
Rain mencebik, memandang gadis yang sedang merangkul dengannya. Sudah sekuat mungkin dia menepiskan gadis itu, tetapi tetap saja dia menempel kepadanya.
"Lo tuh, ih! Cewek punya harga diri dikit kek, Stell! Kayak ngga punya malu tau ngga, nempel-nempel begini! Pinggirin kepala lo!" tukas Rain kesal sambil mengggeser kepala Stella yang bersandar di lengannya.
Abs yang melihat itu hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hahaha! Udah, Bro, nikmatin aja. Jarang-jarang lo laku, hahaha!"
"Sialan, lo!" balas Rain gusar.
Stella memberengutkan bibirnya karena mendapatkan perlakuan kasar dari Rain. Dia merapikan rambutnya dan bersungut-sungut. "Pelit! Gue pinjem lengannya aja ngga boleh! Kan, biar keliatan mesra,"
"Dih, siapa lo? Pacar bukan, temen bukan, tetangga bukan, saudara juga bukan, minta mesra!" seru Rain, semakin kesal karena ulah Stella yang manja itu. "Balik sendiri deh, lo! Gue kasih ongkos taksi! Ngerepotin aja!"
"Gue maunya sama lo! Ayo, anterin!" pinta Stella, dia kembali menggenggam lengan kekar Rain.
Lagi-lagi Rain menepiskan tangan Stella dari lengannya. "Rumah lo di mana, sih? Lagian, ngapain juga ke sini kalo ujung-ujungnya ngerepotin?"
Kemudian tiba-tiba saja, Rain teringat sesuatu. "Tunggu dulu, lo pasti punya tujuan aneh, niy!"
"Lo ngasih tau Rea kalo gue nabrak mobil bokap nyokapnya, 'kan? Biar apa coba? Kalo lo ngga tau masalahnya, ngga usah ikut campur!" bentak Rain, suaranya mulai meninggi dan tatapannya tajam serta galak.
Abs segera menoleh untuk melihat apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Dia menyimak dengan berkacak pinggang tanpa bicara.
Stella tersenyum licik. "Rea harus tau kebenarannya, 'kan? Lo ngga bisa terus nutupin hal kayak gitu, Rain,"
"Itu udah kesepakatan! Ada hal-hal yang memang harus disembunyiin! Toh emang, gue berencana untuk ngasih tau Rea kalo semuanya udah beres!" tukas Rain.
Ya, dia memang sempat memikirkan hal itu. Dia akan memberitahukan kepada Rea tentang apa yang terjadi, tetapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena ada beberapa hal yang dia pertimbangkan dan salah satunya adalah, kondisi Rea yang masih labil dan sensitif.
Namun, bukan berarti Rea harus mengetahui kebenarannya dari orang lain. Rain mengepalkan kedua tangannya. "Apa tujuan lo?"
"Misahin Rea dari lo," jawab Stella santai.
"What! Kenapa? Apa maksud lo?" tanya Rain, dia tidak mengerti apa maksud gadis cantik berwajah manja itu.
Stella mencebik, dia maju beberapa langkah dan kemudian berputar memeluk Rain dari belakang. "Biar lo bisa liat gue,"
Rain melepaskan kedua tangan Stella yang melingkar di pinggangnya dan melangkah menjauh. "Gila! Lo gila!"
"Gimana lagi caranya biar lo liat gue?" tuntut Stella.
"Ngapain, kek! Kayang, kek! Jungkir balik, kek! Suka-suka lo lah! Denger ya, ngga selamanya lo busa dapetin apa yang lo mau! Lo pikir gue sama Rea instant? Bikin mie aja pake proses, ya kali lo ngarepin cinta bisa sekejap!" tukas Rain kesal, kemudian menjauh dari Stella.
Tiba-tiba saja Abs menepuk pundak Rain. "Dia nangis, Rain. Gimana, dong?"
Benar saja, Stella menitikkan air matanya sambil terisak-isak.
"Bodo amat! Bukan urusan gue! Panggil taksi aja, suruh dia balik sendiri! Manja banget!" ucap Rain ketus.
Tangis Stella pun pecah. Dia menangis sekencang-kencangnya sambil sesekali membersitkan hidungnya dengan keras.
Abs melirik ke arah Rain dan mengangkat kedua bahunya. "Lo ajak balik, deh cepetan! Capek banget gue kalo dia di sini!"
Karena menghargai permintaan sahabatnya, Rain menyeret tangan Stella dengan kasar dan menariknya untuk masuk ke dalam mobil. "Terakhir gue nganter lo! Masukin ke otak lo, biar lo bisa kenang seumur hidup lo! Brengsek!"
