Jangan marahlah,"


Rea menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia tahu Rain adalah kekasihnya yang setia, tapi saat ini amarah dan kekhawatirannya yang memenuhi pikirannya.


"Awas aja kalo lo ulang lagi! Lo akan kehilangan masa depan lo!" Rea mengambil jari telunjuk Rain dan berpura-pura mengirisnya sambil kedua matanya mengarah ke antara kedua kaki Rain.


Dengan cepat, Rain menutupi apa yang dilihat Rea itu dengan kedua tangannya sambil menyeringai lebar. "Jangan, dong. Nanti lo gimana? Hehehe!"


"Bodo amat!" tukas Rea sambil lalu.


Keesokan paginya, Jacob sudah siap dengan beberapa dokumen vendor di tangannya. Ya, karena dia sudah mengumumkan pesta pernikahan putranya, maka dia berpikir untuk segera saja melangsungkannya secara sungguh-sungguh.


"Sudah siap untuk hari spesialmu, Rain?" tanya Jacob pada Rain yang saat itu sedang mengunyah roti bakarnya.


Rain dan Rea saling bertatapan, terkejut dengan pertanyaan dari Jacob tersebut. Saat mereka meladeni pertanyaan para wartawan, mereka memang mengatakan akan menggelar pesta pernikahan tetapi tidak dalam waktu dekat ini.


Namun sepertinya, Jacob telah mengambil alih semua acara dan mengaturnya sesuai dengan kehendaknya. Rain tersenyum kepada Rea. "Lo jadi mau nikah sama gue, 'kan, Re?"


Rea melihat wajah Rain yang penuh harap, dan dia juga merasakan keinginan yang sama. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala. "Karena gue baik, jadi, oke. Tapi, gue ngga mau lo main balap-balapan lagi. Kemarin siang itu yang terakhir,"


Rain mengangguk, berterima kasih kepada Rea atas pemahaman dan dukungannya. Mereka berdua kemudian bergabung dengan tim WO dan mulai merencanakan pernikahan yang indah, menunjukkan bahwa hubungan mereka lebih kuat daripada segalanya.


Dalam keadaan seperti itu, tim WO membantu Rain dan Rea untuk mengatur acara pernikahan mereka dengan cermat. Kehadiran mereka tidak hanya membuat suasana harmonis kembali antara Rain dan Rea, tetapi juga membantu memastikan bahwa pernikahan mereka akan menjadi momen yang tidak terlupakan.


Hari berikutnya, setelah semalam meredakan ketegangan dan memperkuat hubungan mereka, Rain dan Rea bersiap untuk menghabiskan hari itu dengan fitting baju pengantin dan gladi resik. Mereka berdua bersemangat dan penuh antusiasme, karena pernikahan mereka semakin dekat.


Pagi itu, Rea dan Rain bertemu di butik pernikahan yang telah mereka pilih. Mereka disambut dengan hangat oleh tim desainer dan penjahit yang akan membantu mereka memilih dan memastikan bahwa baju pengantin mereka sempurna.


Rain juga menemukan setelan jas yang cocok dengan gayanya. Dia merasa percaya diri saat mengenakan jas itu dan melihat dirinya dalam cermin. "Gue udah ngga sabar nungguin Rea di depan altar," katanya dengan senyum lebar.


Tim desainer dan penjahit membantu menyesuaikan baju pengantin dan jas Rain agar sesuai dengan ukuran tubuh mereka. Mereka bekerja dengan cermat, memastikan setiap jahitan dan detailnya sempurna. Rea dan Rain saling berbicara dengan penuh kegembiraan, berbagi harapan dan impian mereka tentang hari pernikahan yang akan datang.


Setelah fitting baju pengantin selesai, mereka beralih ke sesi gladi resik. Di tempat pernikahan yang dipilih, mereka berdua berdiri di altar sambil mempraktekkan langkah-langkah mereka. Rea berjalan dengan anggun, sedangkan Rain menjalani perannya dengan percaya diri.


