
Archie terhenyak kemudian dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah setitik. Dia tersenyum seperti orang gila yang tidak memiliki perasaan. "Hahaha! Rea belum tentu milih lo, Rain! Biarin gue masuk hidup dia sebentar,"
"Siapin motor lo! Kalo lo menang, gue izinin lo untuk ngoceh! Kalo lo kalah, jangan ganggu hidup gue lagi!" tantang Rain.
Archie menatap Rain dengan tatapan penuh tantangan. Dia memahami betapa seriusnya Rain tentang masalah ini. "Oke," jawabnya akhirnya. "Gue ngga takut sama tantangan lo dan gue juga ngga akan mundur. Mau siang ini juga? Atau nanti malam? Biasanya lo takut balapan siang-siang, hahaha!"
"Ngga usah banyak bacot! Gue tunggu lo di depan!" tukas Rain dengan wajah sangar.
Keduanya keluar dari markas dan berjalan menuju motor balap masing-masing. Mereka memacu motornya ke jalan raya kota yang sepi di siang hari. Cahaya jalan raya yang gemerlapan menambah semarak suasana siang itu.
Rain menatap Archie dengan tajam sebelum menggenggam erat pegangan motornya. "Gue ngga paham, kenapa lo tiba-tiba ngincer Rea!"
"Cuma karena gue pengen, Speed," balas Archie dengan senyuman sombong. "Gue ngga akan ngebiarin lo hidup bahagia gitu aja sedangkan gue kesepian di sini."
Kedua motor melesat cepat di jalan raya yang ramai Bunyi mesin yang bergemuruh memenuhi udara siang itu, berlombaan dengan deri kendaraan lain. Kecepatan yang mereka capai sangat mengesankan, seperti dua kekuatan tak terkalahkan yang saling bersaing.
Selama balapan, Rain dan Archie terus saling mendahului. Mereka melakukan manuver berbahaya dan mengekspresikan kemampuan mengemudi terbaik mereka. Rain terus mencoba menyudutkan Archie, dengan harapan pria itu akan berhenti mengganggu hidupnya, sementara Archie, dia berusaha terus memepet Rain, karena dia sungguh tidak ikhlas melihat saingannya itu melupakannya.
Di tengah jalanan yang panjang dan ramai, mereka saling berbicara dengan dialog singkat di antara suara deru mesin.
"Lo pikir, lo bisa ngalahin gue gitu aja, Speed?" Archie mencemooh.
"Gue ngga tau apa tujuan lo, gue cuma minta, lo jauhin gue dan Rea! Berhenti jadi kayak anak kecil yang selalu ngajak ribut!" tukas Rain.
Mereka terus memacu motornya, terlihat seperti bayangan yang bergerak dengan cepat. Kedua hati mereka berdebar kencang karena adrenalin yang meluap dalam balapan ini.
Saat mereka tengah dalam perbincangan mendalam, tiba-tiba kedua motor mereka bersenggolan secara tak terduga. Suara derap ban yang tergesek dan benturan logam membuat keduanya terkejut.
"Mati lampu!" teriak Rain, berusaha menstabilkan motornya yang goyah.
Archie berjuang keras untuk mengendalikan motor yang hampir kehilangan keseimbangan. Keduanya terdiam sejenak, menatap satu sama lain dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Mereka hampir terlibat kecelakaan yang fatal," gumam seorang saksi yang melihat insiden itu dari kejauhan.
Namun, dalam sekejap mata, keduanya menemukan kembali keseimbangan dan mampu menghentikan motornya dengan selamat. Kedua mereka melangkah turun dari kendaraan mereka, masih terengah-engah dan jantung berdegup kencang.
Rain menatap Archie dengan tatapan terkejut. "Hampir saja kita berdua terlibat kecelakaan yang serius," katanya dengan suara gemetar.
Archie mengangguk, tetapi wajahnya penuh dengan keprihatinan. "Syukurlah , gue belum mati," katanya dengan suara serak.
"Gue minta maaf," kata Archie dengan suara tulus dan sedikit canggung. "Gue cuma pengen disayang kayak lo doang. Temen-temen lo tulus sayang sama lo. Bahkan mungkin, saat lo ngga punya duit, mereka ngga akan ninggalin lo,"
Rain menatap Archie dengan ekspresi campuran antara kemarahan dan kelegaan. "Gue juga minta maaf," kata Rain dengan suara yang penuh penyesalan. "Harusnya gue ngga nantang lo balapan di tengah hari bolong kayak gini. Manalagi jalanan lagi rame banget,"
"Soal disayang, gue rasa lo lebih beruntung. Bayangin aja, lo punya dua nyokap dan dua bokap yang siap ngisi ATM lo kalo kosong, hehehe!" sambung Rain lagi.
