
Keputusan final dari pihak penuntut sudah dilayangkan ke pengadilan dan mereka meminta pihak terdakwa memberikan respon cepat untuk kasus kecelakaan itu.
"Tuntutannya berubah," ucap Ferguson kepada Jacob siang itu. Dia memberikan sebuah dokumen kepada Jacob. "Nona Rea meminta sidang ini dilaksanakan tertutup dan jangan sampai media tau apa yang terjadi,"
Jacob cepat-cepat membaca dokumen yang diberikan oleh Fergie dan membacanya. Setelah selesai, kedua matanya berkaca-kaca. "Hanya ini tuntutannya?"
Ferguson mengangguk. "Ya, hanya itu. Kami sudah mengadakan rapat berkali-kali da-, ...."
"Rapat? Kami? Siapa saja itu, Fergie?" tanya Jacob sambil meneruskan dokumen itu kepada kuasa hukum keluarganya.
Tiba-tiba saja wajah Fergie memerah seperti seorang remaja yang sedang dimabuk cinta. "Nona Rea mengajakku untuk masuk ke dalam tim-nya. Ehem!"
Cepat-cepat pria itu menguasai dirinya kembali. "Kami membentuk sebuah tim. Nona Rea mengajak aku, Nona Lizzy, dan Tuan Zayn. Dalam tim itu kami membahas segala hal yang berkaitan dengan sidang ini serta beberapa hal pribadi lainnya,"
Jacob tersenyum dan mau tak mau dia merasa terkesan dengan anak gadis sahabatnya itu. "Sesuai dugaanku, Rea gadis yang cerdas dan dia tidak lemah,"
"Tidak! Hanya saja, tuntutannya itu mungkin akan merubah segalanya, Tuan Luther," ucap Ferguson lagi.
Kali ini, kuasa hukum keluarga Luther yang berbicara. "Tidak akan ada yang berubah, Tuan Ferguson. Jika sesuai rencana, akan ada penggabungan saham. Tapi karena tuntutan klien Anda, maka saham Luther dan saham Johnson akan berdiri sendiri,"
Ferguson mengangguk-angguk, mencoba memahami dan mencerna maksud ucapan dari Andrew selaku kuasa hukum keluarga Luther. "Tidak ada yang dirugikan?"
Baik Jacob dan Andrew menggelengkan kepala mereka bersamaan. "Tidak ada,"
Ketiganya kini menghela napas lega. Tuntutan Rea hanya meminta Luther membatalkan kontrak perjanjian pernikahan yang sudah ditandatangani dan bermatrai bertahun-tahun lalu.
"Cuma itu?" tanya Ken dan Rain saat Jacob selesai bertemu dengan Ferguson.
Jacob mengangguk. "Ya, hanya itu,"
"Wah!" seru kedua putra Luther lagi-lagi bersamaan.
"Tapi, aku terlanjur sayang sama Rea, Pa," ucap Ken. Dia sudah menantikan Rea mengubah penilaiannya terhadap Rain dan memilih Ken sebagai calon suaminya. Namun ternyata, Rea lebih memilih melepas keduanya. Ken cukup patah hati dibuat oleh gadis itu.
Rain diam tak berbicara. Patah hati? Jelas! Wajahnya terlihat sekali kalau dia kecewa dan patah hati dengan keputusan Rea itu. Akan tetapi di lain sisi, dia juga mengakui kesalahannya dan mengagumi keberanian Rea dalam mengambil keputusan.
Seketika itu juga, hidupnya terasa kosong dan sepi, seperti saat sebelum dia bertemu dengan Rea. Laki-laki itu meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamarnya.
Rain memejamkan matanya dan memutar kenangan saat dia bersama dengan Rea. Rumah singgah sesaat yang membuatnya nyaman dan berani bermimpi tentang masa depan.
Keesokan harinya, Jacob memaksa Rain untuk bangun dan pergi ke kampus. "Bangun! Kamu udah berhari-hari bolos! Jangan malas, Rain!"
Alih-alih bangun, Rain menutup kedua telinganya dengan bantal dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun Jacob tak menyerah, dia terus meminta putra bungsunya itu untuk bangun dan bersiap-siap kuliah.
"Bibi, tolong ambil air dingin, Bi! Bawa ke kamar Rain!" titah Jacob dengan berteriak. Dia sengaja berteriak dan meninggikan suaranya untuk membuat Rain kesal dan bangun.
Air dingin pun datang, Jacob memercikkan air dingin itu ke wajah Rain setelah dia membuka selimut di wajah putranya itu. Tetapi Rain tidak bergeming. Hanya tinggal satu cara! "Setau Papa, Rea hari ini ke kampus. Tuan Ferguson yang kasih tau Papa tadi,"
Rencananya berhasil, Rain membuka matanya. "Beneran? Aku perlu ngomong sama dia! Aku jalan sekarang!"
