My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Prahara Cinta



Ketiga pasang mata saling menatap dan ketiga hati saling bertaut dalam satu waktu. Rea masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia mencubit pipi dan lengannya. "Lo beneran Rain? Kok lo di sini?"


"Lo ngga mimpi, Re. Ini beneran gue," ucap Rain. Pemuda itu tak mencubit untuk membuktikan kalau dia tidak bermimpi, Rain mengecup pipi Rea.


Wajah Rea sontak memerah. "Gue ngga mimpi! Ini lo beneran? Ya ampun, Rain, gue pikir lo masih di sana,"


Rain memeluk gadis cantik itu. Kemudian, dia melihat ke arah Ken yang sedari tadi tampak terlupakan. "Kak, gue lulus, dong! Kelar kuliah gue! Hahaha! Ikut makan, ya, tapi traktir,"


"Pesen aja sana! Mana bokap?" tanya Ken. Dia pun cukup heran, mengapa mereka bisa bertemu di sini, di saat dia ingin mengungkapkan cintanya pada Rea.


"Di rumah. Gue abis dari ketemu anak-anak, bokap udah bolehin," jawab Rain. Kemudian, dia mengambil makanan yang Rea yang baru saja datang dan menyendoknya tanpa dosa. "Gue minta. Laper,"


Rea yang masih terkejut, tak sanggup mencegah pria itu. Jantungnya masih bergemuruh dan berdetak dengan cepat. Pandangan matanya tak bisa dia alihkan dari Rain.


Sayangnya, Ken melihat pandangan Rea terhadap Rain dan tiba-tiba saja niatnya untuk mengungkapkan cinta malam itu, mendadak surut. Saat makanan yang dipesannya datang, dia menggeser Rain dari sebelah Rea. "Pesen sendiri, gue mau makan!"


Rain mencebik, kemudian dia memesan makanan yang diinginkannya malam itu. Setelah memesan, dia kembali duduk di sisi Rea dan memerhatikan gadis itu dengan seksama.


"Lo ngga kangen sama gue?" tanya Rain sambil terus memandangi Rea seolah-olah gadis itu sebuah objek lukisan yang sanggup memanjakan indera penglihatannya.


"Ngga! Ngapain juga gue ngangenin lo! Ngga guna!" tukas Rea lagi. Wajahnya memanas tanpa bisa dia kendalikan lagi.


Rain tertawa. "Hahaha! Boong! Ada tuh tulisan Pembohong di jidat lo," Rain menyentuh kening Rea dan membuat wajah gadis itu semakin memerah.


Ken yang tak tahan melihat perlakuan Rain pada Rea memukul tangan iseng adiknya itu. "Jangan ganggu orang makan! Nah tuh, makanan lo dateng, makan aja dulu!"


"Sakit, tau! Ya, namanya juga kangen, masa ngga boleh! Met makan!" sahut Rain mencebik.


Malam itu, hati Rea jungkir balik. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus senang? Ataukah dia harus kesal dan marah karena kedatangan Rain yang tiba-tiba di saat hatinya belum siap? Entahlah!


Setelah selesai makan, Ken segera merangkul pinggang Rea dan mengajaknya pulang. Rain mengekori mereka berdua. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Rain menahan kaca jendela di pintu di mana Rea duduk. "Re, besok gue jemput. Gue mau ngomong sama lo. Oke!"


Rea tertegun. Jantungnya yang tadi bergemuruh kini berhenti mendadak, sunyi. "Apa-apaan adik lo, Kak! Kenapa dia ngga bisa bikin gue tenang? Selalu bikin gue koprol, roll depan, roll belakang, kayang! Aarrghhh!"


"Lo sebenarnya, ... Ngga jadi, deh," sahut Ken. Dia mengurungkan untuk melanjutkan kalimatnya. Dia takut akan jawaban Rea dan dia tidak ingin mendengar pengakuan dari gadis itu, sebelum dia menyatakan cintanya.


"Apa, ih?" desak Rea.


Ken menggelengkan kepalanya. Dia berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya supaya dia sanggup mengatakan cinta kepada Rea.


Keesokan harinya, Jacob sangat senang melihat keluarga mereka sudah berkumpul kembali di satu meja makan. "Kita tinggal menunggu Rea yang katanya akan datang untuk sarapan bersama,"


"Oh, ngomong-ngomong soal Rea. Kalo Papa minta sama dia untuk tinggal lagi di sini bersama kita, menurut kalian gimana?" tanya Jacob.


