My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Hati Yang Patah



"Nikah? Papa mau nikahin Rea sama Rain? Atas dasar apa? Kenapa harus nikah?" tuntut Ken setelah mereka berdua sampai di rumah, tetapi Rea dan Rain belum kembali.


Jacob menggelengkan kepalanya sambil memijat tipis pelipisnya. "Ken, bukan saatnya kamu jealous pada adikmu! Toh emang mereka pacaran, 'kan? Udah tunangan juga, jadi ngga masalah kalo Papa nikahin mereka. Daripada begini, Papa yang pusing!"


Ken masih ingin mendebat ayahnya, tetapi kemudian akhirnya dia berpikir untuk tidak mendebat Jacob dan menggunakan cara lain untuk menggagalkan rencana pernikahan Rea dan Rain. Dirinya masih belum menerima apabila adik serta gadis yang dicintainya akan menikah. Lalu, bagaimana nasib cintanya? Akan dia buang ke mana rasa cinta yang meluap-luap di hatinya itu?


"Setau aku, mereka putus," kata Ken.


Kedua mata tampak membesar. "Heh! Putus katamu? Tunangan kemarin itu akhirnya putus? Berita macam apalagi ini?"


"Kalau mereka putus, kenapa bisa pergi berduaan? Di mana-mana yang Papa tau, kalo udah putus, udah ngga ada ketemuan lagi! Buktinya mereka kabur berdua! Ngaco!" sambung Jacob lagi dan lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya.


"Sekarang udah beda zaman, Pa. Mau pacaran atau ngga, kalo nyaman, bisa aja jalan berdua dan ngapa-ngapain berdua. Jadi ikatan itu ngga wajib. Aku tau kalo Rea sama Rain itu udah putus karena dar-, ...."


Jacob memukul meja dengan cukup keras dan membuat Ken terlonjak sehingga menghentikan pembicaraannya.


"Pa, kenapa ngagetin, sih?" protes Ken lagi sambil mengelus-elus dadanya.


"Kamu pikir aja ucapanmu, Ken! Apa pantas bicara kayak gitu kepada adikmu! Bagaimana pun juga kalian kakak adik, hanya karena satu orang gadis, kalian jadi saling benci!" tukas Jacob.


"Kenapa Papa lebih memilih Rain menjadi pendamping Rea? Pertama, Rea mencintai adikmu dan itu terlihat jelas di matanya. Yang kedua, adikmu bisa berubah sejauh ini karena gadis itu, Ken! Efek positifnya banyak. Kalau Rea mencintaimu, toh Papa akan menikahkan kalian. Janganlah bicara seperti itu. Bersikap dewasalah, Ken. Papa mohon," sambung Jacob lagi. Suaranya terdengar lelah saat menghadapi perilaku anak sulungnya tersebut. Padahal di saat yang sama, dia berharap Ken ada mendukung dan berada di pihaknya, bukan sebagai pihak penyerang seperti saat ini.


Ken mencebik. Dia tidak pernah berpikir ayahnya akan memihak adiknya seperti ini. Sudah terlalu banyak Rain menerima dari Jacob, begitu pikir Ken. Mulai dari motor besar, apartemen pribadi, kuliah di luar negeri yang tak pernah dia dapatkan, dan kini, Rea. Haruskah kali ini Ken mengalah lagi? Tidak! Begitulah keputusan yang akan dia ambil.


"Papa terlalu manjain Rain! Liat aja dia gimana sekarang! Ugal-ugalan, gabung klub motor, ikut taruhan, dan balap liar! Masa Papa rela nitipin anak gadis sahabat Papa ke tangan cowok ngga bertanggung jawab kayak Rain?" tuntut Ken panas. Saat ini, Ken sedang dilanda api cemburu yang sangat besar. Wajar saja setiap perkataannya selalu panas dan berapi-api.


Jacob semakin mempercepat pijatan di pelipisnya sebelum akhirnya dia menggebrak meja kembali dan memohon putra sulungnya itu untuk berpikir lebih cerdas. "Ken, ayolah! Kalian sedang tidak berebutan permen, cokelat, atau mainan! Kalian sudah sama-sama dewasa! Kamu sendiri juga bisa lihat, 'kan, kalo mereka bahagia bersama-sama! Apalagi yang harus Papa buktikan? Come on, Ken! Be logic!"


"Ck! Harusnya aku yang ngajak Papa untuk come on, Pa!" tukas Ken kemudian dia keluar dari kamar kerja ayahnya sambil membanting pintu ruangan itu dengan kencang.


