My Boyfriend Is A Bad Guy

My Boyfriend Is A Bad Guy
Ulang Tahun Kelam



Suatu pagi di sebuah pemakaman yang berbentuk rumah kecil dengan nisan dibawahnya, seorang gadis datang dengan membawa kue tart kecil, satu botol minuman, satu buah kursi kecil, serta tiga buah gelas.


Dia meletakkan barang bawaannya di atas nisan bertuliskan Alex dan Vivian Johnson. Kemudian, dia meletakkan kursi kecil yang dia bawa di depan nisan tersebut. "Hai, Pa, Ma, aku datang,"


Setelah menyapa, gadis itu menyalakan lilin di atas kuenya dan bernyanyi lagu ulang tahun. Air matanya menetes saat menyanyikan lagu tersebut. "Ma, Pa, aku ulang tahun hari ini. Harusnya, kalian akan memberikan berupa kejutan calon suami dan pembagian saham itu, ya, 'kan?"


Rea mengusap air matanya dan sekali lagi dia menyanyikan lagu ulang tahun dan meniup lilin yang menyala di atas kuenya. "Selamat ulang tahun, Rea,"


Gadis itu kembali tenggelam dalam tangisannya. Saat itu, dia sudah tidak duduk di atas kursinya, melainkan berbaring di atas pusara kedua orang tuanya. "Rea mau ikut. Boleh, ngga? Rea mau nyusul mama sama papa! Bukain tanahnya, Pa! Rea mau masuk!"


Tangisan gadis itu memecah keheningan area pemakaman yang sunyi. Tak hanya menangis, Rea juga terus menerus menenggak minuman beralkohol yang telah dia bawa. Entah sudah berapa gelas yang dia minum. Wajahnya memerah karena pengaruh alkohol dan karena menangis.


"Papa tau ngga? Temen papa itu punya dua anak cowok, 'kan? Rea ceritanya udah jadian sama anak bungsunya Tuan Luther, tapi beberapa hari ini Rea baru tau kalo dia yang bikin papa sama mama pergi. Rea patah hati jadinya. Kenapa harus dia yang nabrak papa sama mama? Kenapa ngga orang lain aja gitu?" ucap Rea, lagi-lagi air mata mengiringi kata-katanya.


Dengan masih berbaring dalam posisi seolah memeluk bantal, begitu pula posisi Rea saat ini. Gadis itu berbaring di atas nisan dan tangannya terulur memeluk pusara kedua orang tuanya.


Rea membiarkan air matanya terus mengalir. "Kalo Rea minta kasus mama sama papa dibuka, Rea dosa ngga?"


"Kalo kata Tuan Ferguson andaikan Rea nerusin tuntutan, saham Luther di AJ Company jatuh dan Tuan Luther bisa bangkrut. Rea juga ngga mau begitu. Gimana dong, Pa? Tolongin," ucap Rea lagi. Suaranya masih tersendat karena menahan tangis. Namun, sekuat apa pun dia menahannya, butiran bening itu tetap turun dengan mulus dari pelupuk matanya.


Setelah menangisi Jacob Luther, menangisi dirinya sendiri, kini Rea duduk di atas nisan dan mengusap nama yang tersemat di nisan tersebut. "Udah siang, tapi Rea masih mau di sini. Tapi sempit. Papa sama mama ngga bisa geseran dikit, gitu? Rea udah bawa bantal sama selimut. Rea mau tidur di sini aja. Rea kangen,"


Air matanya kembali jatuh. Dia beranjak dari nisan itu dan kembali ke dalam mobil. Tak lama, dia sudah datang kembali dengan membawa botol lain yang masih tersegel dan sebuah bantal kecil.


Dia menuang minuman itu di gelasnya dan menenggaknya dalam sekali minum. "Geseran dikit, Rea mau tiduran di sini,"


Sementara itu, Ferguson sedang dalam perjalanannya untuk menemui Jacob. Ya, dia ingin mengurus kepemilikan saham Rea dan meresmikan klien mudanya itu untuk masuk ke dalam jajaran direksi di AJ Company.


Ditambah lagi, dia harus mempersiapkan bukti-bukti untuk dia ajukan di pengadilan nanti. Kepalanya mendadak pusing memikirkan tugasnya bertambah.


"Tuan Luther," sapa Fergie saat dia sudah sampai di AJ Company. Jacob meminta Ferguson untuk menemuinya di sana dengan harapan, Rea akan ikut bersamanya. Namun ternyata, harapan Jacob tidak terkabul.


"Ferguson, di mana klien Anda?" tanya Jacob.


Fergie tersenyum kecut. "Sampai saat ini masih belum bisa di hubungi,"


"Apa dia serius dengan tuntutannya?" tanya Jacob. Seperti yang sudah dia katakan kepada Rain, saham yang dia miliki di AJ Company akan goyah dan turun drastis, jika Rea benar-benar akan membuka kembali kasus ini.


