
Suara motor menderu kencang. Ketiga motor yang berada di arena balap saling melaju dan mendahului. Sorak sorai penonton pun tak kalah ramai dengan mereka yang berjuang di arena balap.
"Gimana kondisi Rea?" tanya Lizzy. Dia baru saja datang bersama dengan Zayn sambil membawa pompom cheerleader untuk menyemangati Rea.
Kepala gadis itu celingukan mencari yang mana motor Rea. "Gue ngga bisa bedain mana motor Rea, tolong,"
"So far so good, sih. Di monitor keliatan jelas, nih," kata Max, dengan sabar dia menggandeng Lizzy untuk melihat dari monitor.
Wajah Lizzy memerah saat Max menyentuh tangannya. Gadis itu memang nenyukai Max sejak pertama mereka bertemu di gudang kosong saat itu. Menurut Lizzy, Max adalah tipe pria kesukaannya, berantakan, tampan, tubuhnya kekar, sekssi, dan lembut.
"Dia di urutan berapa, Max?" tanya Lizzy lagi. Begitu dia melihat monitor, segera saja rasa khawatirnya memuncak. Dua motor lainnya, saling bertabrakan, dan bahkan beberapa kali ada batu besar atau paku yang harus mereka lewati. "Sumpah, Rea gila banget! Ini bahaya banget dan dia nekat ikut beginian! Rain udah tau?"
Max dan Abs menggelengkan kepalanya. "Belum ada yang tau selain kita. Makanya lo tenang aja, percaya sama temen lo kalo dia bisa menangin pertandingan ini,"
Lizzy mengangguk. Dia berharap Rea dapat menang walaupun rasanya sulit melihat betapa panasnya arena balap yang saat ini Rea harus hadapi.
Tanpa sengaja, dia mengenggam erat tangan Max. Setiap kali dia melihat Rea kehilangan keseimbangan, Lizzy mencengkeram tangan Max.
Saat putaran akhir tiba, Rea terjatuh. Lizzy, Zayn, Max, dan Abs sontak saja berdiri dan melihat dari kejauhan apa yang terjadi.
"Zy, dia jatuh!" tukas Zayn.
"Gue tau! Dia ngga apa-apa, 'kan, Max?" tanya Lizzy.
Max dan Abs tidak menjawab. Kedua netra mereka masih terpaku pada layar monitor yang memperlihatkan motor Rea yang terguling.
Lizzy menepuk-nepuk tangannya sendiri. "Come on, Re. Bangun, Re! Tinggal dikit lagi,"
Seluruh penonton terdiam saat motor Rea terjatuh dan secara otomatis, Rea melepas helmnya dan mengibarkan rambut panjangnya. Alih-alih menangis, dia meringis kesakitan sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah tribun penonton.
Sorak sorai penonton kembali bergemuruh dan komentator seketika itu juga meneriakan sesuatu yang membuat kedua motor lainnya berhenti mendadak. "Dia seorang gadis cantik! Luar biasa sekali, Bung Tom. Kejutan macam apa ini? Kita sama sekali tidak mempersiapkan kehadiran pendatang baru yang segera saja menjadi nomor satu dan ternyata dia seorang gadis cantik!"
Rain dan Hunter saling berpandangan. Mereka sama-sama membuka kaca helm dan kedua manik mereka saling bertemu dan bertanya. Keduanya saling menggelengkan kepala. Mereka tidak tau siapa gadis yang dimaksud oleh sang komentator, tetapi keberadaannya malam itu membuat keadaan berbalik.
Gadis yang disangka seorang pria itu berhasil berada di urutan pertama selama dua putaran berturut-turut. Bahkan dia mengalahkan seorang Speed atau Rain yang selalu berada di urutan pertama.
Rain dan Hunter terdiam, mereka menunggu apa yang dilakukan oleh gadis itu.
"Sepertinya dia nyerah! Jatuh terguling kayak begitu, ngga mungkin lanjut, 'kan?" tanya Hunter mencemooh.
Namun komentator dan para penonton ramai bersorak saat gadis itu kembali memakai helmnya dan naik ke atas motor. Para penonton kini hanya meneriakan satu nama, yakni, si gadis cantik yang belum diketahui namanya itu.
Denga cepat, gadis itu menyusul Rain dan Hunter dan mendahului mereka sambil melambaikan tangannya.
"Shiit!" tukas Hunter yang segera menyusul gadis itu dengan cepat. Begitu pula dengan Rain. Hanya saja kali ini, tujuan dia memenangkan pertandingan balap itu berbeda. Dia ingin tau, siapa gadis yang sudah membuat dirinya penasaran itu.