Archie tersenyum dan mengangguk setuju. "Hahaha! Lo bener,"
Keduanya berjalan menjauh dari motor mereka yang terparkir, meninggalkan kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka. Mereka duduk di pinggir jalan, melanjutkan percakapan mereka dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang terbuka.
Keduanya menghentikan motornya dan duduk di trotoar yang ramai, menatap satu sama lain dengan keheningan. Mereka memulai dialog panjang yang penuh dengan emosi dan argumentasi, berusaha memahami perspektif masing-masing dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Dalam percakapan itu, mereka akhirnya menemukan titik temu dan membangun jembatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Balapan yang dimulai dengan kemarahan dan kecurigaan akhirnya membawa mereka pada kesadaran bahwa kejujuran, komunikasi, dan pemahaman adalah kunci dalam menjaga hubungan yang baik.
Saat mereka melangkah bersama dalam ketenangan, Archie tiba-tiba berhenti dan menoleh kepada Rain dengan tatapan yang berbeda. Wajahnya terlihat gelap, dan dia terlihat terbebani oleh sesuatu yang selama ini terpendam di dalam hatinya. "Rain," Archie berkata dengan suara yang serak, "Gue harus jujur sama lo. Selama ini, gue selalu nyari ribut sama lo bukan karena gue benci sama lo. Awalnya, emang iya gue ngga suka sama kehadiran lo. Tapi lama-kelamaan, gue jadi sadar kalo gue jealous sama lo,"
Rain terkejut mendengar pengakuan tersebut. Dia tidak menyangka bahwa ada rasa iri yang menyelimuti Archie. "Jealous? Lo normal, 'kan?" ucap Rain, mencoba memahami apa yang Archie rasakan. "Kenapa? Apa yang lo jealous-in dari gue?"
Archie menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Lo selalu terlihat begitu percaya diri dan kuat. Lo punya semangat yang luar biasa, dan orang-orang terkesan dengan keberanian lo. Gue ngerasa rasa terpinggirkan dan ngerasa kalo gue ngga bisa nyaingin lo. Sampe kapan pun gue ngga bisa menang dari lo. Dan lo bisa liat sendiri, Rea cuma alasan supaya gue bisa nyaingin lo,"
Rain mendengarkan dengan perasaan campuran di hatinya. Dia merasa bersimpati pada Archie karena menyadari bahwa ketidakpercayaan diri bisa menjadi beban yang berat.
"Gue juga kadang jealous sama kakak gue. Dia pinter dan bokap selalu ngandelin dia dibanding gue. Kalo gue yang bertindak, bokap jadi kayak CCTV 24 jam yang selalu ngawasin gue setiap detiknya. I'm nothing, Hunter dan lo ngga perlu jealous sama gue. Gue ngga punya apa-apa untuk gue banggain," kata Rain.
Archie tersenyum, tetapi rasa iri yang terpendam masih terlihat dalam matanya. "Entahlah. Mungkin gue cuma pengen mau temenan sama lo tapi harga diri gue too much untuk nerima lo dan ngakuin kelemahan gue, hahaha!"
Rain meninju lengan Archie perlahan. "Bilang aja lo ngefans sama gue, hahaha! Tapi, nggalah! Kita masih bisa bersaing sehat selama koridornya benar. Satu lagi, soal Rea, gue tegasin sekali lagi, dia milik gue! Lo ganteng, kaya, mapan, segalanya lo punya, buka hati lo dan biarin cewek-cewek itu nyari lo! Jangan ngekor gue mulu, Bro!"
Archie merenungkan kata-kata Rain dengan cermat. Dia menyadari bahwa rasa iri dan sombong itu tidak akan membawa kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya. Dia memutuskan untuk memulai proses untuk mengatasi ketidakpercayaan diri dan belajar merangkul keunikan dan bakat yang dimilikinya sendiri.
"Hahaha! Gue minta maaf, tapi kalo soal Rea, gue sungguh-sungguh gimana, dong?" tanya Archie dengan setengah bercanda. "Hahaha! Muka lo lucu banget! Gue ngga tau di mana bisa nemu cewek sekece Rea. Aargghh! Gue iri sama lo pokoknya!"
Sekali lagi, Rain pura-pura meninju lengan Archie dan ikut tertawa bersamanya. "Nanti gue cariin cewek buat lo, tenang aja! Friend?"
Rain menawarkan kepalan tangannya dan Archie membalasnya. "Friend,"
...----------------...