
Dua Tahun Kemudian,
Perusahaan AJ Company di bawah kepemimpinan Rea san Ken, berkembang cukup pesat. Mereka merambah ke berbagai macam sektor dan menembus pasar saham dengan cukup signifikan. Ide-ide serta terobosan yang mereka putuskan selalu inovatif dan kekinian, sangat khas anak muda.
Jacob pun bangga dengan kemajuan yang mereka hasilkan. Walaupun dia tidak berada di kantor secara langsung, tetapi dia selalu mendapatkan laporan dari Andrew maupun beberapa staff karyawan yang bekerja di bawah Jacob langsung.
Sudah dua tahun juga, Jacob menemani dan memantau Rain di negeri Paman Sam. Pria berkacamata itu takut terjadi sesuatu pada putra bungsunya tersebut. Kuliah Rain juga berjalan dengan cukup memuaskan, begitu pula dengan konseling yang diikuti oleh Rain selama dua tahun belakangan ini.
Tak terasa, dalam waktu dekat ini, putra kesayangannya itu sudah akan melangsungkan pesta kelulusan. Ingin sekali rasanya dia mengundang Kennard, putra sulungnya untuk bergabung di acara kelulusan Rain nanti, tetapi jadwal Ken cukup padat. Awalnya, Jacob mengira itu hanya akal-akalan Ken, tetapi ternyata memang jadwal anaknya itu sedang padat.
"Paa, ayo, Pa! Sebentar lagi acaranya akan di mulai," ucap Rain pada ayahnya yang sedang merenung itu.
Jacob beranjak dari kursi dan menatap putranya yang sudah rapi dengan menggunakan almamater berwarna biru tua dan emblem huruf Y besar di sisi almamaternya. Dia menepuk kedua lengan Rain dengan cukup kencang. "Kamu sudah bertambah dewasa, Rain, walaupun sedikit terlambat. Papa harap, kamu bisa menjalankan hidup kamu dengan lebih baik dan lebih bijaksana,"
"Pasti, Pa! Ayo, cepetan! Aku udah ngga sabar mau balik! Aku kangen sama Rea, dengerin omelannya, bawelnya, galaknya, hehehe. Ayo!" ucap Rain sambil membayangkan gadis yang dia cintai itu.
Lagi-lagi Jacob menghela napasnya. "Memangnya, Rea masih inget kamu apa? Lagipula, di kampus kamu, 'kan, banyak gadis cantik,"
"Rea itu lain daripada yang lain, Pa. Pokoknya, sekali Rea tetap Rea!" tukas Rain bersikeras.
Selama Rain berada di luar negeri, hubungannya dengan Rea sedikit merenggang. Mereka terhalang oleh kesibukan dan jadwal mereka masing-masing. Lagi perbedaan waktu yang terbentang di antara mereka, yang membuat mereka kesulitan untuk saling berkomunikasi.
Dan selama 2 tahun terakhir ini, komunikasi di antara mereka bisa dihitung dengan jari. Namun Rain tetap yakin kalau gadis yang dia cintai itu masih mencintainya juga dan menunggu dia untuk kembali.
Maka dari itu, Rain benar-benar fokus pada kuliahnya dan menyelesaikannya tepat waktu. Dingin cepat-cepat kembali supaya dia dapat mengungkapkan perasaan hatinya kepada Rea.
Jacob menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Tak lama, dia sudah keluar kembali dengan memakai kemeja serta celana panjang rapi. "Udah ganteng belum?"
"Ganteng! Let's go!" jawab Rain dengan memberikan kedua ibu jarinya pada Jacob.
Acara yang diadakan di hall universitas itu dihadiri banyak orang tua dan mahasiswa. Beberapa kenalan Rain menyapa pemuda tampan itu dan mengucapkan selamat kepadanya. Acara pun dimulai dan berlangsung dengan khidmat.
Walaupun Rain tidak mendapatkan nilai terbaik, dengan dia mau melanjutkan dan menyelesaikan kuliahnya saja, Jacob sudah cukup bangga dan berbahagia atas pencapaian putranya tersebut.
Setelah usai acara kelulusan, Rain segera mengajak ayahnya untuk kembali ke negeri asalnya. Mereka pun mengepak barang dan bersiap-siap untuk kembali hari itu juga.
Sementara di perusahaan AJ Company, beberapa orang tampak sibuk di ruang rapat. Dan di antara kumpulan orang-orang itu, nampaklah Rea dan Ken sedang berdiskusi untuk membuat suatu keputusan.
Tak lama kedua orang itu tampak tersenyum bersamaan yang berarti keputusan bulat sudah tercapai. Kemudian tampaklah salah satu dari mereka mengemukakan hasil keputusan tersebut dan satu yang lainnya mengakhiri rapat di siang hari itu.