"Setuju!" jawab kedua putranya serempak.


Jacob tersenyum sumringah. "Wah, semoga kalian bisa terus akur kayak gini, ya. Papa tinggal sebentar untuk urus sesuatu sambil kita tunggu makanannya jadi dan Rea datang,"


Kedua putra Luther itu menatap ayah mereka sampai pria itu masuk ke dalam kamar, lalu mereka mulai menancapkan garpu di atas piring kosong mereka.


"Lo mau ngapain tadi malam? Lo pasti stalking kita, 'kan? Ngaku!" desak Ken sambil membelalakkan kedua matanya.


"Gue mau nyatain cinta sama Rea!" ucap Ken.


"Silahkan! Gue juga ngga ngelarang!" balas Rain panas.


Kedua pemuda itu saling menatap penuh emosi. "Lo masih sayang sama dia?"


"Masih dan selalu!" jawab Rain tegas.


Ken menusukan garpu itu ke atas piringnya hingga menimbulkan goresan tipis di atas piring tersebut. "Jangan macem-macem dan jangan bikin Rea bingung!"


"Dia ngga bingung dan dia ngga akan bingung!" balas Rain lagi.


"Maksud lo?" tanya Ken.


Rain tersenyum penuh kemenangan. "Lo ngga liat reaksi dia kemarin gimana? Kaget campur senang dan beberapa kali mukanya merah dan dia salting. Pernah ngga dia gitu kalo deket lo?"


Hati Ken mencelos. Selama ini Rea tidak pernah tersipu atau salah tingkah atau bertingkah bodoh dan konyol seperti tadi malam saat dia bertemu dengan Rain. "Karena she feels comfy with me!"


"Oh yah? Comfy atau biasa aja? Ada bedanya loh," timpal Rain.


Sejak awal hubungan mereka, Rain sudah yakin kalau Rea menyukainya. Hanya karena harga dirinya yang terlalu tinggi, gadis itu tidak mau mengakuinya.


Sedangkan saat Rea bersama Ken, Rain dapat menilai kalau Rea hanya menganggap Ken sebagai seorang kakak, tidak lebih dari itu. Kenyamanan yang dirasakan oleh gadis itu pun karena dia merasa Ken adalah kakak laki-laki yang dapat melindungi dirinya.


Mau tak mau, Ken pun memikirkan hal yang sama dengan Rain. Namun, dia tidak ingin menyerah. Dia tetap akan menyatakan cintanya kepada Rea. Apa pun yang terjadi! Pemuda itu ingin mendengar secara langsung jawaban Rea atas cintanya.


Tak lama, Rea pun datang. Kedua pria itu saling berebut tempat duduk hanya untuk mendapatkan tempat duduk di sisi gadis itu.


Pada akhirnya, Rea duduk di ujung dengan diapit oleh Rain dan Ken. Makanan pun dihidangkan begitu Jacob datang. Dia memeluk Rea dengan erat, seakan Rea adalah putri kandungnya sendiri. "Apa kabar, Sayang?"


"Baik, Pa. Papa sehat?" tanya Rea dengan senyuman manis yang membuat kedua pria di sisinya ikut tersenyum.


"Baik. Lihat? Papa semakin gagah, hahaha! Duduk! Ayo, kita makan!" ucap Jacob mempersilahkan gadis itu untuk makan bersama mereka.


Pagi itu, Rea lebih banyak berbicara dengan Jacob. Dia sama sekali tidak memandang Rain atau pun berbicara dengannya. Bahkan gadis itu terkesan mengalihkan pertanyaan Rain.


Seusai makan, Rain menagih janji Rea. "Re, ayo jalan sama gue!"


"Ngga bisa! Dia kerja sama gue!" tolak Ken dan mengambil tangan Rea dari genggaman tangan adiknya.


Rain berkacak pinggang. "Gue mau ngomong sama lo dan minta waktu lo seharian ini. Lagipula Papa nyuruh untuk belajar tentang perusahaan sama lo. Ayo jalan!"


"Ya udah, gue hubungin Lizzy untuk geser jadwal gue. Kak Ken, kalo ada rapat tolong handle dulu. Gue dateng siangan kayaknya," kata Rea.


Mendengar hal itu, Ken pun kesal dan dia mengambil jalan untuk berbuat nekad dan melanggar prinsip hidupnya. "Re, gue cinta sama lo!"


...----------------...