My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Gue Bukan Ultraman



Suara sirene ambulance malam itu, membuat suasana jalanan semakin semarak. Dengan kecepatan cukup tinggi, kendaraan penyelamat itu membelah padatnya jalanan ibu kota demi menyelamatkan tiga orang pria yang sedang dalam kondisi cukup kritis.


Para tenaga medis yang berada di dalam ambulance itu senantiasa memeriksa tanda-tanda kehidupan pada ketiga anak muda itu, sementara yang lain berusaha menghubungi keluarga atau kerabat ketiga pemuda itu.


Tak lama, ambulance itu sudah sampai di rumah sakit. Segera saja para dokter yang berjaga di ruang unit gawat darurat menurunkan mereka dan memindahkan mereka ke dalam ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Salah satu dari pasien itu bernama Rainhard Luther, mengalami keretakan pada tulang belikat serta sedikit geger otak karena hantaman benda tumpul yang cukup keras di kepalanya. Sementara dua lainnya, mengalami luka yang lebih ringan karena berdasarkan keterangan, mereka melakukan perlawanan sedangkan Rain, dia tidak memberikan perlawanan sama sekali.


Setelah menunggu dalam waktu cukup lama, akhirnya Jacob Luther pun datang. Dia menangisi putra bungsunya yang babak belur. “Rain, kenapa lagi denganmu?”


Salah satu teman Rain pun menyibakkan tirai ranjangnya karena mendengar tangisan Jacob. “Malam, Om. Rain tidak bersalah. Karena kami tiba-tiba diserang dan saat itu kami sedang mengobrol seperti biasa. Kami juga ngga tau kenapa mereka menyerang kami,”


Jacob menyeka air matanya dan melihat kedua teman Rain yang terlihat sama parahnya dengan putra bungsunya itu. “Saya sudah berkali-kali minta pada anak saya untuk tidak kembali lagi ke tempat motor-motoran kalian! Kenapa dia masih bandel, sih? Apa yang bisa dia dapatkan di sana?”


“Persaudaraan, Om. Kami ngga membenarkan balapan liar atau segala keributan yang kami lakukan. Persaudaraan yang terjalin di antara kami bisa diibaratkan lebih kental daripada darah,” ucap Abs dengan kepala dan lengan penuh perban.


 Jacob mendengus kasar dan meremehkan jawaban Abs. “Huh! Apanya yang lebih kental daripada darah? Kalian terlalu meremehkan nyawa seseorang hanya karena kalian masih muda!”


Baik Abs maupun Max saling memandang dan tak berani mendebat pernyataan Jacob. Tujuan mereka membentuk klub motor awalnya hanyalah untuk bersenang-senang. Siapa yang menyangka akan menjadi sebuah musibah dan petaka seperti ini?


Selagi mereka melanjutkan pembicaraan mereka, Rain menggumamkan sesuatu dengan suaranya yang lirih. “Rea, … Rea, … Rea, ….”


Jacob menggenggam tangan Rain sambil berbicara di depan telinga putranya tersebut. “Ya, Rain. Papa ada di sini. Kamu sudah aman,”


“Rea,… Rea, …. Aku mau Rea, Pa,” sahut Rain.


"Ya, Sayang. Nanti kita panggil Rea ke sini,” kata Jacob menenangkan.


Sayangnya, Rea belum bisa dihubungi malam itu. Jacob pun menghubungi Ferguson, selaku juru bicara Rea.  (“Nona Rea besok akan menghadiri persidangan akhir, Tuan Luther. Sidang keputusan itu akan diadakan esok hari dan Nona Rea berniat hadir di persidangan itu,”) jawab Fergie.


Jacob memijat pelipisnya. “Aku melupakan persidangan itu. Baiklah, bisakan kau meminta Rea untuk datang ke rumah sakit setelah sidang?”


(“Saya akan menyampaikan pesan Anda kepada Nona Rea dan memastikan dia akan menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit. Tapi, siapa yang sakit, Tuan?”) tanya Fergie lagi.


"Rain. Tolong sampaikan pada Rea kalau Rain ingin bertemu dengannya. Terima kasih, Ferguson,” jawab Jacob setelah itu dia mengakhiri teleponnya.


Keesokan harinya, Ferguson menyampaikan pesan Jacob pada kliennya yang masih berusia belia itu. “Oke, katakan pada Tuan Luther aku akan datang ke sana setelah persidangan selesai. Katakan juga aku ingin membicarakan sesuatu dengannya,” ucap Rea pagi itu, saat mereka hendak berangkat ke pengadilan.


Maka, profesi Ferguson pagi itu pun bertambah satu menjadi pengantar pesan. Dia menyampaikan jawaban nonanya itu kepada Jacob Luther.


Setibanya di pengadilan, Rea yang didampingi oleh Ferguson dan Lizzy bertemu dengan Andrew, kuasa hukum Luther. Mereka saling mendoakan dan mengharapkan yang terbaik pada hasil persidangan itu.