Rain pun berpamitan pada Abs dan melajukan mobilnya ke luar dari markas besar yang menyerupai bengkel motor itu. Hari mulai menjelang malam, saat Rain keluar dari markas Dead Vagabonds.
"Turun!" titah Rain saat mereka sudah sampai di sebuah rumah megah yang ternyata tidak jauh dari kampus mereka.
Dengan sedih dan langkah gontai, Stella turun dari mobil Stella. Namun tak lama, dia kembali menangis tanpa sebab. Rain mengira tangan gadis itu terjepit pintu, Rain pun segera turun. Emosinya kembali memuncak saat dia mengetahui, tidak ada yang terjadi pada Stella. Dia baik-baik saja.
"Lo ke dokter, gih sana! Biar di cek sakit apaan!" ucap Rain geram.
"Gue baru inget, gue di rumah sendirian. Temenin, yuk!" pinta Stella.
Rain memukul bagian luar mobil dengan tinjunya. "Jangan konyol! Shiit! Masih bagus gue anterin!"
Lagi-lagi, Stella menangis kencang dan membuat beberapa asisten rumah tangga menjulurkan kepalanya melihat ke arah mereka. Rain menghembuskan napasnya kasar. "Masuk, deh cepetan!"
Seketika itu juga, tangis Stella berhenti dan dia berusaha menggandeng tangan Rain walaupun pria itu selalu menyentaknya.
Mereka masuk dengan disambut oleh pelayan Stella yang segera membukakan pintu dan memberikan minuman. Karena Rain sedang kesal, dia tidak tau kalau Stella mengambil kembali gelas minuman yang sudah diberikan oleh pelayan dan memberikan gelas minuman yang baru kepada pria itu.
"Minum dulu, biar emosinya turun," kata Stella manis.
Rain mengambil gelas minuman itu tanpa curiga dan menenggak habis isinya. Setelah habis, dia meletakkan gelas itu di atas meja. "Gue balik!"
Stella mengangguk tanpa bicara. Dia terus menatap Rain dengan ekspresi yang tak bisa terbaca. Seolah menunggu sesuatu, Stella melirik jam tangan yang dipakainya.
"Gila, gue ngantuk banget!" kata Rain dan dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
Senyum Stella semakin mengembang saat melihat Rain tertidur pulas. Gadis itu meminta pelayan prianya untuk menggotong Rain ke kamarnya.
Stella menjalankan misi yang diberikan oleh Hunter sebagai ganti, pria itu telah memberikannya tempat perlindungan saat Rea dan Rain mencarinya.
Sementara itu, Rea sedang berada di rumah Lizzy bersama dengan kuasa hukumnya, Ferguson. Mereka sedang mempelajari kasus kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya itu.
"Nona, tapi apa Anda yakin akan tetap menuntut Luther? Anda sudah tau resiko yang akan dihadapi oleh Luther, 'kan?" tanya Ferguson.
Rea meletakkan berkas yang sedang dibacanya. "Apa pilihan yang aku punya? Menerima permintaan maaf mereka dan menikah dengan salah satu putra Luther dan menjalani hidup seperti biasa, seolah aku ngga tau apa yang terjadi kepada orang tuaku?"
"Itu yang bisa lo jalanin sih, Re. Maksud gue, kasian juga kalo lo nuntut mereka terus mereka jadi miskin mendadak," kata Lizzy menimpali.
Rea menghembuskan napasnya dan kembali membaca berkas yang tadi dia letakkan. "Lalu, bokap nyokap gue gimana?"
"Itu takdir, 'kan? Maksud saya, saat itu kalau Tuhan berkehendak lain, orang tua Anda akan selamat," kata Ferguson.
Rea kembali memikirkan langkahnya. Apa ini yang dia inginkan? Apa dia benar-benar ingin menghukum Luther dan keluarganya? "Huuufftt, oke kita tunda, sampe gue kelar mikir,"
Ferguson dan Lizzy tersenyum puas mendengar jawaban dari Rea. Sayangnya jawaban Rea itu hanya sementara. Ketika ponselnya berkedip, gadis itu melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Stella?" tanya Rea, dia membuka satu demi satu foto yang dikirimkan oleh Stella tersebut dan kemarahannya kembali menggelegak.
"Tuan Fergie, jangan ditunda! Kita maju sidang sesuai jadwal!" tukas Rea tiba-tiba.
...----------------...