"Wah, pegel semua badan gue! Besok kalo rapatnya lama, kita rapat aja di luar! Paling ngga, gue bisa ngemil-ngemil cantik, atau ngapain kek gitu," ucap Rea sambil meregangkan tubuhnya di kursi.
Ken menepuk-nepuk pucuk kepala Rea. "Yang minta rapat dadakan siapa, deh? Lo juga, 'kan, Re?"
"Ya, tapi, kenapa jadi lama banget? Di luar ekspektasi dan my fault, karena gue nggak mikirin buntutnya. Maksud gue, ide gua oke, cuma gue ngga mikirin pelaksanaannya gimana atau siapa yang akan terjun ke lapangannya. Salah, sih," ujar gadis itu. Kemudian dia tersenyum kepada Ken dan merangkul pundak pria itu. "Tapi untung ada lo, Kak. Gue aman. Best-lah, hahaha!"
Wajah Ken memerah. Dua tahun lebih dia memendam perasaannya pada Rea. Setiap kali dia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, setiap kali itu pula dia gagal. Yang awalnya hanya dia yang tau tentang perasaannya kepada Rea, sekarang Lizzy dan Zayn pun mengetahuinya.
"Emang sejelas itu?" tanya Ken suatu hari pada Lizzy.
Lizzy mengangguk. "Banget, Kak,"
Namun Lizzy tidak dapat merahasiakan ini dari Zayn dan sepanjang hari itu, mereka berdua pun asik membicarakan rencana pengungkapan cinta Ken pada Rea dan berniat membantu mereka.
"Si Rea ih, bener-bener! Ya masa ngga peka, udah jelas, loh itu padahal Kak Kennya," kata Zayn sambil menggelengkan kepalanya.
Lizzy mengangguk setuju. "Hatinya ketutup Rain,"
Maka dari itu, ketika sebelum rapat tadi Ken memberitahukan kepada Lizzy dan Zayn terkait rencananya untuk mengungkapkan cinta pada Rea, dia meminta mereka untuk membantunya mengurangi jadwal gadis itu. Mereka berdua pun setuju, tetapi siapa sangka, Rea justru menambah jadwal dengan mengadakan rapat dan evaluasi dadakan pagi itu yang berlangsung cukup lama.
"Sehabis sore, jangan ada jadwal apa pun! Tolong ingetin Rea ya, Zy," pinta Ken pada Lizzy setelah mereka selesai rapat.
"Siap, Kak! Laksanakan. Kalo gitu, aku bikin notulen dulu, " balas Lizzy.
Malam itu, Ken berniat mengajak Rea untuk candlelight dinner yang romantis dan disanalah nanti, dia berencana untuk mengungkapkan cintanya pada gadis cantik itu.
Seusai pulang kerja, Ken segera ke ruangan Rea dan menjemput gadis itu. "Balik bareng yuk, Re,"
"Yaah, telat. Gue bawa mobil, Kak," jawab Rea.
"Dammn!" umpat Ken dalam bisikan. "Lizzy udah balik belum? Minta dia aja bawa mobil lo,"
Rea tampak berpikir,. kemudian dia mengangguk. "Oke,"
Mereka pun bersiap-siap menuju parkiran. Begitu melewati meja kerja Lizzy, Rea menitipkan mobilnya pada gadis berambut ikal itu. "Zy, balik pake mobil gue aja. Mobil lo tinggal sini,"
Ken mengedipkan sebelah matanya dan Lizzy menangkap maksud dari atasannya tersebut. Dia menyeringai lebar dan membuat sikap hormat. "Siap!"
Setelah mengucapkan terima kasih, mereka bergegas meninggalkan kantor. Awalnya Ken ingin mengajak Rea makan di restoran, tetapi, ...
"Gue lagi pengen makan kayak street food gitu loh, Kak. Yang di pinggir jalan. Ngga apa-apa, 'kan?" tanya Rea.
Ken menggeleng lemah. "Oke," walaupun dia mengabulkan permohonan Rea, jauh di dalam hatinya dia berpikir, bagaimana cara dia akan mengatakan cintanya di tengah jalan dan penuh ramai orang lalu lalang seperti itu?
Setibanya mereka di sana, Rea segera memilih salah satu stand makanan dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Restoran itu terletak di pinggir jalan dan bentuknya seperti tenda dengan sebuah truk makanan sebagai penyangga tenda tersebut.
Setelah menunggu hingga restoran kecil itu sepi, Ken memulai pernyataan cintanya. "Re, gue mau ngomong sama lo,"
"Apa?" tanya Rea.
Ken tampak salah tingkah dan berdeham beberapa kali. "Ehem! Gue tau kalo lo udah dibebasin untuk ngga nikah sama salah satu dari kita. Tapi, gue mau ngasih tau ke lo kalo gue su-, ...."
"Loh, Rea?" tanya seorang pria.
Rea menoleh ke arah pria itu. Wajahnya memerah dan sumringah saat menatap pria itu. "Rain?"
...----------------...