Pandangan mereka bertemu di altar, dan mereka saling tersenyum. "Kita akan membuat momen ini menjadi tak terlupakan, Rain," ujar Rea dengan penuh keyakinan.


Rain mengangguk setuju. "Kita telah melewati begitu banyak hal bersama, Re. Hari ini adalah awal dari babak baru dalam hidup kita, dan gue sangat bersyukur bahwa kita bisa menghadapinya bersama."


Tim panitia pernikahan yang hadir memberikan arahan dan saran untuk memastikan segalanya berjalan lancar. Mereka berlatih dengan penuh semangat, memperbaiki gerakan dan pengaturan, sehingga mereka bisa tampil sempurna di hari pernikahan nanti.


Selama gladi resik, Rea dan Rain merasakan kekuatan persatuan mereka. Mereka menyadari bahwa mereka adalah tim yang tak terpisahkan, saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Meskipun mereka telah mengalami perselisihan sebelumnya, mereka menyadari betapa berharganya persahabatan mereka dan berjanji untuk saling mendukung dalam setiap tahap kehidupan mereka.


Setelah selesai dengan gladi resik, Rea dan Rain pulang dengan rasa puas dan kegembiraan yang membara. Mereka tahu bahwa pernikahan mereka akan menjadi peristiwa yang indah, penuh dengan cinta, harapan, dan persahabatan yang mendalam.


Malam itu, mereka duduk bersama di sofa, menatap satu sama lain dengan penuh kasih. "Kita telah melewati banyak hal, Rain," ujar Rea sambil meraih tangan Rain. "Tapi sekarang, kita melangkah ke masa depan bersama-sama, dan gue tidak bisa lebih bahagia."


Rain tersenyum lembut. "Sama kayak gue, Re. Kita telah belajar dari kesalahan kita dan tumbuh lebih kuat. Gue janji, gue akan selalu ada di samping lo. Ngga cuma sebagai sahabat lo, tapi juga sebagai pendamping hidup lo,"


Mereka merangkul satu sama lain dengan erat, mengekspresikan rasa syukur dan cinta mereka. Pernikahan mereka semakin mendekat, dan mereka siap untuk menghadapi masa depan yang cerah, bersama-sama sebagai satu tim yang tak terpisahkan.


Ken, yang mengetahui bahwa persiapan pernikahan Rea dan Rain hampir selesai, merasa ada yang ingin dia bicarakan dengan Lizzy. Dia merasa butuh dukungan dan saran dari teman dekatnya tersebut. Tanpa ragu, Ken mengambil ponselnya dan menelepon Lizzy.


Tak lama setelah itu, suara riang Lizzy terdengar dari seberang telepon. "Halo, Kak Ken! Kenapa?" tanya Lizzy dengan antusiasme.


"Halo, Zy," Ken menjawab dengan suara serius. "Gue mau curhat, ketemuan, yuk, sebentar,"


Lizzy yang peka dengan nada suara Ken segera merasa ada yang tidak beres. "Lo lagi kenapa, Kak? Lo baik-baik aja, 'kan? Atau ada masalah sama Rea atau Rain?"


Ken menghela nafas, mencoba merangkai kata-kata dengan hati-hati. "Gue punya firasat ngga enak tentang pernikahan mereka, Zy. Aargh, pokoknya ketemuan dululah! Gue jemput sekarang!"


Lizzy, yang merasa ada kekhawatiran dalam suara Ken, segera menyetujui pertemuan. "Okelah,"


Setelah Ken menutup teleponnya, Lizzy pun berpikir apa yang membuat Ken mengatakan kalau dia mempunyai firasat buruk tentang pernikahan adiknya dengan Rea? Suara ponsel Lizzy kembali berdering, Ken sudah menunggunya di lobby.


"Gue ke sana!" tukas Lizzy sembari berlari menuju lift.


...----------------...