Mata Rain yang memohon dan berkaca-kaca membuat Jacob luluh dan pada akhirnya, dia memberikan kunci motor pada putranya tersebut. "Ingat kata Papa ya, Rain! Tidak ada balapan!"
"Siap!" tukas Rain senang. Dia pun bersiap-siap sambil bersenandung gembira.
Setibanya di kampus, Rain segera memarkirkan motornya dan mencari Rea di dalam kelas. Usahanya membuahkan hasil saat dia melihat Rea sedang bercanda dan tertawa bersama Lizzy dan Zayn.
Rain menghampiri gadis itu dan menarik tangannya untuk keluar dari kursi yang dia duduki. "Ikut gue! Gue mau ngomong!"
"Apa sih, Rain! Lepasin tangan gue!" tukas Rea sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Rain yang cukup keras itu. "Sakit!"
Akhirnya Rain melepaskan tangan Rea dan meminta gadis itu untuk mendengarkannya. "Gue butuh ngomong sama lo!"
"Apa yang mau lo omongin? Sidang? Ngomong aja sama pengacara gue, jangan sama gue!" jawab Rea ketus.
"Bukan soal itu! Beberapa hari ini, kenapa lo ngindarin gue? Kenapa lo ngejauh dari gue? Paling ngga, kita bisa temenan, Re!" protes Rain.
Beberapa hari yang lalu, Rain cukup shock dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Dia terbangun dengan Stella berada di sisinya dan mereka berdua tidak berpakaian. Pria itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, tetapi yang dia ingat hanyalah dia mengantuk. Setelah terbangun, dia meninggalkan Stella yang masih tertidur dan tidak pergi ke kampus berhari-hari setelahnya.
Hubungannya dengan Rea yang mulai membaik setelah kejadian ulang tahun di makam, terpaksa berantakan lagi. Entah kenapa, Rea tidak pernah menjawab pesan atau telepon darinya, sampai tuntutan sidang itu keluar.
"Temen lo bilang? Lo masih bisa berharap jadi temen gue? Ngga akan bisa, Rain! Kita ngga akan pernah bisa ada di satu circle! Sampe sini ngerti, 'kan?" ucap Rea, kedua matanya memandang tajam ke arah pria tampan yang pernah ada di hatinya itu.
"Paling ngga, jelasin kenapa lo marah banget sama gue, Re! Gue ngga tau apa salah gue kalo lo ngga ngomong! Gue udah janji sama bokap nyokap lo untuk jagain lo dan selalu ada di samping lo 24 jam kalo lo kesusahan! Gue bukan cowok ingkar janji!" seru Rain lagi dengan nada sedikit tinggi.
Rea membuang wajahnya. "Ngga usah! Bokap nyokap gue udah ngga ada, jadi lo ngga usah repot-repot bikin janji yang ngga bisa lo tepatin!"
"Apa maksud lo? Gue selalu nepatin janji gue, Re! Lo-nya aja yang terus menghindar dari gue!" tutur Rain semakin memanas.
Kini tak hanya satu dua orang yang melihat pertengkaran mereka, hampir seluruh kelas keluar untuk melihat lebih jelas keributan yang terjadi di depan kelas mereka.
Kesabaran Rea sudah habis, dia mengirimkan foto-foto yang telah dikirimkan oleh Stella beberapa waktu yang lalu kepada Rain. "Lo liat aja, apa itu yang lo sebut nepatin janji? Lo bilang lo sayang sama gue! Lo bilang, cuma gue yang bisa bikin lo nyaman dan berubah! Terus itu apa?"
Suara Rea mulai tercekat, dia sudah kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan Rain. Pria itu melihat foto-foto dirinya dengan Stella yang sedang berpelukan dan bahkan ada beberapa gambar yang menunjukkan mereka sedang berpagutan mesra.
"Gue berani bersumpah, ini perbuatan Stella!" ucap Rain panas. "Gue akan buktiin ke lo, kalo gue ngga serendah dan semurah ini, Re!"
Merasa namanya disebut, Stella pun keluar dari kelas dan berjalan berlenggak-lenggok menghampiri mereka. "Hai, Rea. Ternyata lo secinta itu sama cowok gue, hahaha! Sayangnya, gue udah kasih tanda ke Rain kalo dia udah jadi milik gue,"
"Brengsek!" tukas Rain, tangannya melayang dengan cepat ke pipi Stella.
Rea menggelengkan kepalanya dan pergi menjauh. "Rain, gue rasa sampe kapanpun kita akan pernah bisa bersama-sama. Sekarang aja, lo udah terlalu jauh, Rain. Lo terbang terlalu tinggi sampe gue capek untuk gapai lo. Kita kayak air dan api, yang ngga pernah bisa nyatu!"
Gadis itu kemudian menatap Stella dengan kebencian yang mendalam dan sambil mengacungkan jari tengahnya, Rea berbisik dengan jelas, "Stella, fuuck you!"
...----------------...