Rea menggunakan senjata terakhirnya yang telah dibuat oleh Abs, dia menekan tombol berwarna merah dan seketika itu juga motor Rea melaju cepat meninggalkan kedua lawannya dan melewati garis finish dengan mulus.
Gemuruh tepuk tangan para penonton pun terdengar. Lizzy, Abs, Zayn, dan Max turun ke arena untuk memberikan selamat kepada sahabat mereka itu.
"Rea! Rea! Astaga, jantung gue berhenti, Re, pas liat lo jatuh!" ucap Lizzy sambil memeluk sahabatnya itu dan menangis.
Abs dan Max bergantian memeluk Rea sambil menyeringai lebar. Tak lama, Rain menyusul di urutan kedua dan betapa terkejutnya dia saat melihat Rea memakai pakaian bermotor lengkap sambil menenteng helm hitam full face. Wajahnya lecet karena terjatuh tadi.
Rea tersenyum senang saat melihat raut heran di wajah Rain. "Lo ngga ngasih ucapan selamat ke gue?"
Rain tidak tersenyum sedikit pun, apalagi mengucapkan selamat kepada mantan kekasihnya itu. "Lo mau mati? Ngapain ikut beginian! Gimana kalo lo jatuh, motor lo kebakar?"
Pria itu memperhatikan motor Rea yang dipenuhi kabel listrik di sana dan di sini. Selagi Rain memeriksa, Hunter menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya pada Rea.
"Nona Cantik, gue ucapkan selamat. Ngga nyangka lo sekeren ini. Karena lo dateng di luar perkiraan gue, gimana kalo kita tanding ulang?" tanya Hunter sambil melirik ke arah motor Rea.
Satu tinju mendarat di wajah Hunter. "It's over, Hunter! Pertandingan ini, lo tetep kalah dari gue! Sesuai perjanjian, lo harus mundur dari hidup gue!"
Dengan dibantu oleh beberapa orang temannya, Hunter pun pergi meninggalkan Rain yang berwajah mengerikan itu. Kemarahan Rain belum reda, dia memandang tajam Rea dan kawan-kawannya yang sudah bekerja sama membantu Rea.
"Lo pada gila apa gimana, sih? Kenapa pada bantuin dia! Lo lagi, Re, astaga! Maksud lo apaan, sih?" desak Rain kesal sambil memegangi pelipisnya.
Rea mendorong Rain dengan tubuhnya. Senyum di wajahnya kini lenyap, berganti dengan tatapan tajam yang mengintimidasi lawan bicaranya. "Lo baru tau rasa takut pas lo liat gue motoran kayak tadi? Lo mikir ngga, setiap kali lo balapan, rasa takut gue sebesar rasa takut yang lo rasain sekarang!"
Rain terdiam, dia tak menyangka Rea akan dapat membalikkan kata-katanya seperti itu. "Tapi, lo cewek, Re!"
"Ya, so? Apa bedanya? Lo takut gue kenapa-kenapa, so do I, Rain! Sadar ngga sih, lo! Lo juga yang ngajarin gue naik motor, biar apa coba?" tanya Rea kesal.
"Biar lo bisa terima dunia gue!" jawab Rain tak kalah gusar. "Tapi bukan berarti lo bisa langsung balapan kayak gini! Ini terlalu bahaya buat lo!"
Rea mendengus kesal. "Lo yang ngenalin gue sama dunia lo yang ini, Rain, lo juga yang ngajarin gue untuk belajar motor dan terima dunia lo, tapi, lo juga yang ketakutan saat gue nyemplung ke sini! Apa mau lo?"
"Mau gue cuma lo! Gue ngasih tau ini ke lo supaya lo ngga takut lagi karena gue ngga bisa lepas dari keluarga gue di sini dan di satu sisi, gue juga ngga bisa ngelepasin lo!" tegas Rain.
"Sama! Gue juga ngelakuin ini karena gue mau nunjukin ke lo kalo balapan kayak gini tuh bahaya! Gue ngga mau lo mati! Gue ngga masalah, kok, kalo lo tetep mau bergaul sama temen-temen lo di sini tapi, ngga balapan! Lo sekarang udah tau rasa takut yang gue rasain, Rain! Gue ngelakuin hal nekat kayak gini dengan alasan yang sama! Gue terlalu bucin sama lo!" tukas Rea.
Senyum di wajah Rain melebar dan dia memeluk gadis pemberani yang ada dihadapannya itu. "Sumpah, Re, gue lemes! Gue takut banget lo mati!"
"Tandingnya belum selesai. Lo harus selesaikan, Rain!" bisik Rea sambil menepuk pundak mantan kekasihnya itu.
"Heh! Apa maksud lo, Re?" tanya Rain. Namun, Rea membalasnya hanya dengan senyuman.
...----------------...