Ken mengambil ponselnya dan dia mencoba menghubungi Rea, tetapi ternyata ponsel gadis itu tertinggal di kamarnya. Ken membuka pintu kamar Rea dan dia menemukan ponsel Rea tergeletak di atas ranjang.


Pria muda berjanggut tipis dan berkacamata itu mengambil ponsel gadis yang disukainya dan mengusapnya perlahan. Tiba-tiba saja ponsel itu menyala dan menampilkan wallpaper bergambar Rea dan Rain sedang berangkulan dan tertawa lebar. Rea tampak bahagia sekali berada di sisi Rain dalam foto itu. Hati Ken menjadi perih dan seakan tertusuk seribu jarum. "Kenapa harus adik gue sih, Re? Kenapa juga lo ngga bisa liat gue?"


Patah hati, cemburu, kecewa, dan sesak dirasakan oleh Ken saat itu. Dia tidak ingin menghilangkan senyuman di wajah cantik Rea hanya karena keegoisannya.


"Apa gue harus ngalah lagi, Re? Apa gue harus patah lagi? Kali ini, berat banget buat gue untuk ngerelain lo. Tapi begitu ngeliat foto lo happy kayak gini, gue ngga bisa, Re! Gue ngga bisa ngilangin senyum itu dari wajah lo. Gue harus apa, Re?" ucap Ken bermonolog sambil terus menatap wajah Rea di layar ponsel milik gadis itu.


("Wah, gue juga ngga tau, Kak. Ngga ngasih kabar apa-apa ke gue juga tuh bocah,") jawab Lizzy.


"Lo temenin gue, deh. Gue jemput lima belas menit lagi! Lo masih di kantor, 'kan?" ucap Ken sambil menyambar kunci mobilnya dan segera menyalakan mesin mobil sport biru metalik kesayangannya.


("I-, iya. Ma-, ....)


"Siap-siap aja!" tukas Ken dan segera menutup panggilan teleponnya.


Sepuluh menit sudah membuat Ken berhasil menjemput Lizzy di kantor dan menarik gadis yang masih dipenuhi tanda tanya di kepalanya itu. Bagaimana tidak? Jarang sekali, Ken mengajaknya keluar kecuali untuk rapat atau urusan kantor lainnya.


Sepanjang perjalanan, Ken lebih banyak diam. Dia hanya terus mengemudikan kendaraannya dengan cepat dan tak tentu arah.


"Lo mau ke mana sih, Kak?" tanya Lizzy mulai panik. "Lo ngga pengen nyulik gue, 'kan? Sumpah, rugi banget kalo lo nyulik gue. Keluarga gue akan sujud sukur dan ngga akan ngasih lo duit tebusan, Kak,"


Ken tersenyum. "Gue mau minta temenin lo doang. Gue juga rugi nyulik lo. Gue cuma butuh temen, Zy,"


Lizzy menarik napas lega. "Hohoho, kirain mau nyulik. Gue udah pasrah aja kalo lo nyulik gue sih, Kak,"


Kendaraan mewah itu menembus jalan tol dan keluar di perbatasan kota. Ken mencari sebuah kedai yang sepertinya sudah menjadi tempat favoritnya selama ini. Benar saja, tak jauh dari pintu tol, terdapat sebuah kedai prezel dengan gambar prezel cukup besar di pintu masuknya.


"Lo belum makan, 'kan? Hari ini gue traktir," kata Ken membuat senyum Lizzy terkembang dengan lebar.


Tak lama, mereka sudah memenuhi kedua tangan mereka dengan makanan dan minuman di tangan yang lain. Mereka mencari tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian.


"Mau cerita apa?" tanya Lizzy sambil memotong pretzelnya dan mencelupkannya ke dalam saus cokelat.


Ken bercerita tentang apa yang dia rasakan, tentang kesedihannya, tentang rasa cemburunya, tentang patah hatinya, dan tentang segala kerisauannya.


Lizzy tersenyum setelah mendengar cerita dari atasannya tersebut. "Kak, lo gentle banget. Dengan lo ngelepasin Rea cuma karena lo ngga mau liat senyum di wajahnya ilang, itu udah masuk kategori cinta in another level, Kak. Trust me, there's someone else for you,"


"Hmm, gue ngga berharap kayak gitu, sih, untuk saat ini. Gue cuma berharap gue bisa lepas dari rasa sakit yang gue rasain sekarang," ucap Ken sambil menyesap kopi hangatnya.


...----------------...