"Maafkan ketidaktahuanku, Tuan Luther. Tapi sampai saat ini, klien saya belum membatalkan tuntutannya. Dia sudah mengagendakan saya untuk menyerahkan berkas dan bukti-bukti kasus itu ke kepolisian untuk dipelajari," jawab Ferguson.


Jacob memejamkan matanya sesaat. "Rupanya dia serius,"


"Sepertinya. Di mana saya bisa mulai menandatangani berkas-berkas saham Johnson?" tanya Ferguson. Dia tidak ingin membuang waktu karena dia takut kelepasan bicara.


Kuasa hukum Jacob pun datang dan menyerahkan berkas saham atas nama Marea Skylar Johnson tersemat di bagian kanan atas berkas itu. Setelah segala urusannya selesai, Ferguson pun pamit dan dia mengirimkan pesan kepada Rea. "Nona, AJ Company beres. Saya sekarang akan menyerahkan berkas bukti ini ke kepolisian,"


Di lain tempat, Rain menunggu Rea di depan apartemen Lizzy dengan membawa sebuket bunga besar dan kado yang sudah terbungkus dengan rapi dan cantik.


"Ke mana?" tanya Rain.


Lizzy mengangkat kedua bahunya. "Gue juga ngga tau. Handphonenya ngga aktif, pesan gue juga masih pending,"


Gadis itu melihat kecemasan di wajah kekasih sahabatnya. "Rain, kalo gue boleh saran, biarin Rea sendiri dulu. Maksud gue, jalan masing-masing aja dulu. Dia shock banget saat tau penyebab kecelakaan bokap nyokapnya itu lo dan lebih shock lagi saat tau bokap lo nutupin kasus ini. Kalo gue jadi dia, gue juga akan ngelakuin hal yang sama kok, Rain. Kayak mau ngilang aja gitu bawaannya,"


"Gue cuma mau ngucapin ulang tahun dan ngasih ini ke dia. Ada beberapa hal juga yang pengen gue omongin sama dia, Zy," kata Rain lemah.


"Gue ngerti banget. Tapi, lo ngga boleh egois dan maksa juga. Ayolah, lo harus paham posisi dia, Rain," ucap Lizzy lagi.


Rain terdiam. Pria itu tampaknya masih ingin berdebat dengan Lizzy.


"Dateng aja ke makam. Kayaknya dia di sana. Kalo lo tau diri, lo ngga akan dat-,"


"Thank you, Zy!" Rain mengecup pipi Lizzy dan membuat wajah gadis itu merona dan dia segera melajukan kendaraannya menuju tempat pemakaman.


Setibanya di pemakaman, Rain menelusuri blok demi blok area pemakaman itu. Setelah beberapa lama berputar-putar dan mencari, akhirnya dia menemukan mobil yang dia kenal berada di salah satu blok pemakaman itu.


Pria muda itu memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil sport berwarna hitam. Tak lama, dia melihat seorang gadis sedang tertidur di atas pusara dengan posisi memeluk bantal. Yang membuat Rain heran adalah, gadis itu tampak nyaman sekali berada di sana.


Rain mengusap lembut wajah gadis itu tanpa ada niat membangunkannya. "Rea, selamat ulang tahun,"


Tiba-tiba saja, gadis itu membuka kedua matanya dan beranjak dari pembaringannya. "Rain, ngapain lo ke sini?"


Di waktu yang bersamaan, Stella dan Hunter kembali bertemu. Hunter menawarkan perlindungan kepadanya dengan syarat.


"Apa syaratnya?" tanya Stella.


Hunter menyeringai lebar. "Nikmat sekali rasanya balas dendam, hehehe. Lo suka dia, 'kan? Dan lo pengen nyingkirin cewek yang namanya Rea? Gampang aja, sih sebenarnya,"


Stella mengangguk. "Gue ngga mau ngerjain macem-macem. Gue ngga mau tangan gue kotor,"


"Ngga kotor. Kalo lo tau tugas lo, gue rasa lo akan sujud di depan kaki gue cuma untuk ngucapin makasih. Hahaha!" kata Hunter.


Stella bergidik mendengar suara tawa dari pria yang memiliki banyak tindik dan tato itu. "Gue ngga pernah memuja orang. Waktu gue ngga banyak, apa yang harus gue kerjain?"


Hunter mendekat ke arah Stella dan menggumamkan sesuatu di telinga gadis itu. "Gimana? Sanggup?"


"Itu aja? Oke, gue sanggup!" tukas Stella. Otaknya segera berputar untuk mencari cara bagaimana supaya rencananya kali ini berjalan dengan lancar.


...----------------...