Rea dan Lizzy saling berpelukan untuk merayakan kemenangan mereka. ”Akhirnya satu beban di pundak gue hilang, Zy,”


Lizzy mengangguk senang. Gadis itu ikut berbahagia mendengar kemenangan sahabatnya. “Yup. Dan lo ngga perlu lagi pedekate sama cowok-cowok Luther. Sekali lagi congrats ya, Re,”


“Sekarang, gue mau ke rumah sakit. Rain di rawat kata Tuan Fergie. Gue ngga tau dia sakit apaan. Udah lama juga, sih, gue ngga liat dia di kampus,” ucap Rea. Walaupun terkesan tidak peduli, tetapi di dalam hatinya, Rea khawatir apa yang menimpa Rain sampai dia di rawat di rumah sakit.


Tak hanya itu, Rea juga merasa bersalah karena dia sudah menghindari Rain dan memutuskan hubungannya dengan pria tampan itu. Apakah dia depresi dan melakukan percobaan bunuh diri? Rea bergidik. “Zy, menurut lo, Rain bukan tipe cowok depresi-an, 'kan?”


“Nggalah, Re! Rain ngga mungkin mati bunuh diri!” jawab Lizzy menenangkan sahabatnya yang sudah cukup panik itu.


Berkat hiburan dari Lizzy, Rea pun memberanikan dirinya untuk bertemu dengan Rain di rumah sakit. Sebenarnya, dia sedikit berdebar-debar membayangkan akan bertemu dengan Rain setelah hampir sebulan  mereka tidak bertemu.


Sesampainya di rumah sakit, Rea segera menuju ruangan Rain yang sudah dipindahkan ke ruangan VVIP. Dari keterangan perawat yang berjaga hari itu, Maxwell Grey alias Max dan Brandon Cyrus alias Abs berada di ruang VVIP yang bersebelahan dengan kamar Rain. Dari situ Rea paham kalau ini ada kaitannya dengan geng motor mereka.


Rea pun menyempatkan diri untuk menjenguk Max dan Abs dan gadis itu bertemu dengan keluarga mereka yang ternyata cukup ramah dan menyenangkan. Rea sempat berpikir, kalau anak-anak yang tergabung dalam geng motor berasal dari keluarga broken home. Tetapi apa yang dia lihat hari itu, membuat Rea yakin kalau anak-anak geng motor itu hanya ingin bersenang-senang dan menghabiskan waktu luang mereka.


Setelah selesai mengunjungi Max dan Abs, Rea akhirnya menemui Rain. Dengan membawa buket bunga besar serta sekeranjang buah-buahan, Rea mengetuk pintu ruangan Rain. “Rea,Nak,” sambut Jacob yang segera memeluk gadis itu dalam dekapannya dengan penuh haru.


Jacob menjelaskan kondisi Rain dan kronologis kejadian yang menyebabkan Rain dan teman-temannya sampai harus di rawat di rumah sakit. Selesai memberikan penjelasan, Jacob memegang kedua tangan Rea. “Rea, Papa meminta maaf untuk segala yang Papa lakukan dan Papa juga minta maaf sudah membuat Rea harus melewati ini seorang diri. Tapi, Papa berharap Rea tetap bersedia menganggap Papa sebagai Papa Rea dan maafkan Papa kalau Papa banyak minta. Papa ingin, kamu ngga keberatan memanggil Papa dengan sebutan Papa,” pinta Jacob. Suaranya tercekat dan kedua matanya berkaca-kaca saat dia meminta itu.


Rea mengangguk dan kembali memeluk Jacob. Dia tersenyum dengan tulus. “Rea juga minta maaf kalo Rea ke depannya akan terus bikin Papa repot. Salah satunya karena Rea mau, Papa dateng ke acara pesta kelulusan Rea sebagai wali dan orang tua Rea,”


Jacob pun mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Setelah itu, dia keluar dan membiarkan Rea berbicara dengan putra keduanya itu. "Hai, Rain. Gue pikir lo ngga bisa sakit, ternyata lo nyaris mati. Hahaha!” ucap Rea sambil melihat dan mengusap setiap perban yang membalut tubuh mantan kekasihnya itu.


Rain tertawa. “Sialan, lo! Gue bukan Ultraman yang ngga bisa mati, woi!”


Rea pun membalas tawa pemuda itu. Suasana canggung menggelayuti ruangan itu. Tiba-tiba saja, Rain mengambil tangan Rea dan menggenggamnya. “Re, lo ngga tanya kenapa gue ngga bales mukul? Kalo gue ngelawan Hunter, gue ngga akan kayak gini dan gue pasti menang. Saat itu, gue mikirin lo. Luka pukul yang gue terima ngga sesakit luka yang lo dapetin karena gue. So, gue layak dapet pukulan itu. Anggep aja gue lagi nebus dosa. Gimana? Udah keren belum gue? Hehehe!”


Sebutir air mata Rea bergulir jatuh dan gadis itu cepat-cepat mengusapnya. “Bodoh, lo! Kalo lo bosen hidup lo boleh pasrah dipukulin gitu! Lawan aja kalo lo ngga punya salah! Kecuali kalo lo  bisa nguasain elemen tanah, air, atau udara, lo boleh diem aja! Rain Bodoh, ah!”


Rain menarik Rea dalam pelukannya. “Gue mau tobat, Re. Biar lo ngga marah-marah lagi sama gue,”


“Bodo amat!” sambung Rea sambil terisak.


...----------------...